Showing posts with label Spanyol. Show all posts
Showing posts with label Spanyol. Show all posts

Wednesday, 4 February 2015

Setahun Sepeninggal Luis Aragones Si Bijak dari Hortaleza

Setahun sudah sosok pelatih kawakan asal Spanyol, Luis Aragones, tutup usia. Ia dikenal sebagai Si Bijak dari Hortaleza, meski kenyataannya tidak selalu seperti itu.
Sebelum meninggal di usia 75 tahun, Aragones mengantarkan tim nasional Spanyol menjuarai Piala Eropa di 2008, gelar pertama La Roja sejak 1964, dan usahanya dalam menyatukan tim menjadi juara membuat publik Spanyol menyematkan "Si Bijak" sebagai panggilan pria kelahiran Hortaleza itu.
Hortaleza sendiri merupakan salah satu dari 21 distrik yang mengelilingi ibu kota Spanyol. Di kota satelit ini, Aragones muda dikenal sebagai sosok yang kerap menyuarakan pendapatnya dengan lantang. Kebiasaan yang akan ia bawa hingga akhir hayat.
Di awal kariernya Aragones membela Getafe dan kemudian pindah ke Real Madrid, namun ia gagal menembus tim utama. Setelah mencoba peruntungan di Real Oviedo dan Real Betis, Aragones kembali ke rumah yaitu , Atletico Madrid. Bersama Los Colchoneros, ia tampil sebanyak 11 musim, lebih dari 350 pertandingan dan mencetak 172 gol.
Saat gantung sepatu, Aragones punya catatan menjuarai La Liga tiga kali dan Copa del Rey (saat itu masih Copa del Generalisimo) dua kali. Tidak butuh waktu lama baginya untuk kemudian terjun ke dunia manajerial. Pada usia 36 tahun ia beranjak menjadi pelatih dari Atletico.
Bagi para pendukungnya, Aragones adalah sosok yang memandang sepak bola dengan cara yang tidak biasa dan memahami olahraga itu lebih baik dari sebagian besar orang lain. Namun, mantan pesepak bola yang dikenal akan kekuatan tendangannya itu kerap dianggap "berbahaya" sebagai pelatih karena mudah berganti-ganti mood.
Perjalanannya dalam dunia manajerial tidak selalu sukses. Setelah menjuarai Piala Intercontinental pada musim pertama sebagai pelatih Atletico, Aragones meneruskannya dengan Piala Liga, Copa del Rey dan Piala Super Spanyol sebelum pindah ke Barcelona.
Di Catalonia, Aragones mempersembahkan satu gelar Copa del Rey di 1987/1988 tapi ia hanya bertahan satu musim bersama Barcelona setelah berada dalam tekanan konflik politik di klub tersebut.
Setelah hengkang dari Barcelona, Aragones menangani sejumlah klub di La Liga, ia juga sempat memimpin Atletico di dua periode berbeda, tapi kesuksesannya tidak sama seperti di era 1970 dan 1980-an. Hingga tibalah ia dalam salah satu momen terpenting pada kariernya ketika menjabat pelatih timnas Spanyol di 2004.
Ya, Aragones memang bukan sosok sempurna. Saat mencoba memotivasi Jose Antonio Reyes pada Oktober 2004, ia membandingkan Reyes dengan Thierry Henry yang disebut sebagai negro de mierda (kulit hitam sial).
"Anda harus percaya diri. Anda lebih baik dari negro de mierda itu," kata Aragones saat tertangkap kamera televisi, dan seketika membuat publik Eropa menghujaninya dengan kritik. Meski situasinya tidak sepanas itu di Spanyol.
Namun demikian, di balik kekurangannya ia juga punya kelebihan. Ketika jabatannya dalam bahaya jelang Piala Eropa 2008, Aragones mengambil langkah berani dengan meninggalkan Raul Gonzalez yang sebelumnya membela skuad La Roja pada Piala Dunia 2006. Ia berhasil menunjukkan Spanyol yang berbeda di 2008.
Aragones memilih membangun tim berdasarkan pragmatisme dan ingin memaksimalkan bakat yang ia punya dalam Andres Iniesta, Xavi Hernandez, Marcos Senna, Fernando Torres, David Villa, David Silva dan Sergio Ramos alih-alih membentuk para pemain itu mengikuti gaya bermain tertentu. Hasilnya adalah permainan kreatif nan enerjik dengan operan pendek yang disertai pergerakan dinamis para pemain asuhannya.
Pria kelahiran 28 Juli 1938 itu menunjukkan gaya bermain tiki-taka kepada dunia; permainan yang didominasi operan, dominasi penguasaan bola, dan sabar menunggu celah di pertahanan lawan. Di partai puncak, siapa lagi bila bukan penyerang Atletico, sekaligus anak emas Aragones, Torres, yang mencetak gol kemenangan Spanyol 1-0 atas Jerman.
Selepas turnamen tersebut, Aragones meninggalkan jabatan pelatih Spanyol dan terakhir melatih Fenerbahce di 2009. Dan lima tahun kemudian ia menghembuskan nafas terakhir di Madrid karena penyakit leukimia.
Berbagai sosok dalam dunia sepak bola dari seluruh dunia menyampaikan rasa hormat mereka kepada Aragones. Tidak terkecuali Raul. "Ia akan dikenang dalam sejarah sebagai teladan dalam sepak bola," ujarnya dikutip dari Marca.
Pada akhirnya, Aragones dikenang sebagai legenda Atletico dan salah satu pelatih terhebat yang pernah dimiliki Spanyol. Si Bijak dari Hortaleza memenuhi harapan yang ditujukan kepadanya, juga turut menyumbangkan warnanya dalam dunia sepak bola.

-Pertama terbit di Sportsatu.com (4/2).

Wednesday, 16 April 2014

Keraguan Pada Messi di Final Copa del Rey

Cristiano Ronaldo dipastikan tidak tampil membela Real Madrid untuk menghadapi Barcelona di final Copa del Rey kali ini, namun apakah Lionel Messi akan memastikan gelar jatuh ke tangan Azulgrana?

Dengan tidak adanya Ronaldo yang absen karena cedera, alasan yang harus diakui jarang terdengar darinya, Madrid harus kehilangan pemain yang digambarkan oleh Iker Casillas sebagai "pembuat perbedaan".

Sedangkan di kubu lawan, Barcelona, Messi dapat dipastikan turun sejak menit pertama. Tetapi harus diingat, performanya belakangan ini juga di bawah rata-rata, yang paling mencolok adalah pada dua pertandaingan terakhir, melawan Atletico Madrid dan Granada.

Di leg kedua perempat final Liga Champions, Messi, peraih empat kali Ballon d'Or, hanya berlari sebanyak 6,8 kilometer walau bermain penuh selama 93 menit, cuma 1,5 kilometer lebih banyak dari Jose Manuel Pinto dan jelas kalah jauh dari pencetak gol kemenangan Los Colchoneros, Koke, yang meraup 12,2 kilometer.

Operan yang dibuat Messi hanyalah 76% dengan tidak ada gol tercipta dari empat percobaan, bagi pemain sekelasnya catatan ini termasuk buruk.

Kembali ke liga, Messi diharapkan tampil lebih baik. Lawan yang dihadapinya "hanya" Granada, tim peringkat 13 dengan enam poin di atas zona degradasi.

Meski secara keseluruhan Barcelona tampil jauh lebih baik, boleh juga digolongkan kurang beruntung. Namun, yang terjadi terhadap Messi sama memfrustasikan seperti menghadapi Atletico.

Messi sukses tampil penuh, statistik sembilan kali berhasil melewati pemain sedikit mencerahkan tetapi tertutupi oleh catatan tidak ada gol dari lima kali percobaan ke gawang dan sekali lagi, operan yang dicatatkannya hanya 76%.

Memang menjadi ceroboh bila mengaitkan Messi "bosan dengan keadaan di Barcelona", seperti tutur Angel Cappa, mantan asisten manajer Blaugrana, dan mencoba mencari tantangan baru. Fase yang sedang dilaluinya saat ini pernah dialami pada awal 2014 usai cedera dan setelahnya The Messiah mampu bangkit, salah satunya mencetak hattrick melawan Madrid pada akhir Maret.

Hanya saja, waktu sedang tidak tersenyum pada Messi. Pada tahap ini tidak banyak pertandingan tersisa untuk menunggu pemain asal Argentina itu kembali ke performa yang dinantikan darinya, khususnya melawan Madrid di final Copa del Rey.

25 gol dari 26 laga La Liga memang tidak buruk, tapi tidak cukup bagus untuk Messi. Atau, laga ahad menjadi momen yang tepat bagi Gareth Bale dan Neymar tampil sebagai ikon kedua klub?

*Artikel ini pertama muncul di Sportsatu.com, Selasa (15/4/2014).

Monday, 31 December 2012

Pemain Terbaik 2012: Ronaldo dan Messi di Stoke

How's Stoke bro?


Pada 7 Januari seluruh dunia sekali lagi akan melihat siapa pemenang Ballon D’ Or, penobatan pesepak bola terbaik dunia, antara Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi.

Ronaldo mendapat gelar ini di tahun 2008 dan sejak itu Messi selalu lebih unggul di tahun 2009, 2010, dan 2011 untuk kemudian menjadi pemain termuda yang meraih penghargaan tersebut sebanyak tiga kali. Lebih hebat dari Cruyff, Platini dan Van Basten. Tahun 2012 persaingan antara model PES dan FIFA ini kembali mencuat, ada kemungkinan Iniesta hanya menjadi pelengkap, tentu hebat jika dia suatu saat mendapat apresiasi lebih atas usahanya baik di level timnas dan klub tapi imej persaingan Ronaldo versus Messi agaknya mendatangkan atensi media lebih banyak.

Memang sah-sah saja jika Messi dinobatkan kembali sebagai pemain terhebat yang pernah tercatat dalam jagat sepak bola, lagipula dia adalah anak Tuhan, alien dan kutu yang bermutasi akibat radiasi atom nuklir. Tahun 2012 mengukuhkan kemampuan mencetak golnya di lapangan hijau dengan 91 gol! Pele 76 dan Muller 85 sudah dilampaui, well, memang belum sebanyak Godfrey Chitalu tapi rasanya legenda Zambia itu pun sulit mengulang performa Messi di La Liga atau mampukah Messi melakukannya di Afrika? Kita tidak akan pernah tahu. Tidak perlu jauh-jauh dari Spanyol ke Afrika, banyak orang masih sering meragukan performa Messi bermain di Liga Inggris, mampukah dia melakukan hal yang sama seperti di Catalonia bila dia bertemu dengan Stoke di bawah guyuran hujan pada tengah pekan? Ronaldo tentu sebagai alumnus Premier League (yang katanya liga sepak bola terbaik) tidak diragukan kemampuan fisiknya beradu dengan Shawcross dkk.

Menimbulkan pertanyaan ketika Stoke menjadi standar kelayakan untuk menentukan seseorang pantas dikatakan sebagai pemain terbaik di dunia atau tidak. Mengapa tidak sekalian Messi dan Ronaldo bermain di musim hujan Stadion Benteng Tangerang? Tapi untuk kali ini anggaplah Stadion Brittania sebagai stadion berisikan bek-bek dengan tekel keras yang sanggup membuat anda berharap tidak pernah menginjakkan kaki di sana meski di La Liga sendiri juga ada sosok seperti Pepe.

Mempertemukan Stoke dan Barcelona akan menjadi sesuatu yang sangat sulit mungkin setingkat dengan realisasi proyek MRT di kota Jakarta, bisa, mungkin, dapat dilakukan, kenapa tidak, tapi sulit. Faktanya pada pertandingan tengah pekan musim 2012/2013 pasukan Toni Pullis meraih 100% rekor kemenangan berhadapan dengan Newscastle dan Liverpool. Mungkin saja Barcelona dan Messi akan mendapat nasib serupa mungkin juga tidak.

Sebagai perbandingan kita dapat menggunakan pertandingan antara Celtic dengan Barcelona karena saya yakin taktik yang akan Stoke persiapkan sebelas dua belas dengan klub Glasgow tersebut dan cuaca mereka tidak jauh berbeda. Mereka sama-sama menerapkan 4-4-2 dan gelandang tengah Whelan dan Nzonzi bisa saja berperan sebagai Wanyama dan Ledley malam itu.

Seperti yang dikatakan Zonal Marking, bermain sempit menjadi kunci melawan Barcelona yang tidak memiliki penyerang jangkung sehingga aman bila mereka harus menghalau umpan silang. Seharusnya Huth dan Shawcross mampu melakukannya. Stoke lagipula secara statistik tim yang paling sedikit kebobolan (17) diikuti oleh juara bertahan Manchester City (19). Poin vokal kedua adalah sayap Celtic tidak aktif menyerang tetapi rajin menempel Alba dan Alves. Etherington dan Whitehead bisa saja melakukannya, dengan berharap pada keberuntungan. Selain itu bergantung pada penampilan kiper sebagai palang pintu terakhir. Menurut Castrol Football, Begovic di posisi 71 mengumpulkan 736 poin atau posisi 2 sebagai penjaga gawang, performanya hanya kalah dari Steeve Elana, kiper Lille, yang memiliki poin 786. Setelah melihat dari perspektif ini mungkin saja mereka bisa menahan skuad Villanova tapi tidak Messi. Di Parkhead gol konsolasi Barcelona tetap datang dari fantasista mereka.

Beralih dari Stoke mungkin kita akan mempertanyakan Messi beruntung berada di tim yang sudah komplit, lihat bagaimana prestasinya bersama agentina, dari sini rasanya kurang adil jika tidak melihat Ronaldo dari perpektif yang sama. Real Madrid bukan hanya Ronaldo bahkan mayoritas gol Ronaldo—sama seperti Messi—lahir dari assist Ozil dan Alonso. Belum selesai di situ, Messi dibandingkan Ronaldo hanya bermain di satu klub sedangkan Ronaldo pernah bermain di Sporting Lisbon, Manchester United dan Real Madrid, di sana terbukti Ronaldo tetap menjaga kualitas. Messi tidak perlu melakukannya, tidak bila Sir Alex Ferguson dan Pep Guardiola dianggap sebagai 2 dari manajer terhebat dunia, tentu anda mengerti apa maksud saya.

Musim ini pun raihan trofi mereka berdua tidak jauh berbeda dan keduanya tidak berprestasi di level timnas. Jika sudah begini Messi kemungkinan besar kembali meraih Ballon d’Or dan pertanyaan yang sama akan muncul kembali, mampukah dia bermain melawan Stoke? Tunggu dulu, mampukah Ronaldo? Berapa banyak gol yang dia buat di pertempuran Brittania?  

Saturday, 3 November 2012

That Man, Falcao!

Surely scoring for fun


Cerutu Kolombia, kopi Kolombia, kokain Kolombia.....pesepakbola Kolombia?

Kolombia bukanlah sebuah negara yang antah berantah. Banyak alasan yang membuat Kolombia terkenal. Dari segi geografis saja Kolombia mampu menjadi daya tarik tersendiri bagi para turis. Bisa dibilang Kolombia ini seperti nasi campur, semua ada. Hutan Amazon masih termasuk menjadi bagian, begitu juga dengan pegunungan Andes dan laut Karibia. Agrikultur negara ini pun terkenal mendunia. Siapa tidak kenal dengan nama besar kopi Kolombia, apalagi cerutu Kolombia yang tampak nikmat, ah jangan lupa juga kokain Kolombia!

Bagaimana dengan persepakbolaannya? Setidaknya mereka pernah juara Copa America satu kali.

Di bagian Amerika Selatan Kolombia bukanlah produsen pemain sepakbola seperti Brazil, Argentina atau Uruguay bukan berarti membuat mereka miskin bakat sepak bola. Sebut saja nama Cordoba dari Inter, si rambut singa Valderrama, bek tua Milan Yepes, Rodallega juga kelahiran Kolombia, siapa yang bisa melupakan Juan Pablo Angel! Lalu ada kisah tragis Andres Escobar dan pemain Kolombia favorit saya, Rene Higuita, the Scorpion Kick. Prestasi sepakbola Kolombia bisa dibilang tidak buruk. Memang mereka pernah menang Copa America di tahun 2001 (dengan catatan) tetapi beberapa kali berhasil kualifikasi masuk Piala Dunia hanya berstatus sebagai tim pelengkap. Tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda di DNA tubuh timnas Kolombia. 

Dilatih oleh Pekerman, saya ingat manajer ini karena laga Argentina kontra Jerman di PD 2006, laju Kolombia terbilang bagus dengan berhasil menempati posisi ketiga berjarak empat poin dari pemuncak klasemen. Mereka bahkan diatas sensasi PD 2010 lalu,Uruguay, yang kini menjadi tim pesakitan setelah juara Copa America. Tidak sekedar posisi tiga di kualifikasi PD 2014, Kolombia kini bertengger di peringkat 9 FIFA. Sepuluh besar. Di atas Perancis juga Brazil. Siapa lagi jika bukan El Tigre, Radamel Falcao, yang telah mencetak lima gol dari lima partai terakhir Kolombia di kualifikasi Amsel menuju Brazil 2014.

Falcao menjadi pahlawan baru Kolombia. Lupakan nama Valderrama sebagai peraih caps terbanyak atau kiper eksentrik, Higuita. Dengan catatan 15 gol (terbanyak di Kolombia 25) rasanya mungkin-mungkin saja Falcao akan mencatatakan namanya di puncak daftar striker terbaik Kolombia.

Berpindah dari Kolombia menuju Spanyol. Falcao yang kini berbaju merah putih berhasil membawa Atletico Madrid untuk menempel ketat Barcelona. Persaingan Madrid dan Barcelona memang sulit terpisahkan tetapi dengan Madrid yang berbeda, siapa sangka? Atletico Madrid hanya berbeda selisih gol dan belum pernah kalah di La Liga. Sama seperti C.Ronaldo dan Messi, Falcao pun menjadi tulang punggung tim yang mencetak 10 dari 22 gol atau setara 45% gol Atletico Madrid berasal darinya, kaki kanan, kaki kiri, kepala, semua bisa.

Sebelum bermain di salah satu liga utama Eropa, La Liga, Falcao sangat impresif bersama Porto untuk meraih treble mereka. Terkadang saya berpikir faktor Falcao lebih berpengaruh daripada kemampuan taktik dari Andres Villas-Boas yang menjadikan mereka raja di Eropa (kasta dua). Bermain selama tiga musim bersama The Dragons Falcao mempunyai rata-rata 1,2 gol per pertandingan. Ada sedikit cerita bahwa pemain ini hampir saja  berlabuh di Feyenoord bila tidak dicegah oleh River Plate. Dengan bermain di La Liga kini semua orang di dunia bisa melihat gaya permainannya dan memang tidak salah jika dia dianggap sebagai salah satu striker kotak 16 terbaik untuk saat ini.

Kita tunggu dia berlabuh di klub besar, tanpa maksud meremehkan Atletico. Terlebih lagi ketika Chelsea masih merindukan kehadiran Drogba sebagai penggedor utama mereka dan performa Torres belum juga memuaskan kebutuhan gol The Blues. Bagi Falcao permainan cepat nan menguras fisik seperti Premier League tampaknya bukan suatu kendala, lagipula orang inilah yang memupus perlawanan The Blues dari Atletico Madrid di UEFA Super Cup 2012 dengan hattricknya. 

Falcao tukar Torres? Pas.