Showing posts with label Inggris. Show all posts
Showing posts with label Inggris. Show all posts

Thursday, 12 February 2015

Siapa Sih: Danny Ings

Pada Premier League matchday ke-25, Danny Ings berjibaku sendirian di daerah pertahanan Manchester United. Meski Burnley kalah 1-3 di Old Trafford tapi sang penyerang sekali lagi membuktikan mengapa dirinya begitu diminati banyak klub.
Ings tengah menjadi sensasi. Chelsea, Manchester United, Tottenham Hotspur dan Liverpool menjadi klub-klub Inggris yang dikabarkan meminati dirinya. Bahkan usaha membuatnya hengkang dari Burnley juga datang dari klub La Liga, Real Sociedad.
Tidak heran bila melihat apa yang terjadi di Old Trafford, Rabu (11/2) dini hari WIB. Ings bahkan tampil lebih bagus dari nama-nama besar seperti Radamel Falcao, Angel di Maria, Wayne Rooney, dan Robin van Persie. Bisa dikatakan jika tim tamu bertahan dengan layak, Burnley mungkin dapat membawa pulang poin dari Manchester.
Meski demikian, kehebatan Ings tidak kemudian muncul dalam semalam. Pria berusia 22 tahun itu tampil konsisten sebagai penyumbang gol the Clarets dengan sembilan gol (empat terjadi di lima laga terakhir) dan empat asis dari 22 kali bermain di Premier League.
Torehan tersebut membuatnya sebagai pemain Inggris keempat yang paling tajam di musim 2013/2014. Charlie Austin dan Harry Kane sama-sama telah membukukan 13 gol, sedangkan Saido Berahino punya 10 gol, lalu ada nama Ings pada urutan berikutnya.
Namun yang membuat Ings dianggap lebih berperan di lini depan adalah pergerakan tanpa bola, jumlah kesempatan yang berhasil dan operan-operan yang ia berikan kepada rekan-rekannya. Singkatnya, kehadiran penyerang timnas U-12 Inggris itu turut menghidupkan pemain lain di lini depan.
Kini tengah hangat diperbincangkan penyerang keempat yang dapat masuk ke skuad tim nasional Inggris. Manajer Roy Hodgson telah dipastikan menggunakan jasa kapten Wayne Rooney dan Daniel Sturridge sebagai dua pemain di lini depan, dan melihat performa para penyerang Inggris belakangan ini maka Kane akan mengisi pelapis pertama, tapi posisi penyerang keempat diperebutkan oleh setidaknya empat pemain.
Austin, Berahino, Ings dan Danny Welbeck muncul sebagai nama yang siap membuat pusing Hodgson untuk memilih salah satu dari mereka. Celakanya bagi Burnley, jika pemain nomor 10 mereka terpilih maka status Ings sebagai pemain berkualitas pun akan semakin meyakinkan para klub yang lebih besar untuk mengajukan tawaran.
Saat ini tim asuhan Sean Dyche berada di peringkat 18 dengan 13 laga tersisa di Premier League. Kemungkinan degradasi sangat besar terjadi pada tim promosi yang satu ini, tapi bila bertahan pun kuasa untuk menahan Ings tetap bermain di Turf Moor musim depan terbilang kecil.
Jika di Januari muncul begitu banyak tim yang memantau diri Ings, maka persoalan klub mana yang mendapatkan tanda tangannya ketika jendela transfer kembali dibuka pada Juli hanya tinggal menunggu waktu.

-Pertama terbit di Sportsatu.com (13/2).

Monday, 3 November 2014

Man. United Punya Satu Tugas dan Mereka Gagal Melakukannya

Dari jauh-jauh hari sebelum derby Manchester, Manchester United sudah tahu tugas utama yang harus mereka lakukan saat bertandang melawan Manchester City, meski begitu tim asuhan Louis van Gaal tetap saja gagal melakukannya.

Oke, mungkin tidak benar-benar satu tugas. Tapi, bila yang satu ini gagal maka yang lain menjadi tidak berarti. Tugas yang dimaksud adalah menjaga pergerakan sumber gol Man. City, Sergio Aguero.

Kompatriot Aguero di Man. United, Marcos Rojo, sadar akan pentingnya hal tersebut. Toh, mantan menantu Diego Maradona itu memang akan selalu disorot. Sebelum derby dilangsungkan, ia telah mencetak 15 gol bagi the Citizens dari 16 pertandingan di seluruh kompetisi.

9 dari 15 gol itu dilesakkan di Premier League, membuat Aguero memiliki rataan 1 gol per laga dan pemain paling penting Man. City, sebab 47% gol yang dicetak legiun Manuel Pellegrini berasal dari pemain timnas Argentina ini.

"Ia sangat bagus dalam bergerak ke dalam posisi-posisi berbahaya. Anda harus sangat fokus dan berkonsentrasi menjaga pergerakannya dan mengetahui di mana ia berada dan kemungkinan celah yang ingin ia tuju. Anda harus melakukannya selama 90 menit," ujar Rojo dikutip dari BBC.

Sayangnya, Rojo tidak tahu ia hanya akan bertahan selama 55 menit, dan semakin tidak membantu ketika Chris Smalling melupakan tugas lainnya.

Dalam konferensi pers terakhir Man. United sebelum derby, Van Gaal sudah mewanti-wanti, "Kami tidak ingin kartu merah karena akan sangat sulit menang 11 vs 10 dan itu menjadi bagian dari persiapan kami."
38 menit pertandingan berjalan Smalling dikeluarkan wasit karena mendapatkan dua kartu kuning. Itu pun dengan dua kali pelanggaran yang membuat kata "bodoh" masih terlalu sopan dalam mendeskripsikannya.

Namun demikian, Rojo tetap menepati omongannya. Ia benar-benar menjaga penyerang Sky Blues itu, mengikuti pergerakannya. Pertahanan tinggi Man. United yang meninggalkan celah di belakang sebenarnya menguntungkan Aguero yang memiliki kecepatan tersebut tapi eks Sporting Lisbon menempelnya seperti pasangan yang baru jadian, tidak bisa lepas.

Hingga mimpi buruk Man. United datang di menit ke-55, Rojo mengalami cedera dislokasi bahu dan Aguero mendapatkan ruang untuk bergerak.

Sebelum Rojo ditandu keluar, Aguero "hanya" melakukan empat take ons dan tiga tembakan, dalam kurun waktu 30 menit kemudian sampai ia digantikan oleh Fernandinho, pesepak bola berusia 26 tahun berhasil hampir menggandakan kedua statistik itu menjadi tujuh take ons dan lima tembakan serta berhasil mencetak satu gol berselang enam menit setelah Rojo cedera.

Paddy McNair yang masuk menggantikan Rojo gagal mengikuti pergerakan Aguero di kotak penalti dan begitu pun Michael Carrick yang menjadi duet dadakannya. Maklum, saat gol terjadi barisan belakang Man. United dihuni satu pemain saya, satu gelandang bertahan dan dua bek berusia 19 tahun.

Diawali umpan terobos tajam dari Yaya Toure ke Gael Clichy, mantan bek Arsenal itu tidak buang waktu dan langsung mengirim umpan mendatar ke tengah yang disambut Aguero dengan sepakan keras. 1-0!

Berkat gol tersebut semakin menjadi-jadilah status Aguero sebagai predator berbahaya di dalam kotak penalti, terbukti dari 10 gol dari 10 laga Premier League ia hanya mencetak satu gol dari luar kotak terlarang.

Di sisa 15 menit terakhir Pellegrini memilih bermain berhati-hati mengingat tiga pertandingan sebelumnya berakhir tidak maksimal dan melindungi keunggulan mereka daripada mencoba menambah gol. Namun, lini depan Man. United pun tidak bisa berbuat banyak dengan penampilan Robin van Persie yang dibawah rata-rata.

Lalu, apakah ada sisi positif dari kegagalan Man. United menjalankan tugasnya? Tentu ada, the Red Devils boleh bergembira hanya kebobolan satu gol.

Thursday, 18 September 2014

Cerita Panjang Pardew yang Singkat dengan Newcastle

Dua musim lalu Alan Pardew adalah pahlawan bagi Newcastle United, ia membawa Magpies mencapai "prestasi" terbaik mereka sejak 1996-1997, tapi sekarang ia menjadi antagonis bagi Toon Army.

Cerita antara Pardew dan Newcastle memang tidak berjalan baik sejak ia menginjakkan kaki di sana. Lagipula manajer mana yang ingin berada di posisinya saat itu, menggantikan Chris Hughton di pertengahan musim, manajer yang membawa tim berseragam hitam-putih itu promosi--dengan hanya empat kali kalah di divisi Championship--dan pemecatannya tidak dapat dipungkiri menjadi hasil dari keputusan mengejutkan. Banyak pihak yang mengecam keputusan Mike Ashley kala itu.

Beruntung bagi Pardew, ia sukses menjalani pertandingan pertamanya. Bahkan bisa dikatakan terlalu manis--manis diabetes?--Newcastle menang 3-1 atas Liverpool di kandang sendiri dan perlahan rasa kesal atas kepergian Hughton mereda. Puncaknya terjadi pada musim penuh pertama Pardew, di 2011/2012.

Pria yang pernah bekerja sebagai tukang kaca itu memberikan musim terbaik Newcastle sejak 17 tahun silam ketika mereka finis sebagai runner-up Premier League. Pardew terbang tinggi, ia membawa timnya melaju 11 pertandingan tidak terkalahkan di seluruh kompetisi dan menutupnya dengan menduduki peringkat kelima di akhir musim sekaligus mendapatkan tiket ke Eropa.

Fantastis! Apa yang lebih fantastis dari itu? Pardew memenangkan gelar Manajer Terbaik 2011/2012. Tidak diragukan lagi, para suporter Newcastle pun terbuai dengan hal tersebut dan kontroversi penunjukkannya di Desember 2009 yang lalu pun menguap.

Tunggu dulu, bahkan ada yang lebih fantastis, ia mendapatkan perpanjangan kontrak dari Ashley--bukan empat musim seperti yang diberikan Aston Villa kepada Paul Lambert baru-baru ini--tapi delapan musim.

Ya, delapan musim. Artinya hingga 2020.

Akan tetapi, angin di puncak bukit bertiup terlalu kencang, para pemain andalan Newcastle satu per satu lepas dari genggaman Pardew dan begitu juga dengan performa timnya yang lalu menurun.

Puncaknya setelah ditinggal Yohan Cabaye menuju Paris Saint-Germain di Desember 2013, The Toon lesu bahkan mereka harus berjuang menjauhi zona merah pada akhir musim. Singkat cerita mereka berhasil dan masuklah musim baru, mulai dari nol.

Tujuh pemain didatangkan pada transfer jendela musim panas untuk menjaga agar Newcastle tidak kembali terbelit situasi musim lalu, nama-nama yang cukup kece pula, seperti: Remy Cabella, Siem de Jong, Emmanuel Riviere dan salah satu pemain yang namanya cukup sering terdengar di Piala Dunia, Daryl Janmaat. Optimisme pun timbul.

Namun, yang namanya kenyataan memang sering berjalan beda dari keinginan--iya, klise--dan rival dari Sunderland ini justru terdampar di dasar klasemen. Hasil dari dua kali seri dan dua kali kalah.

Seketika suporter Newcastle teringat bahwa Pardew memang bukan sosok favorit di antara mereka. Toh, di hari penunjukkannya sebagai manajer di klub itu ia hanya mendapat persetujuan dari 5,5% suporter, sebegitu tidak populernya.

Hal ini mengingatkan pada Hamburg SV. Kondisi kedua klub, secara performa, tidak jauh berbeda. The Dinosaurs terperosok ke bagian bawah klasemen ketika ditangani oleh Bert van Marwijk, kemudian Mirko Slomka datang dan berhasil lolos dari degradasi, meski harus melalui play-off. Tapi, pria yang sama gagal mengangkat permainan tim asuhannya musim ini dan ia didepak setelah sekali seri dan dua kali kalah. Sama seperti Newcastle, die Rothosen menduduki peringkat terakhir.

Bila manajemen Hamburg memutuskan bergerak cepat demi menghindari skenario yang terjadi musim lalu, Ashley sebagai pemilik klub bertahan dengan Pardew. Mungkin besarnya kompensasi dari kontrak super panjang menjadi pertimbangan? Mungkin saja, mengingat ia sebagai pribadi yang "perhitungan".

Hanya saja pada banyak klub suara suporter cukup menentukan dan melihat bagaimana vokalnya para suporter Newcastle usai tim kesayangan mereka digilas 0-4 oleh Southampton di St. Mary's, nasib Pardew sangat mungkin bergantung pada skor akhir pekan ini ketika Magpies melawan Hull City di St. James Park, bukan tidak mungkin hari-hari Pardew di Tyneside berakhir lebih cepat dari kontraknya.

Lagi pula, posisi manajer di dunia sepak bola persis seperti kata Sam Longson kepada Brian Clough:
"Last of all, bottom of the heap, the lowest of the low, comes the one who in the end we can all do without, the f******g manager."

Monday, 10 February 2014

Moyes yang Menyilang dengan Salah

Bukan salah jawab, lebih tepatnya salah baca soal

Manchester United kali ini memang tidak kalah, tapi bukan berarti tidak kalah mengecewakan. Bukan karena permainan negatifnya tapi justru karena ketidakmampuan Manchester Merah beradaptasi dengan jalannya pertandingan. Skor akhir tertulis 2-2, dengan gol Darren Bent menceploskan bola ke gawang tanpa kawalan--David De Gea lagi tiduran (jatuh)--di menit 94. 94 dari 95 men!

Jadi begini, bagi yang kebetulan tidak melihat pertandingan melawan tim asuhan Rene Meulensteen, Man. United sama sekali tidak bermain buruk, kecuali lini belakang yang tidak bisa dihitung karena mereka memang buruk sejak awal musim. Penguasaan bola Setan Merah mencapai 75%, mereka melakukan lebih dari 700 operan berbanding 200-an, diantaranya 82 umpan silang harus diakui semua tampak berjalan mulus tapi, dan ini penting, hanya 18 yang mencapai sasaran. Tanpa satu pun yang berhasil dikonversi menjadi gol.

David Moyes mengingatkan saya dengan anak kuliahan yang belajar kebut semalam sebelum ujian. Entah apa yang dan stafnya persiapkan namun mereka tampak tidak punya rencana cadangan. Mungkin mereka terlalu banyak bermain FIFA dan hanya mempelajari satu bab dari sekian banyak yang ditugaskan oleh dosen, mereka tidak menyiapkan jawaban yang cocok dengan pertanyaan dari Pak Dosen Meulensteen, sehingga apa pun soalnya jawabannya selalu, "serang dari samping" atau agar sedikit variasi "umpan silang", meski keduanya toh sama saja, sama-sama salah.

Memang kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Moyes, suksesor Sir Alex Ferguson ini mungkin terpengaruh karena banyaknya jumlah pemain sayap Man. United yang bisa beroperasi sebagai sayap. Lumrah jika eks gaffer Everton itu mengira bermain dari samping berarti mengandalkan umpang silang. Padahal tidak selalu begitu.

Ferguson pun yang identik dengan permainan sayap konvensional pernah memiliki Cristiano Ronaldo, jelas pemain Portugal itu bukan orang yang paling sering mengirim umpan silang, atau formasi tiga penyerang mengandalkan Ronaldo, Wayne Rooney dan Carlos Tevez. Setelah melewati masa David Beckham baru memasuki era Luis Nani, Ashley Young dan Antonio Valencia kemudian Man. United kembali memperbanyak jumlah operan silang mereka. Bukan berarti Moyes harus terpaku pada hal itu.

Ingat, manajer yang baru ini membeli Juan Mata, yang sebenarnya lebih merupakan pemain nomor 10, begitu pun adanya Shinji Kagawa. Mereka bisa menyalurkan bola dari tengah dengan bola-bola pendek mengingat Paul Scholes tidak ada lagi untuk mengirim bola jauh dari belakang mungkin langkah menaikan titik vokal serangan agak ke depan bisa dicoba sebagai variasi.

Sayangnya Mata punya potensi menjadi Juan Veron kedua, setidaknya jika musim depan tidak ada perubahan berarti dari segi taktik. Saya bisa tebak bila Moyes tinggal di Tangerang Selatan dan harus ke Bandung dia akan bersikeras melewati tol JORR meski harus bermacet-macetan karena perbaikan jalan tol sekitar Pasar Minggu, harus ada yang mengingatkannya bahwa sedikit memutar lewat tol dalam kota tak apa, jauh lebih lancar (bukan di jam pulang-pergi kantor), asal mau coba. 

Pada akhirnya, Moyes menyilang jawaban yang salah, karena menjawab soalnya dengan mengisi bundaran yang tersedia, jangan lupa pensil 2B-nya.

Thursday, 2 January 2014

Musim Man. United Buruk? Yang Benar Saja


"Jadi pindah?" "Bebas, gue ngikut aja"
Manchester United adalah Sir Alex Ferguson, cerita sukses mereka memang bisa dirunut dari masa kepemimpinan Sir Matt Busby tapi Man. United tidak akan menjadi brand mendunia jika bukan karena tangan besi penjelajah Skotlandia tersebut, yang pertama disebut, tentu saja. Era Premier League menjadi penanda masa keemasan bagi Setan Merah dan pendukungnya, setidaknya sampai Fergie memutuskan pensiun.

Berganti masa memang tidak mudah, bagi siapa pun, bagi apa pun, sama halnya untuk Man. United. Mengarsiteki klub tersukses di Inggris ini bukan seperti mengganti baterai habis. Satu orang Skotlandia tidak sama dengan orang Skotlandia lainnya. David Moyes “naik jabatan”. Dari seorang kandidat suksesor menjadi pemangku jabatan baru yang meneruskan kiprah Ferguson, setidaknya begitu rencananya.

Tapi nyatanya tidak semudah itu. Semasa jabatannya di Everton memang beberapa kali Moyes menjadi musuh yang sulit ditaklukkan oleh Man. United di Goodison Park. Hanya saja curriculum vitae sependek itu bisa jadi, belum cukup, hal inilah yang ditakutkan oleh suporter, pendukung, penggemar The Red Devils. Toh Moyes memang belum pernah juara apa pun, beda halnya dengan Ferguson kala menginjakkan kaki di Manchester.

Entah keputusan Ferguson menunjuk Moyes benar atau salah, adalah pertanyaan yang sulit, sukar dijawab, bahkan diterawang oleh Mama Lauren sekali pun. Jika dinilai dari setengah musim pertamanya tentu saja jawabannya mantan pemain Glasgow Celtic itu orang yang salah, Old Trafford yang diagung-agungkan menjadi Teater Mimpi Buruk. Namun, saya bosan bicara tentang itu, apabila Anda mencari jawaban, saya punya untuk sementara ini. Bilang saja, “Sir Alex juga ngga langsung sukses kali!”. Padahal kita tahu kondisi saat itu dan ini jauh berbeda, berdoa saja lawan bicara Anda bukan penggemar sejarah sepak bola.

Ini yang coba saya tulis, saya adalah penggemar Man. United walau harus diakui bukan yang paling fanatik. Bagi saya sepak bola terlalu indah untuk ditujukan pada satu klub saja, apalagi yang berada nun jauh di sana. Bukan berarti saya tidak peduli dengan keterpurukan Manchester Merah itu: terancam tidak bermain di Liga Champions musim depan, pertahanannya yang rapuh, bersaing dengan klub yang biasa berada di papan tengah seperti Newcastle United, Everton, Tottenham Hotspur (dengan Tim Sherwood, yang baru beberapa pertandingan menjadi manajer), dan kalah empat kali di Old Trafford pada setengah musim tidak bisa dibilang pengalaman untuk dikenang. Hanya saja, ada hikmah di balik setiap kejadian. Oke, yang barusan itu klise tapi lihat dari sudut pandang ini.

Anda telah dimanjakan oleh Sir Alex. Tidak pernah keluar dari tiga besar sepanjang perjalanan Premier League, curang menurut teman-teman Anda yang pendukung Liverpool. Boleh dibilang seperti memakai gameshark. Meski ada kalanya di awal musim terombang-ambing tapi dalam hati Anda selalu ada rasa nyaman, dari kepastian bahwa Anda percaya Sir Alex mampu dan tidak akan mengecewakan Anda. Well, tidak ada lagi Sir Alex. Tidak ada lagi jaminan prestasi. Apabila Manchester United adalah Sir Alex, maka yang kita tonton setiap pekan di 2013/2014 ini apa? Ini juga Manchester United, yang lebih asik. Lebih gila. Yang bukan membuat Anda berdecak kagum tapi berteriak kesal. “aduh” “yaelah” “kok gitu dah” “EVRA!”, dan lain-lain. Bila sebelumnya Anda menantikan menit-menit akhir sebagai Fergie Time saya yakin kini Anda menjadi was-was ketika Moyes Time tiba.

Daripada menyesali Anda memilih merah sebagai warna Anda, ada cara lain yang lebih mudah. Jangan dilawan. Enam kemenangan berturut-turut bukanlah apa-apa, dulu, manisnya tiga poin hanya dibicarakan ketika melawan empat-lima tim teratas, dulu, tapi kini berhadapan dengan Hull City sudah bisa membuat Anda olahraga jantung. Anda tidak lagi dihibur secara Hollywood dengan happy ending-nya, selamat datang di festival film indie komunitas film pendek antar mahasiswa, yang di dalamnya ada selipan, “idenya bagus nih tapi …”

Anda dihadapkan pada proses, bukan lagi hasil akhir. Anda belum terlambat, lihat proses Adnan Januzaj sebuah bakat bersinar Eropa yang harus bertranformasi dalam tim terpuruk ini, lihat perjalanan karier Shinji Kagawa yang tampil terbatas di tim terpuruk ini, Wayne Rooney yang berkorban menekan egonya dan lebih banyak bermain jemput bola demi tim terpuruk ini, Robin van Persie yang kini mulai cedera di tim terpuruk ini. Catat semua hal-hal yang tidak buruk itu dan rayakan semua kesuksesan kecilnya, cetak gol melawan Newcastle sama manisnya melawan Liverpool, melewati posisi Spurs sama bagusnya menghadapi Chelsea. Semua yang kecil ini menjadi besar sekarang.

Musim yang mengecewakan? Tidak juga. Setiap pekan menjadi pertandingan besar yang pantas dinantikan. Kesalahan apa lagi yang dibuat Jonny Evans Cs. di belakang, masihkah David Moyes ragu memasangkan Kagawa sebagai playmaker, kapan Wilfried Zaha turun sebagai starter, apa jalan keluar yang bisa membuat semua potensi pemain ini menjadi poin-poin berhadiah tiket Liga Champions, semua lelucon ini begitu buruk hingga akhirnya menjadi lucu, pantas ditertawakan. Musim yang menghadirkan senyum tawa, ya, itu dia.

Thursday, 28 February 2013

Rafa Who?

Pardon, did you say something?
Artikel ini mengenai tanggapan atas komentar Rafael Bernitez terhadap suporter dan manajemen Chelsea. Lengkapnya bisa dilihat di sini.

Sunday, 10 February 2013

Nasib City Bergantung Pada United


Waiting for Mou?


Kekalahan pada Sabtu (9/2) membuat jarak antara Manchester United dan Manchester City melebar hingga 9 poin. Sekali lagi pertanyaan yang muncul sanggupkah Mancini membawa Manchester City mempertahankan gelar juara?

Saat artikel ini ditulis pertandingan antara Manchester United dan Everton belum dimulai, masih segar di ingatan bagaimana jarak 8 poin musim lalu justru menjadi beban bermula dengan seri 4-4 melawan Everton. Jika MU menang maka melebar menjadi 12 poin, bisa dibilang ejakulasi dini dan bila United kalah jarak 9 poin bukan hal yang tidak mungkin terkejar, namun dengan syarat tertentu.

Musim lalu memang dramatis, penantian 33 tahun City akhirnya terbayar seperti layaknya adegan ending di film Hollywood tetapi yang harus diperhatikan adalah sesuatu yang instan (gelontoran £481,3 juta) tidak akan bertahan lama. Hasil kalah 3-1 dari Southampton seperti mengukuhkan hal tersebut.

Inilah skenario yang harus terjadi andai City menjadi juara. Menurut sejarah EPL, poin terendah yang pernah di dapat tim untuk mengangkat trofi juara Inggris adalah 78. Kejadian ini hanya terjadi 1 kali, di musim 97/98, dimana Arsenal berada di tempat teratas dengan catatan menang 23 seri 9 dan kalah 6. Itu adalah batasan yang tidak boleh dilewati City yang sampai pekan 26 ini menang 15 seri 8 dan kalah 3, secara statistik kita bicara mengenai 10 poin cadangan untuk setidaknya menyamai rekor poin juara terendah tersebut, itu pun seperti sulitnya seperti berharap Jakarta bebas banjir.

Jika melihat poin Manchester City pada musim 2011-2012, Anda menyadari masa itu City menampilkan performa luar biasa bahkan yang terbaik sepanjang sejarah klub biru Manchester tersebut di liga Inggris. Dapat disimpulkan agar gelar tersebut tidak pindah tangan ke tetangga mereka maka Man.City harus bermain lebih baik dari musim lalu di sisa 12 pertandingan ke depan.

Dari sisa pertandingan City 5 di antaranya harus berhadapan dengan 7 besar Liga Inggris (kecuali diri mereka sendiri dan Arsenal), diawali menjamu Chelsea pekan depan, lalu sisanya bertandang ke Old Trafford, Goodison Park, White Hart Lane dan Liberty Stadium dimana mereka harus meraih poin maksimum. Berbeda dengan City, United bermain melawan 5 dari 7 tim tersebut (termasuk Everton) lebih banyak di kandang dan hanya menyisakan 1 partai tandang di Emirates.

Manchester United
Manchester City

Statistik di atas berawal sejak era Sheikh Mansour, terlihat ketika City juara perolehan poin hingga pekan 19 mereka lebih tinggi dari United, itu satu hal yang kita semua kini tidak terjadi dan rekor poin pergantian tahun United juga sama sekali tidak membantu meringankan beban City. Selain itu selisih gol yang musim lalu menjadi keunggulan City dari United tidak terulang lagi di musim ini, perbedaan cukup signifikan terdapat di lini depan terlihat saat musim lalu di pekan 26 City berhasil membuat 67 gol hanya 19 kemasukan menghasilkan selisih 48 gol dan musim ini hanya berselisih 24 dari 48 gol dan 24 kebobolan.

Tetapi jika ini bisa menimbulkan harapan fans City, konsentrasi United masih terpecah karena harus berlaga di UCL selain itu Everton terbukti merupakan tim yang sulit dikalahkan United dan, ini yang terpenting, bola itu bundar atau kalimat yang terakhir ini seperti terdengar putus asa?  Mungkin coba lagi musim depan kalau begitu.

Sunday, 3 February 2013

Setelah Ba Sambutlah Sissoko

Newcastle's new boy

Jika Anda diajak bertaruh antara untuk menebak pemenang antara juara Championship 2010 dan juara UCL 2012, kemungkinan besar taruhan Anda berada di tangan juara Eropa, jangan takut, Anda belum gila.

Bertanding melawan Chelsea, keadaan Newcastle tidak begitu baik, lihat saja catatan semusim 2011/2012 ketika bermain sampai pekan 24 mereka berada di peringkat 5 dan sebelum menyelesaikan pertandingan ini Magpies bertengger di urutan 15, jauh dari penampilan musim lalu. Tetapi siapa kira pertandingan ini akan menjadi begitu menghibur.

Hanya menang 1 dari 6 pertandingan terakhir di Liga Inggris mengumpulkan 3 dari kemungkinan 18 poin dan hanya berjarak 4 poin dari zona degradasi, manajemen pun mengambil langkah cepat untuk memperbaiki peringkat dibutuhkan dengan mendatangkan legiun Perancis sebagai tim gawat darurat terdiri dari 5 pemain dengan total transfer € 21,2 juta.

Ketika Demba Ba yang hingga tengah musim telah mencetak 13 dari 25 gol Newcastle dilepas ke Chelsea maka pengganti pun diperlukan karena di lini depan selain Cisse (5 gol) hanya ada nama Ameobi (1) sebagai pencetak gol dan beruntung salah satu amunisi terbaru Newscastle bernama Moussa Sissoko, bintang pertandingan kali ini dengan rating 8,9 versi whoscored.

Secara postur tubuh, antara Ba dan Sissoko tidak jauh berbeda, dilihat dari tinggi badan Ba (189) dan Sissoko (187) hanya berbeda 2 cm. Memang Sissoko baru bermain 2 pertandingan tapi peranannya krusial dilihat dari persentase golnya 100% (2 dari 2) dan memiliki akurasi operan 80% berbanding dengan 78,3% milik Ba. Posisi Sissoko yang mengisi celah di belakang Cisse membuat perannya lebih all round juga memungkinkan dia memberi 1 assist (50%) sedangkan Ba tidak pernah, dilihat dari perbandingan duel udaranya dengan Ba yang menempati posisi ujung tombak tidak jauh berbeda dari angka rata-rata 2,5:2,9.

Di babak pertama selain Ba cedera dan gol Gutierrez yang melompat praktis tanpa hadangan berarti semua aksi lain terjadi di babak kedua. Kita melihat harapan setelah Torres tampil dan angin bertiup segar bagi tim Rafa Benitez setelah comeback berkat 2 gol fantastis ala PES dari Lampard juga Matta, Anda dapat merasakan adanya adrenalin rush di kubu The Blues dan jika prosesi gol tersebut tidak membuat Anda bersemangat maka Anda diwajibkan konsultasi ke On Klinik.

Namun seperti Chelsea yang berhasil menang di Camp Nou silam, tidak ada yang mengira mental pemain Newcastle akan sanggup bertahan bahkan balik melawan. Pertandingan sempat memanas antara Cisse dan Cole juga Pardew dan Benitez. Sejak skor 1-2 lini tengah kedua tim menjadi sedikit sekali mendapat bola, Newcastle memanfaatkan umpan-umpan direct yang ternyata ampuh, kedua bek sayap Chelsea kelimpungan menghadapi kecepatan pemain Gouffran juga Sissoko hingga akhirnya kurang dari 5 menit sebelum peluit ditiup andalan baru Newcastle ini membuat saya menonton pria bergelambir loncat-loncat kegirangan.

Ada kemungkinan Chelsea bisa mencuri poin di pekan ke 25 ini jika Ba dan Torres menghasilkan lebih dari 1 shot on goal, ya, hanya 1 sepanjang 90 menit. Bahkan yang namanya kedua saya sebut tidak memberi satu shot sekali pun. Selain Sissoko, menurut saya pemain kedua terbaik di lapangan malam itu pun bukan pemain dari Chelsea melainkan Santon yang memberikan 2 assist (Gutierrez dan Sissoko).

Memang terlalu dini menyimpulkan Sissoko akan tampil sebagai idola baru Toon Army namun melihat dampak yang diberikan serta biaya transfer yang hanya sebesar € 2,5 juta sepertinya Toon Army harus kembali banyak berterima kasih kepada Graham Carr. Berapa Sissoko yang bisa Chelsea beli bila ditukar dengan 1 Torres?

Monday, 31 December 2012

Pemain Terbaik 2012: Ronaldo dan Messi di Stoke

How's Stoke bro?


Pada 7 Januari seluruh dunia sekali lagi akan melihat siapa pemenang Ballon D’ Or, penobatan pesepak bola terbaik dunia, antara Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi.

Ronaldo mendapat gelar ini di tahun 2008 dan sejak itu Messi selalu lebih unggul di tahun 2009, 2010, dan 2011 untuk kemudian menjadi pemain termuda yang meraih penghargaan tersebut sebanyak tiga kali. Lebih hebat dari Cruyff, Platini dan Van Basten. Tahun 2012 persaingan antara model PES dan FIFA ini kembali mencuat, ada kemungkinan Iniesta hanya menjadi pelengkap, tentu hebat jika dia suatu saat mendapat apresiasi lebih atas usahanya baik di level timnas dan klub tapi imej persaingan Ronaldo versus Messi agaknya mendatangkan atensi media lebih banyak.

Memang sah-sah saja jika Messi dinobatkan kembali sebagai pemain terhebat yang pernah tercatat dalam jagat sepak bola, lagipula dia adalah anak Tuhan, alien dan kutu yang bermutasi akibat radiasi atom nuklir. Tahun 2012 mengukuhkan kemampuan mencetak golnya di lapangan hijau dengan 91 gol! Pele 76 dan Muller 85 sudah dilampaui, well, memang belum sebanyak Godfrey Chitalu tapi rasanya legenda Zambia itu pun sulit mengulang performa Messi di La Liga atau mampukah Messi melakukannya di Afrika? Kita tidak akan pernah tahu. Tidak perlu jauh-jauh dari Spanyol ke Afrika, banyak orang masih sering meragukan performa Messi bermain di Liga Inggris, mampukah dia melakukan hal yang sama seperti di Catalonia bila dia bertemu dengan Stoke di bawah guyuran hujan pada tengah pekan? Ronaldo tentu sebagai alumnus Premier League (yang katanya liga sepak bola terbaik) tidak diragukan kemampuan fisiknya beradu dengan Shawcross dkk.

Menimbulkan pertanyaan ketika Stoke menjadi standar kelayakan untuk menentukan seseorang pantas dikatakan sebagai pemain terbaik di dunia atau tidak. Mengapa tidak sekalian Messi dan Ronaldo bermain di musim hujan Stadion Benteng Tangerang? Tapi untuk kali ini anggaplah Stadion Brittania sebagai stadion berisikan bek-bek dengan tekel keras yang sanggup membuat anda berharap tidak pernah menginjakkan kaki di sana meski di La Liga sendiri juga ada sosok seperti Pepe.

Mempertemukan Stoke dan Barcelona akan menjadi sesuatu yang sangat sulit mungkin setingkat dengan realisasi proyek MRT di kota Jakarta, bisa, mungkin, dapat dilakukan, kenapa tidak, tapi sulit. Faktanya pada pertandingan tengah pekan musim 2012/2013 pasukan Toni Pullis meraih 100% rekor kemenangan berhadapan dengan Newscastle dan Liverpool. Mungkin saja Barcelona dan Messi akan mendapat nasib serupa mungkin juga tidak.

Sebagai perbandingan kita dapat menggunakan pertandingan antara Celtic dengan Barcelona karena saya yakin taktik yang akan Stoke persiapkan sebelas dua belas dengan klub Glasgow tersebut dan cuaca mereka tidak jauh berbeda. Mereka sama-sama menerapkan 4-4-2 dan gelandang tengah Whelan dan Nzonzi bisa saja berperan sebagai Wanyama dan Ledley malam itu.

Seperti yang dikatakan Zonal Marking, bermain sempit menjadi kunci melawan Barcelona yang tidak memiliki penyerang jangkung sehingga aman bila mereka harus menghalau umpan silang. Seharusnya Huth dan Shawcross mampu melakukannya. Stoke lagipula secara statistik tim yang paling sedikit kebobolan (17) diikuti oleh juara bertahan Manchester City (19). Poin vokal kedua adalah sayap Celtic tidak aktif menyerang tetapi rajin menempel Alba dan Alves. Etherington dan Whitehead bisa saja melakukannya, dengan berharap pada keberuntungan. Selain itu bergantung pada penampilan kiper sebagai palang pintu terakhir. Menurut Castrol Football, Begovic di posisi 71 mengumpulkan 736 poin atau posisi 2 sebagai penjaga gawang, performanya hanya kalah dari Steeve Elana, kiper Lille, yang memiliki poin 786. Setelah melihat dari perspektif ini mungkin saja mereka bisa menahan skuad Villanova tapi tidak Messi. Di Parkhead gol konsolasi Barcelona tetap datang dari fantasista mereka.

Beralih dari Stoke mungkin kita akan mempertanyakan Messi beruntung berada di tim yang sudah komplit, lihat bagaimana prestasinya bersama agentina, dari sini rasanya kurang adil jika tidak melihat Ronaldo dari perpektif yang sama. Real Madrid bukan hanya Ronaldo bahkan mayoritas gol Ronaldo—sama seperti Messi—lahir dari assist Ozil dan Alonso. Belum selesai di situ, Messi dibandingkan Ronaldo hanya bermain di satu klub sedangkan Ronaldo pernah bermain di Sporting Lisbon, Manchester United dan Real Madrid, di sana terbukti Ronaldo tetap menjaga kualitas. Messi tidak perlu melakukannya, tidak bila Sir Alex Ferguson dan Pep Guardiola dianggap sebagai 2 dari manajer terhebat dunia, tentu anda mengerti apa maksud saya.

Musim ini pun raihan trofi mereka berdua tidak jauh berbeda dan keduanya tidak berprestasi di level timnas. Jika sudah begini Messi kemungkinan besar kembali meraih Ballon d’Or dan pertanyaan yang sama akan muncul kembali, mampukah dia bermain melawan Stoke? Tunggu dulu, mampukah Ronaldo? Berapa banyak gol yang dia buat di pertempuran Brittania?