Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

Tuesday, 25 November 2014

Jelang Akhir Tahun, Waktunya Candu Merah-Putih

Jelang akhir tahun seperti ini, saat hujan lebih sering turun, biasanya masyarakat sepak bola Indonesia; saya, Anda, mereka, kerap dibuat mabuk oleh candu. Candu ini berwarna merah, dan putih.

Candu yang membuat pikiran melayang tinggi, beranjak dari derasnya hujan yang menggenani jalan-jalan besar di ibu kota, menyembunyikan lubang-lubang, dan dengan usilnya mengetuk atap rumah. Candu yang sedikit mengalihkan perhatian dari penatnya obrolan panas tentang kenaikan bahan bakar atau bobroknya pemerintahan.

Ada dua, merah dan putih, candu itu. Berbeda pula gunanya.

Yang merah, memacu adrenalin Anda, membuat Anda merasa tidak terkalahkan. Senang. Tawa. Euforia. Katakanlah begini, bila Anda berada di Pamplona untuk festival San Fermin, bukan Anda yang terbirit-birit dikejar banteng, justru sebaliknya.

Ia membuat Anda lupa diri, tenggelam dalam kesenangan.

Untuk yang putih, menyelimuti Anda dalam kabut. Tenang. Tidak bersuara. Pikiran dibuatnya berjalan jauh tanpa selangkah pun kaki Anda bergerak. Anda dibuat berpikir, untuk apa manusia ada di dunia. Tidak jarang Anda menitikkan air mata.

Ia membuat Anda lupa diri, tenggelam dalam ketenangan.

Tentu cara untuk menikmatinya beragam, bisa hanya merah, atau hanya putih. Namun, rumor mengatakan cara yang terbaik adalah menggabungkan keduanya, dikenal dengan candu merah-putih.

Sesaat Anda tertawa, setelahnya termenung. Dua efek yang kontradiktif mengaburkan pandangan, membuat Anda lupa dengan urusan belum bayar tagihan atau hal-hal remeh duniawi seperti itu untuk sementara waktu.

Anda dibuatnya senang, tinggi, tapi pada akhirnya amarah Anda dibuat memuncak, marah. Hampa. Tidak ada kejayaan yang pernah Anda rasakan pada akhirnya sebagaimana menjanjikan efek candu tersebut pada hisapan pertama. Tidak ada...klimaks.

Oh satu lagi, bukan hanya dibuat pontang panting emosi Anda. Mendapatkannya pun sulit. Sang bandar hanya muncul sekitar dua mingguan, itu juga hanya sekali dalam dua tahun. Bisa di Vietnam, Singapura, Thailand, suka-suka.

Beruntungnya untuk harga masih fleksibel. Tidak menguras dompet, dapat ditebus dengan waktu yang Anda miliki. Dua jam, tiga jam sudah cukup.

Menyenangkan ketika waktunya sang bandar untuk muncul sudah tiba, candu itu, menyenangkan, walau yang namanya candu selalu menyenangkan, untuk sesaat.

*Menghirup*

*Menghembus*

*Bruk*

Catatan: tulisan dibuat sebelum Indonesia digilas 4-0 oleh Filipina, jadi *bruk* beneran ini.

Thursday, 23 October 2014

Bertemu Si Gendut, Doni

Saya suka sepak bola, tapi untuk urusan ISL, para pemain-pemain lokal, baru satu dua tahun terakhir ini saya mulai menaruh perhatian lebih banyak.

Berbeda dengan muka-muka para pesepak bola di liga-liga besar Eropa, yang kebanyakan sudah saya hafal sejak berada di bangku SD. Tapi, jangan tanya bila bicara pesepak bola Indonesia. Pemain timnas pun belum tentu saya hafal semua, saat itu.

Sebagai Pamulang born-and-bred saya dekat dengan yang namanya Persita. Kebetulan saya bersekolah tidak jauh dari rumah, masih di daerah Kabupaten Tangerang, dan beberapa dari teman-teman saya lebih dari sekali membawa-bawa syal berwarna ungu kebangaan Viola. Untuk apa? Ya, atribut meramaikan di lapangan. Hiburan bagi mereka sepulang sekolah.

Meski saya tidak mengikuti liga Indonesia, tapi sesekali saya ingin tahu kondisi terkini dari Persita. Dan bila bicara soal Persita, hampir dapat dipastikan kata selanjutnya yang terpikir adalah rival terdekat, Persikota. Sama-sama Tangerang.

Ada dua hal yang masih lekat dalam ingatan saya soal Persikota, Gendut Doni, sang penyerang, dan ejekan dari Persita untuk si "anak kota": "Kuning kuning tai, kuning kuning tai. Kuning, kuning tai..."

Bagaimana saya bisa melupakan seorang pesepak bola yang nama depannya Gendut? Terlebih lagi badannya sama sekali tidak mencerminkan namanya. Itu pun menjadi satu-satunya hal yang saya tahu dari pria kelahiran Salatiga tersebut. Sampai seminggu yang lalu.

Saya mendapat kesempatan untuk mewawancarainya, Gendut Doni. Terima kasih kepada masa-masa magang, sebelumnya saya pernah mewawancarai pemilik restoran, sosok dalam gerakan kepemudaan, bahkan sutradara film pendek, tapi baru sekali saya bertemu tatap muka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada pesepak bola.

Mulai dari berbalas pesan singkat, pendek kata akhirnya momen yang direncanakan pun terwujud.

Betapa jauh panggang dari api ketika Gendut Doni menyapa dengan murah senyum, ia ternyata begitu antusias untuk membagikan cerita-cerita dari pengalamannya dulu sebagai pesepak bola yang pernah membela timnas, setelah kini berstatus PNS di Disperindag Tangerang.

Sekitar satu jam saya menghabiskan waktu, dalam wawancara beberapa kali ia mengeluarkan hp-nya untuk menunjukkan foto-foto lama, bersama Bepe, Kurniawan, semasa lulusan Diklat Salatiga itu menjadi pemain timnas.

Obrolan kami ngalor ngidul, mulai dari bagaimana tanggapannya tentang kegagalan timnas U-19 di Myanmar, kesulitan yang akan dihadapan dari pemain muda saat beranjak menjadi pemain profesional, lalu alasan mengapa ia sangat mudah berganti-ganti klub hingga latar belakang keluarganya dimana Gendut Doni memiliki dua kakak laki-laki yang juga pesepak bola, sekali lagi ia mengeluarkan hp-nya dan mencari foto untuk ditunjukkan. Semua dibahas.

Akan tetapi, ada satu pertanyaan yang begitu mengganjal benak saya dan akhirnya sukses terjawab! Darimana asal nama Gendut Doni. Mengapa pula Gendut?

Ternyata, hal tersebut bukan keinginannya, tentu, bukan juga keinginan orang tuanya, yang ini juga benar, adalah sang kakek yang memberikan kata Gendut di depan namanya.

Mengapa? Kebudayaan Jawa mengajarkan jika seorang anak kerap sakit-sakitan ada baiknya mengubah, secara keseluruhan atau dalam hal Doni menambahkan namanya, sehingga nasib baik mendatangi si anak dan mengusir aura buruk.

"Dulunya aku sering sakit-sakitan pas kecil, aku punya kayak asma terus paru-paru basah juga. Terus sama kakek....disuruh ganti nama. Terus dikasih nama itu, gendut. Gendut. Ditambahin Gendut," dengan nada yang menyiratkan ia juga bingung inspirasi sang kakek darimana datangnya.

Namun demikian, Gendut Doni turut bersyukur. Ia menganggap namanya benar-benar sebagai pembawa keberuntungan. Mulai dari kesembuhan penyakitnya, kemudahannya mencari klub di liga Indonesia dan terpanggil untuk membela timnas, baginya dikarenakan pengaruh dari "kegendutan"-nya.

"Bawa hoki," ujarnya.

Memang, namanya juga Indonesia, banyak hal-hal ajaib di sini. Ajaib, untuk namanya Gendut Doni. Ajaib, untuk si kakek yang terpikir memberi nama Gendut. Kini, si cucu, setelah gantung sepatu, pun benar-benar jadi gendut.

Saturday, 18 October 2014

Sambutan untuk Irfan Bachdim di J-League

Saya selalu tertarik dengan sepak bola Jepang, dan itu artinya juga kepada J-League, terlebih lagi setelah Irfan Bachdim sebagai salah satu penggawa tim nasional Indonesia hijrah ke sana untuk membela Ventforet Kofu.

Ini adalah terjemahan wawancara yang dilakukan salah satu media yang khusus membahas sepak bola Jepang dalam bentuk publikasi e-magz. Terima kasih kepada JSoccer Magazine (thanks Alan!) yang sudah berbagi gratisan dari edisi ke-11 mereka, dan membahas Irfan, dan menjadikan fotonya sebagai cover, DAN ucapan selamat datangnya dalam bahasa Indonesia.

Mereka menjadi media pertama yang mewawancarai Irfan saat sampai di Jepang.

Optimisme terlihat dari Bachdim, jauh sebelum kenyataannya ia belum juga dimainkan oleh klub hingga pekan ke-28, saat saya menerjemahkan wawancara ini, dan semoga ia sanggup mendapatkan debut sebelum J-League 2014 berakhir!

JSoccer (JS): Selamat datang ke Jepang. Selamat datang ke J-League. Kedatangan Anda menjadi berita yang cukup besar di negara asal Anda, Indonesia. Dan, tentu, J-League, dan Ventforet Kofu khususnya akan berharap sebagian dari penggemar Anda mengikuti kabar ini dan mulai mengikuti bahkan menyukai J-League dengan adanya kesepakatan baru yang dibuat J-League di Indonesia.

Irfan Bachdim (IB): Terima kasih, saya merasa bangga bisa bermain di sini mewujudkan mimpi bermain di level tertinggi sepak bola di Asia.

JS: Ceritakan kepada kami bagaimana Anda bisa sampai berada di Ventforet Kofu...

IB: Direktur Pemasaran Luar Negeri di Chonburi, Atsuo Ogura, bertanya apakah saya tertarik dengan peminat dari klub-klub Jepang dan melakukan uji coba. Saya, tentu saja, membalas, bahwa saya tertarik untuk melakukannya dan saya dihubungkan dengan perwakilan J-League, Kei Koyama dan di sinilah saya. Begitu ceritanya, berawal dari hal yang kecil.

JS: Apa target Anda untuk musim ini di Jepang?

IB: Awalnya saya hanya ingin bermain sebanyak mungkin, dan kita lihat dari sana.

JS: Bagaimana rasanya dalam waktu yang sebentar di Ventforet bagi Anda?

IB: Sejauh ini semua berjalan sangat bagus di Kofu. Saya kagum dengan klub ini dan, tentu, kotanya yang indah. Klub ini punya dasar yang bagus dan beberapa pemain bagus.

JS: Apa yang Anda tahu tentang sepak bola Jepang?

IB: Saya tahu sepak bola Jepang yang terbaik di Asia dan pertandingannya dimainkan dengan tempo yang tinggi. Seperti yang saya sukai, jadi saya tidak sabar bermain di J1!

JS: Bagaimana Anda membandingkan Jepang dengan Thailand, dan sepak bola Indonesia, dari segi teknik, latihan?

IB: Semua hal di Jepang jauh lebih profesional dibandingkan di Indonesia atau Thailand. Dari manajemen sampai ke pemain. Dan para pemain, tentu, punya teknik yang hebat, begitu juga dengan daya tahan dan stamina.

JS: Momen terindah Anda di Chonburi?

IB: Sayangnya saya tidak punya momen terindah di Chonburi. Itu bukan musim yang bagus bagi tim atau saya. Musim tanpa trofi!

JS: Jadi, apa yang salah di Chonburi?

IB: Saya rasa saya menyalahkan diri saya sendiri karena masa-masa sulit di Chonburi. Saya tidak menikmati sesi latihan. Secara mental, jujur saja, saya tidak senang. Tapi tentu saya harus melupakannya dan saya telah belajar dari pengalaman.

JS: Seberapa mendukung Chonburi dalam membantu Anda pindah ke Jepang?

IB: Chonburi sangat mendukung kepindahan saya. Mereka tahu seberapa besar saya menginginkan ini untuk terjadi. Jadi saya berterima kasih mereka membiarkan saya pergi.

JS: Apakah Anda punya pesan untuk pendukung Ventforet Kofu ...

IB: Saya harus berterima kaish atas dukungan menakjubkan dari pendukung Ventforet Kofu dan sambutan yang sangat hanya. Saya harap kami memiliki musim yang hebat. Saya harap saya bisa sering bermain dan menginspirasi para suporter dengan semangat saya. Saya tidak sabar memulai musim ini.

JS: ... dan untuk para penggemar Chonburi?

IB: Saya ingin berterima kasih kepada seluruh staff dan pemain di Chonburi FC, tapi khususnya terima kasih kepada para suporter. Mereka hebat dan saya tidak akan melupakan mereka selamanya!

Tentu, JSoccer Magazine tidak hanya membahas Irfan pada edisi ini, untuk lihat yang lain-lain cek di sini. Cuma $3!

Oh iya, bila tertarik untuk tahu lebih banyak tentang Irfan ketika masih membela Chonburi FC di Thailand, bisa juga dicek wawancara lainnya dengan Thai-Fussball.

Sunday, 2 December 2012

Petualangan Joni

“65% populasi dunia mengalami masalah berat badan atau obesitas”
-WHO

1983 merupakan tahun dimana Billie Jean dari Michael Jackson meledak menjadi hits, peringkat pertama di Billboard 100 selama delapan minggu. Ditahun yang sama Joni kecil lahir di Belanda. Tepatnya di kota Velp, sebuah kota kecil yang memiliki luas 11,01 km. Sekedar perbandingan, Jakarta memiliki luas 740,3 km. Joni kecil merupakan anak yang aktif, dia gemar berolahraga. Sepak bola menjadi favoritnya sama seperti anak-anak di Amsterdam, Heerenveen dan Rotterdam. Joni kecil bukanlah anak yang paling tinggi di lingkungannya namun jelas dia juga bukan yang terpendek. Joni sering bermain basket namun seperti yang kita tahu, Eropa tergila-gila dengan sepak bola. Begitu juga dengan Joni, setiap sore dia sering keluar dari pintu belakang rumahnya untuk bermain sepak bola di lapangan rumput sebelah sungai Ijssel.

Beranjak dewasa Joni mendapat kesempatan untuk mewujudkan mimpinya. Dia beruntung, tidak semua orang dapat menjalankan hidup sesuai impiannya. Sebuah klub yang terletak di Doetinchem berjarak 21,5 km (Serius, ini beneran dihitung) dari lingkungan masa kecilnya, Velp. Dari sini Joni mendapat kesempatan berlaga di Eredivisie. Tentu kedua orang tuanya senang putra kebangaannya akan bermain di divisi utama Liga Belanda, terlebih lagi karena klub barunya berlokasi lebih dekat dari rumah mereka. Setelah menempuh 27 km dari Doetincheim menuju Arnheim Jhonny sudah membayangkan kemungkinan apa saja yang terjadi. Bisa saja setelah dari situ dia di kontrak PSV atau mungkin dia menarik perhatian klub Jerman, bahkan Inggris? Siapa yang tahu.

Sayang nasib berkata beda. Joni tidak pernah jadi pemain level nasional, lupakan selat Perancis, di Eredivisie pun dia mati-matian. Setelah kesana kemari mencoba peruntungan akhirnya datang panggilan dari negara yang hanya dia tahu dari cerita orang tuanya atau brosur perjalanan ke Bali yang sering ditunjukkan teman-temannya.

 “Eh, tunggu dulu”, pikir Joni. “Gue sama sekali ngga tau apa-apa tentang Jakarta.” Dia mendapat kesempatan besar untuk meraih sesuatu yang belum pernah dia dapat. Menjadi terkenal. Entah dapat kabar darimana dan Joni pun tidak mau banyak pikir, yang dia tahu dia mendapat kesempatan menjadi wakil Timnas Indonesia. “Mereka gila tapi bukan urusan gue jika mereka yang salah,” Joni tersenyum dalam hatinya. 11.306 km kemudian dia sampai di Indonesia!

Kesan pertama di Indonesia tidak buruk.. Dia mendapat atensi media tetapi bukan itu yang membuat hari-harinya menjadi lebih baik. Murah, semua menjadi lebih murah bagi Joni. Terima kasih kepada valas hari-hari Joni berada di jalur yang benar. Memang dasar keturunan Indonesia, Joni mulai merasa bosan dengan sepak bola. Dia lebih tertarik dengan mall-mall di sekitar Senayan. Makan ini makan itu, banyak makanan yang dia suka. Namun yang menjadi favorit adalah Burger King di Senayan City. Tentu selain dekat rasanya juga agak sangat khas. Ukurannya yang besar berisi daging dengan rasa kapitalisme yang sebelumnya sudah direndam saus ketamakan diapit oleh roti publisitas. Anda tahu kelanjutannya dari semua petualangannya di negara hutan hujan ini dia hanya bermain selama 25 dari 270 menit (8,57%). 

Moeder, ik heb nachtmerrie. ik was Indonesian”, Joni kecil terbangun, berkeringat di sekujur tubuhnya.

Saturday, 1 December 2012

1 Desember 2010 - 1 Desember 2012

Untuk Indonesia dari Indonesia

Dua tahun yang lalu.

Okto Maniani memang tidak terkenal dengan akurasi umpannya namun kala itu dia berhasil memberikan Irfan Bachdim bola matang di depan gawang Malaysia yang membuat nama pemain keturunan Belanda tersebut meroket. Ulangan gol itu sudah sangat sering kita lihat di televisi, biasanya ditemani lagu "Garuda Di Dadaku" dari Netral.

Pertandingan berakhir dengan skor akhir Indonesia menang 5-1 dari Malaysia. Lalu semua media, bahkan program infotainment yang biasanya memberitakan gosip murahan, mengarahkan lampu sorotnya kepada timnas. Berulang-ulang kali gol Irfan Bachdim diputar,diputar lagi, lagi, lagi, lagi, lagi...pusing. 

Masih ada yang ingat bagaimana pemain naturalisasi ini menjadi trending topic kemudian makin sering lalu lalang di layar televisi kita? Pasti ingat, apakah ada yang ingat media kita memberitakan perilaku suporter kita yang menyoraki lagu kebangsaan Malaysia? Jangan heran bila anda tidak ingat, memang tidak pernah ada berita semacam itu.

Kejadian ini terjadi tepat dua tahun yang lalu. Jauh-jauh hari saya menandai hari itu. Maklum kuliah di Bandung jadi harus sedikit usaha untuk ke stadion utama. Berbeda dengan sekarang, saat itu stadion tidak penuh. Ramai tapi tidak penuh. Tiket pun masih mudah didapat. berita di media juga biasa saja. Ada beberapa penonton yang mendukung Malaysia, bukan ultras, kemungkinan besar penonton kerah biru. Kemudian kedua tim memasuki lapangan dan lagu kebangsaan pun dikumandangkan. "Boooooooo.....", begitu teriak pendukung Merah Putih ketika "Negaraku" terdengar. Saya rasa sebagian besar orang melakukannya, mungkin mereka tidak merasa ada yang salah atau mungkin saja mereka tidak peduli lagi apakah tindakan mereka salah atau benar yang penting dukung, titik.

Lagu kebangsaan merupakan sebuah ritual yang sakral dalam sepak bola, tidak seharusnya mendapat perlakuan seperti itu. Di negara asalnya sepak bola mendapat julukan sebagai gentlemen's game dan saling menghargai atau respect menjadi kata yang paling akrab dengannya. Keesokan harinya sama sekali tidak ada kontroversi mengenai hal ini. Pihak Malaysia tidak melayangkan protes resmi.

Dua tahun kemudian. 

Pertandingan pertama Indonesia melawan Laos. Menit-menit awal sang Garuda lebih menguasai pertandingan yang bila Irfan Bachdim lebih tenang mungkin dengan mudah bisa unggul 2 gol. Andik Vermansyah tampil hebat membuat bek kiri Laos kelimpungan karena tidak mampu menyamai akselerasi pemain berumur 21 tahun tersebut. Kita semua tahu apa yang terjadi selanjutnya. 

Setelah pertandingan berakhir kemudian muncul kabar yang menarik perhatian pemerhati sepak bola Indonesia. Sekelompok kecil yang mengaku sebagai Ultras Malaya mengunggah video berisi lagu yang liriknya kurang enak didengar. “Indonesia itu anjing”, kata mereka. KBRI sendiri masih mencari tahu tanggal kejadian peritiwa tersebut. Sebuah santapan bagi media dan masyarakat kita juga kecanduan terhadap provokasi seperti ini. Tanggapan masyarakat yang panas ditambah sikap KBRI yang berlebihan agaknya menjadi lucu ketika mengingat apa yang kita lakukan dua tahun yang lalu.

Saya coba menjadi obyektif disini, kita bilang harga diri bangsa kita diinjak tapi, bung, ini sepak bola tolonglah jangan terlalu serius. Apalagi jika kita menggeneralisasi sebagian kecil kelompok tersebut. Sebegitu tercampurkah sepak bola kita dengan politik sehingga kita lupa caranya bersenang-senang dalam stadion?

Sebagai negara penonton sepak bola seharusnya tidak asing dengan chant-chant miring yang berseliweran dalam stadion. Suporter Premier League yang nun jauh di sana menjadi "teladan" bagi para couch potato macam kita ini juga melakukan hal yang sama. Terlebih lagi bagi para suporter kafe saya yakin sudah terbiasa adu chant atau jangan-jangan sikap kita memang biasa saja dan semua reaksi panas masyarakat terhadap aksi Ultras Malaya ini lebih karena pembentukan dari media? Mungkin saja, sangat mungkin. 

Dua tahun sudah saya menunggu AFF, terserah apa kata KBRI atau PSSI atau media atau si kumis itu, saya hanya ingin menikmati sepak bola. Semoga Timnas meraih hasil yang terbaik!

Sunday, 15 April 2012

Sensasi Dari Indonesia

Calon Bintang Indonesia
“Mungkin saya perlu jadi pemain bola untuk bisa menjadi WNI,” ujar Chanee. Sudah 14 tahun dia berangkat dari negara asalnya, Perancis, untuk mengabdikan dirinya dalam konservasi primata kecil berhabitat di dalam hutan belantara Kalimantan yang dikenal dengan sebutan Owa. Tidak banyak memang yang mengenal Chanee Brule namun keluhan betapa sulitnya untuk menjadi WNI tersebut yang pertama kali saya dengar saat menghadiri salah satu program di studio Kick Andy dan hingga kini masih melekat dalam ingatan.

Bukan tentang Chanee yang tiba-tiba banting setir menjadi pemain sepakbola tapi ada sebuah catatan disana bahwa pemain sepakbola yang lebih banyak disorot media menjadi warga asing yang digolongkan lebih beruntung dibandingkan dengan warga asing macam Chanee yang perjuangannya terbilang low profile.

Hubungan antara media,sepakbola dan masyarakat Indonesia memang saling bersinergi.Tampaknya jika anda merupakan orang yang sering mondar-mandir di depan televisi, segala hal menjadi mudah bagi anda. Hal itu yang terjadi pada Igbonefo dan Nwokolo, berbanding terbalik dengan Chanee para pemain naturalisasi ini mendapatkan paspor Indonesia dengan jalan lowong seperti kondisi Jakarta saat lebaran.

Media Indonesia sangat senang membuat berita yang asal-usulnya tidak jelas, terlebih jika berhubungan dengan sepakbola yang menjadi konsumsi banyak masyarakat sepakbola akan mereka sikat. Foto yang disangka Diego Michels dan Nikita Willy pun sempat naik terdengar walau terbukti tidak benar.

Kali ini pun begitu. Setelah dahulu sempat membesar-besarkan berita perjalanan punggawa timnas mencapai  final pada SEA Games 2011 dan AFF Cup 2010--bahkan sempat dianggap menjadi salah satu faktor gagal juara--kini media kembali membuat sensasi dari dunia sepakbola Indonesia.

Kali ini sensasi berita tersebut berasal dari bocah berumur 7 tahun asli Indonesia, Tristan Alif Naufal, bakatnya yang diunggah di Youtube menjadi buah bibir yang hangat dibicarakan oleh para masyarakat Republik Sepakbola Indonesia yang begitu mengharapkan sebuah keajaiban untuk singgah di negeri ini dan membawa prestasi bersamanya.

Video Tristan yang menampilkan kepiawaiannya dalam mengolah bola dan mengelabui pemain lawan diiringi dengan musik bertema nasionalis dari Coklat membuat harapan para suporter timnas membumbung tinggi. Tristan yang baru seumur jagung bahkan telah menjadi bintang tamu pada salah satu program televisi Indonesia hingga dilabeli “The New Messi”. Hebohnya video ini bahkan membuat Tristan masuk dalam sebuah artikel di website resmi Liverpool FC.

Tentu tidak salah dengan memiliki rasa bangga terhadap bakat anak bangsa Indonesia. Namun, perlu disadari sepakbola bukanlah olahraga instan. Sepakbola perlu pengasahan bakat yang terus menerus dan kerja keras untuk menjadi pemain sepakbola kelas dunia. Tristan tidak perlu blow up media toh proses menjadi pemain sepakbola bukan seperti menjadi boyband tetapi dia membutuhkan dukungan baik dari orang tua dan segenap pihak yang peduli bukan hanya pada bakat Tristan tapi juga semua generasi muda sepakbola negeri ini.

Pengakuan media tidak akan membawanya kemana-mana dan PSSI pun tidak bisa berdiam diri melihat bakat sebesar Tristan tersia-siakan. Hadirnya Tristan di tengah kisruh PSSI seperti petunjuk dari Tuhan yang memberikan jalan kepada Indonesia. Bahwa sebetulnya Indonesia tidak perlu pusing siapa yang pantas untuk memimpin Indonesia menjadi lebih baik dalam dunia sepakbola. Indonesia, PSSI terlebih lagi, ditunjukkan bahwa masa depan sepakbola Indonesia bukan di tangan para pemimpin organisasi sepakbola terbesar negeri ini melainkan pada bakat tunas muda Garuda.

Pupuk bakat mereka, komitmen untuk merawatnya, bersabar pada proses dan terus mendukung hingga akhirnya kita sendiri yang akan menuai hasil dengan senyum. Kini tampaknya para petinggi PSSI mudah lupa dengan janji akan pembinaan usia muda disertai fasilitas memadai atau liga dengan usia berjangka. Sayang jika ada Tristan kecil lain di luar sana yang mungkin bakatnya tidak terlihat oleh media hingga terbuang begitu saja.

Tuesday, 7 September 2010

Di Jalanan Kita Bermain

Sulitnya mencari lapangan untuk bermain futsal membuat saya teringat akan hal ini. Saat dimana futsal bukanlah hal yang menjamur dan menjadi sasaran kegiatan anak muda seperti sekarang,(bisnis) lapangan futsal pun masih sulit ditemukan. Futsal belum menjadi sebuah olahraga yang komersil dan masih jarang didengar. Tidak seperti sekarang yang harus menyewa lapangan jauh - jauh hari jika ingin bermain. Kita masih bermain dengan lapangan sepakbola biasa atau teman - teman saya biasa sebut dengan lapangan besar. Tentunya dengan lapangan seukuran itu tidak mungkin jika hanya bermain lima lawan lima atau tiga lawan tiga. Belum juga main, harus mencari personil. Repot.

Meksiko

Solusinya pun muncul dengan sendirinya. Tidak perlu banyak orang untuk bermain, tidak harus bermain di lapangan, tidak ada memiliki aturan yang "merepotkan", bisa dengan sandal atau nyeker, waktu ? sepuasnya. Benar jika anda menebak sepakbola jalanan, permainan sepakbola yang merupakan bagian dari urban culture ini lahir dari depan rumah atau pinggir jalan bahkan gang sempit. Menurut saya olahraga ini memiliki prisip yang sama dengan urban culture lainnya yang lebih merupakan penolakan atas sikap posh dari peraturan sepakbola formal yang bisa dikatakan terlalu banyak menuntut untuk bisa dimainkan di tengah ramainya kota yang tidak memiliki ruang bermain yang cukup. We just want to express ourselves and have fun, no need to make it difficult.

Brazil

Sepakbola jalanan atau bahasa kerennya Street Football (never say soccer) permainan sepakbola yang tidak selalu dinilai dari perolehan gol yang dicetak oleh kedua tim (bisa 1on1). Cara menentukan untuk menjadi pemenang seringkali lebih merupakan hasil kesepakatan kedua belah pihak. Kesenanganlah yang dicari bukan kebanggaan untuk menang dengan selisih skor besar. Bermain dengan kebebasan di atas jalanan.

Panama

Seiring dengan perkembangan olahraga sepakbola yang semakin mendunia tentu sepakbola jalanan pun terkena imbasnya dan karena memang pada dasarnya sepakbola merupakan olahraga yang bisa menyatukan berbagai kalangan lapisan masyarakat maka dengan cepat penggemar olahraga ini pun bertambah banyak. Dengan melihat terus meningkatnya penggemar olahraga ini, para produsen perlengkapan olahraga yang sudah mendunia pun tidak tinggal diam. Mereka mulai berani untuk mendanai acara - acara dengan model olahraga seperti ini (tentu dengan sedikit modifikasi). Hasilnya pada tahun 2006 diadakan "Street Football World Championship" untuk pertama kalinya di Berlin. Dari gang kumuh perjalanan panjangnya pun sampai di pentas dunia.

Irak


Sore hari sepulang sekolah
bermodalkan sandal jepit dan bola
mereka membuat gawang dengan jarak selangkah
yang seringkali tidak ada penjaganya

Bola diletakan ditengah "lapangan"
tentukan giliran dengan suit
mulailah berlarian
berkejaran kesana kemari

Tidak perlu wasit atau aturan
sportifitas muncul dengan kesadaran diri sendiri
bahkan pelanggaran
hanyalah sebuah bahan tertawaan

Bukan jumlah gol yang dikejar
melainkan kepuasan bermain
dan kesenangan berkumpul bersama teman

Senangnya bermain sepakbola jalanan
jauh dari kata tawuran
kecurangan
dan permusuhan.