Thursday, 24 December 2015

[FPL] Post-Gameweek 17: Main Template Sudah Aman


" (...) template Dream Team ini sanggup mencapai 79 poin, itu saja sudah jauh lebih baik dibandingkan rata-rata 59 poin di GW 17 (...)"


Ada kalanya para manajer FPL berpikir terlalu banyak dan gagal mendapatkan poin maksimal dengan pilihan pemain-pemain diferensial mereka. Seperti di GW 17.

Bukan sains roket untuk mengetahui siapa-siapa saja yang unggul di FPL, jika kita lihat Dream Team FPL musiman hingga GW 17 aktornya jarang berubah dan sampai tengah musim formula memilih pemain template tampaknya menjadi cara yang tepat.

Dengan formasi 3-5-2, Dream Team ini memunculkan nama Heurelho Gomes (8 poin) yang sukses membuat Liverpool frustasi dan menambah jumlah clean sheet-nya. Toby Alderweireld (6 poin) pun turut membantu Tottenham sehingga tidak kebobolan.

Dari lini tengah Dream Team, hanya Georginio Wijnaldum yang gagal menjawab harapan meraih poin, sementara itu Mesut Ozil (11 poin) membawa Arsenal menang atas Manchester City dengan 2 asis, Ross Barkley (9 poin) juga memberikan 2 asis (punya jumlah poin bonus lebih sedikit dari Ozil), dan bintangnya Eden Riyad Mahrez (15 poin) hasil 2 gol ke gawang Everton.

Trio penyerang; Jamie Vardy (8 poin), yang meski tidak mencetak gol tetap berbahaya di lini depan dan mencatatkan 2 asis, Odion Ighalo (13 poin), benar-benar membuat dirinya semakin sulit untuk tidak dipilih masuk tim Anda setelah 2 gol ke gawang Liverpool di GW 17, dan Romelu Lukaku (6 poin), yang sudah 7 GW konsisten mencetak gol ,tidak ketinggalan berpesta. 

Kecuali untuk Chris Smalling (1 poin) dan Scott Dann (2 poin), template Dream Team ini sanggup mencapai 79 poin, itu saja sudah jauh lebih baik dibandingkan rata-rata 59 poin di GW 17 dan dengan mudah menempatkan Anda di atas sejuta manajer FPL lainnya dalam peringkat mingguan.

Sementara Kun Aguero, Kevin de Bruyne, Philippe Coutinho, dan Andre Ayew sedang libur, pemain-pemain template ini pantas di-scout lebih lanjut. Atau angkut saja semua satu tim, harga sepaketnya hanya £ 77,7!

Thursday, 10 December 2015

[FPL] Pre-Gameweek 16: Meriam Arsenal Tengah Panas


"Bahkan sepanjang 2015 Arsenal melesakkan sembilan gol ke gawang Villa tanpa satu gol pun berbalas."


GW 15 menjadi pengingat bahwa tim papan bawah Premier League juga sanggup berbicara ketika Newcastle menang meyakinkan atas Liverpool, tapi bukan manajer FPL namanya bila tidak berani kembali mengambil risiko di GW 16.

Sejumlah pertandingan menarik perhatian manajer-manajer FPL di GW 16. Ada potensi meraup banyak poin saat Man. City menjamu Swansea, Tottenham menerima lawatan Newcastle, dan Everton yang bertamu ke Carrow Road. Begitu juga ketika Arsenal melawan Aston Villa.

Arsenal akan bertandang ke Villa Park dan rekor the Gunners bagus saat menghadapi Aston Villa dengan lima kemenangan dari enam pertandingan terakhir. Tim asuhan Arsene Wenger  hanya kalah sekali saat menutup laga dengan 10 orang dua tahun silam. Bahkan sepanjang 2015 Arsenal melesakkan sembilan gol ke gawang Villa tanpa satu gol pun berbalas.

Bicara soal kondisi terkini juga tidak berpihak bagi Villa. Klub Birmingham yang sejak November ditukangi Remi Garde itu merasakan tiga kekalahan pada lima laga terakhir tanpa sekalipun menang, sedangkan Arsenal tengah tampil apik bermodalkan tiga kali menang dari lima pertandingan terakhir.

Singkat kata, meriam-meriam London utara tengah panas dan dapat jadi pilihan bagus untuk para manajer di GW 16.

Boleh nih
Troy Deeney (£5,2)
Soal Watford menang atau tidak melawan Sunderland bukan hal paling penting. Faktanya the Hornets selalu mencetak gol pada tujuh pertandingan beruntun. Performa Deeney, dan duetnya dengan Odion Ighalo yang efektif, pun sedang terbang tinggi dengan 5 gol dan 2 assists dari enam GW terakhir. Belum lagi jika bicara soal harga, duh, Harry who?

Aaron Ramsey (£8,0)
Kangen dengan gelandang satu ini? Ya, Ramsey sudah kembali dari cedera dan tidak menunggu lama untuk berkontribusi penuh. Ia langsung mencetak 1 gol dan 1 assist pada 90 menit penuh pertamanya di GW lalu (total 13 poin), dan 1 assist lagi di Liga Champions. Peran Ramsey yang lebih bebas bergerak untuk mengisi celah antara gelandang dan penyerang membuat kesempatan mencetak gol di GW 16 jadi besar.

Toby Alderweireld (£5,6)
Newcastle memang mengejutkan pada GW 15 dengan kemenangan 2-0 atas Liverpool, tapi selama tampil di Premier League sejak September Tottenham hanya kebobolan tiga gol saat bermain di White Hart Lane. Menempatkan the Lilywhites sebagai tim dengan pertahanan terbaik kedua, hanya kalah dari Man. United. Alderweireld pun rasanya jadi pilihan yang aman mengingat ia tengah menjadi bek FPL dengan nilai performa terbaik (8.0).

Captain material!
Olivier Giroud (£8,9)
Giroud empat tergeser oleh Theo Walcott di lini depan, namun belakangan kembali dipercaya menjadi meriam utama Arsenal oleh Wenger. Pria Prancis ini memasukkan 4 gol dari enam GW terakhir. Dari segi harga pun ia menjadi alternatif yang baik dibandingkan Harry Kane (£9,7) dan Romelu Lukaku (£9,1).

Buat gue, yang justru menarik perhatian adalah hattricknya dalam kemenangan the Gunners 3-0 atas Olympiakos di Liga Champions. Terlihat kepercayaan dirinya telah kembali, pergerakannya begitu aktif, dan tembakannya sangat tajam. Giroud sukses menjaringkan tiga gol dari empat tembakan ke gawang (100% on target) untuk terpilih jadi Man of the Match di Karaiskakis. Saat Mesut Ozil mencari pemain untuk dioper di Villa Park, playmaker itu tahu harus mengandalkan siapa.

Untuk FPL, mengutip kata @fplhints, "form is key, class doesn't matter"

Tuesday, 8 December 2015

[FPL] Post-Gameweek 15: Hujan Poin di Daerah Pertahanan


"(...) bek-bek diuntungkan bonus poin karena penampilan baik mereka dalam bertahan, atau malah membantu serangan."


Berbeda dengan GW 14 di mana penyerang-penyerang Premier League mendapat sorotan berkat aksi mereka, di GW 15 justru giliran para pemain bertahan yang dihujani poin.

FPL 2015/2016 sekali lagi terbukti menjadi musim dengan rentetan hasil yang sulit ditebak. Liverpool mengalami kemenangan pada dua GW sebelumnya kemudian kalah dari Newcastle, tim asuhan Jurgen Klopp yang membuat Man. City tidak berkutik 1-4 di GW 13 bahkan tidak dapat mencetak gol sama sekali.

Chelsea juga sama. The Blues yang sukses mendapatkan clean sheets pada dua pertandingan beruntun ternyata takluk saat menjamu Bournemouth di Stamford Bridge padahal kiper utama Thibaut Courtois sudah kembali ke starting XI. Begitu juga dengan Man. City yang menembakan peluru kosong ke gawang Jack Butland dan malah dibuat tak berdaya oleh Marko Arnautovic.

Rata-rata jumlah 2,9 gol yang terjadi setiap pertandingan dalam GW lalu menurun menjadi 2 gol saja. Selaras dengan enam clean sheets tercatat, para ujung tombak jagoan FPL memang meredup di GW 15. 

Penyerang-penyerang klub papan atas seperti Man. City, Chelsea, Liverpool, Man. United tidak ada satu pun yang berhasil menjaringkan bola ke gawang. Sebaliknya bek-bek diuntungkan bonus poin karena penampilan baik mereka dalam bertahan, atau malah membantu serangan. Berikut mereka yang memperoleh tambahan poin.

Erik Pieters (Stoke), Cedric Soares (Southampton), Paul Dummett (Newcastle), Danny Simpson (Leicester), Miguel Britos (Watford) termasuk ke dalam daftar itu. Hal yang sama didapat duet Chris Smalling dan Matteo Darmian (Man. United) serta Winston Reid (West Ham) yang menutup laga dengan skor kacamata.

Toby Alderweireld (Tottenham) memang kebobolan tapi assistnya membuat eks Atletico Madrid itu berhak atas bonus poin. Performa Scott Dann (Crystal Palace) bahkan lebih baik dengan kontribusi golnya sebelum Romelu Lukaku menyelamatkan muka Everton di Goodison Park.

Trio Bournemouth melengkapi pemain bertahan yang diberikan bonus. Steve Cook dan Adam Smith bekerja keras membantu Artur Boruc menghalau serangan Chelsea dan mendapatkan imbalan kemenangan bagi the Cherries. Penjaga gawang asal Polandia itu bahkan meraup tambahan dua poin lagi setelah melakukan tujuh penyelamatan yang bahkan memaksa Jose Mourinho berpikir ulang soal targetnya finis di zona Liga Champions.

Walau demikian, ada juga pencetak gol yang mungkin dapat masuk pantauan untuk GW 16, seperti Riyad Mahrez yang kembali tajam, duet Troy Deeney dan Odion Ighalo yang sudah 3 GW berturut-turut selalu berperan menciptakan gol bagi Watford, Lukaku yang melesakkan 6 gol dalam 5 GW beruntun.

Atau bila ingin mencari poin pembeda muncul satu nama lagi saat Aaron Ramsey yang sudah kembali bermain penuh 90 menit. Gelandang yang memberikan satu gol dan satu assist pada GW 15 itu baru dimiliki oleh 2,7% manajer!

Wednesday, 2 December 2015

[FPL] Post-Gameweek 14: Melirik Lini Belakang Chelsea


""Tamparan" di hari terakhir Oktober itu menyalakan kembali mesin-mesin bus biru. Di mana kemudian selama November klub asal London itu hanya kalah sekali dari lima laga."


Musim 2014/2015 pasukan Jose Mourinho sangat dominan di Premier League dan punya rasio kebobolan yang begitu apik dengan jumlah kurang dari 1 gol setiap pertandingan. Pada musim ini catatan gemilang itu masuk ke tong sampah.

Bukan hanya pada 5 GW pertama Chelsea harus rela melihat gawang mereka kemasukkan 12 gol, Branislav Ivanovic yang sukses dengan 179 poin di musim sebelumnya benar-benar kehilangan sentuhan, dan harapan untuk assist atau gol pria asal Serbia itu juga menyublim dari benak para manajer FPL.

Kekacauan pertahanan Chelsea membuat manajer-manajer FPL merasa tertipu dan menukar John Terry, Cesar Azpilicueta hingga Gary Cahill. Aleksandar Kolarov, Toby Alderweireld, Chris "Smaldini" Smalling jadi pengganti yang populer. Perlahan pengawal lini belakang Chelsea terlupakan, dari satu GW ke GW lainnya.

Sepanjang Oktober penampilan Diego Costa dan kawan-kawan tak kunjung membaik. Chelsea memainkan empat GW dan hanya menang ketika bertemu dengan Aston Villa yang belakangan kondisinya tidak lebih baik dari bunga Amarilis; terinjak-injak. Dan the Blues harus puas berkutat di papan bawah klasemen bersama tim-tim seperti Sunderland, Norwich, Newcastle.

Lalu Datang November
Di penghujung Oktober permainan Chelsea yang tengah masuk angin kemudian dihantam keras oleh Liverpool bersama Jurgen Klopp yang menyuntikkan semangat baru ke dalam tim Merseyside tersebut. Eden Hazard cs tumbang 1-3 di Stamford Bridge. Sementara Liverpool kembali memerah, Chelsea kian membiru karena dihujani kritik dan keraguan.

Meski demikian, kekalahan tersebut juga membawa perubahan baik bagi Chelsea. "Tamparan" di hari terakhir Oktober itu justru menyalakan kembali mesin-mesin bus biru. Di mana kemudian selama November klub asal London itu hanya kalah sekali dari lima laga.

Chelsea sukses tampil konsisten di Eropa dan Inggris dengan kebobolan dua gol dari lima laga saja dan mencatatkan 2 clean sheet dari tiga pertandingan Premier League. Kenyataannya gue yang menyimpan salah satu bek Chelsea, Kurt Zouma, di bench pun terasa sepet karena 12 poin di 2 GW terakhir terbuang jadi ampas.

Walau Costa, Hazard, Cesc Fabregas belum memperlihatkan serangan berbahaya Mourinho sadar tim asuhannya hanya perlu satu gol lebih baik dari lawannya dan pertahanan yang solid dapat jadi jalan keluar dari musim buruk mereka. Cara bermain melawan Tottenham Hotspur di GW 14 yang berakhir 0-0 dapat menjadi contoh.

Harry Kane yang belakangan namanya mulai dipercaya untuk mengisi lini depan tim-tim FPL karena torehan 46 poin dalam 4 GW sebelumnya malah kandas di White Hart Lane dan hanya berkontribusi 1 poin. Termasuk gue. Asu!

Bukan sekadar lini belakang yang kian terlihat kompaksi, Asmir Begovic juga ikut bersinar saat melawan pasukan Mauricio Pochettino dan membuat tambahan poin FPL dengan 4 penyelamatan yang dilakukannya. Kiper utama Chelsea Thibaut Courtois pun akan kembali bermain dalam waktu dekat setelah absen sejak 12 September.

Tambahan poin dari lini belakang Chelsea kemungkinan besar berlanjut di Desember. Mengecualikan pertemuan kontra Leicester pada GW 16, The Blues berhadapan dengan lawan-lawan seperti Bournemouth, Sunderland, Watford dan Man. United yang irit gol.

Tanpa perlu penjelasan lebih panjang lagi, add to watchlist: bek-bek Chelsea.

Wednesday, 25 November 2015

[FPL] Post-Gameweek 13: Deulofeu yang Menjanjikan!


"Setelah diganggu cedera pada awal musim yang membuatnya hanya tampil 40 menit sepanjang 4 GW pemain kelahiran Riudarenes itu kini tampak siap diandalkan Roberto Martinez."


Cedera panjang sumber poin FPL West Ham, Dimitri Payet, membuat hampir sejuta orang manajer FPL mencari alternatif gelandang. Buat gue, Gerard Deulofeu jadi pilihan.

Pemilihan Deulofeu untuk menggeser Payet bukan tanpa alasan. Kapten timnas Spanyol U-21 itu sudah memberikan 6 assists dari 11 pertandingan bersama Everton, dan baru saja mencetak 5 gol di kualifikasi EURO U-21 bersama La Furia Roja muda pada tengah pekan. Dari sisi harga pun (6,3) Deulofeu jelas menjadi salah satu pengganti yang dapat diperhitungkan.

Maka, eks Barcelona itulah yang gue pilih. Hasilnya? Bisa ditebak, Deulofeu gagal mencatatkan namanya dalam daftar pencetak gol ataupun assist! Ada momen saat operan deflected Deulofeu dituntaskan oleh Ross Barkley namun Opta juga EPL melihat tindakan tersebut ditujukan kepada Arouna Kone dan bukan kepada si pencetak gol. Alhasil hanya 3 poin yang sukses dikumpulkan Deulofeu.

Belum lagi gue memberikan posisi Ross Barkley untuk pemain berusia 21 tahun itu, di mana Barkley mengeruk 19 poin di GW 13, padahal dalam dua GW sebelumnya penggawa timnas Inggris itu cuma menyumbangkan poin alakadarnya. Bangsat!

Dari segi angka jelas selisih poin Barkley dan Deulofeu di GW 13 dapat membuat manajer FPL panik dan langsung menukar yang namanya belakangan disebut, tapi tidak butuh banyak alasan juga untuk tetap mempertahankannya dalam tim Anda. Sudah lihat bagaimana permainan pemain sayap yang pernah membela Sevilla tersebut saat menggempur sisi kiri Aston Villa?

Deulofeu tampak berbahaya setiap memegang bola (walau lawannya memang Villa yang tengah krisis). Ia pun menjadi pemain yang paling gemar menyisir sisi lebar lapangan. Deulofeu tidak segan untuk mencoba melewati bek lawan, walau memang operan akhirnya masih perlu peningkatan.

Akhirnya, setelah diganggu cedera pada awal musim yang membuatnya hanya tampil 40 menit sepanjang 4 GW pemain kelahiran Riudarenes itu kini tampak siap diandalkan Roberto Martinez. Ia bahkan terlihat lebih padu dengan Romelu Lukaku dan kawan-kawan dibandingkan Memphis Depay yang datang dari PSV dengan hype begitu besar ke Manchester United tapi lebih sibuk merebut sorotan lampu pertunjukkan daripada berkontribusi untuk tim.

Di akhir GW 13 Deulofeu yang hanya dipilih oleh 2,5% manajer FPL ini setara dengan Riyad Mahrez, David Silva dan Christian Eriksen dengan torehan 6 assist dan hanya kalah dari playmaker Arsenal, Mesut Ozil, yang 11 assist-nya paling subur di Premier League. 

Melihat jadwal Everton pada lima GW selanjutnya melawan Bournemouth, Crystal Palace, Norwich, Leicester, Newcastle dan Stoke rasanya aman untuk beranggapan pundi-pundi assist Deulofeu akan bertambah.

Finger crossed for differential points!

Sunday, 5 July 2015

Bila De Gea Benar Hengkang


"Sedikit banyak hubungan De Gea dengan klub lebih menyerupai Cristiano dan Man. United silam; sehangat pasangan di tiga bulan pertama."


Ketukan di pintu paling ujung di Old Trafford terdengar. Setelah diintip ternyata tamunya tidaklah asing. "Berapa untuk De Gea?" tanya Real Madrid tanpa basa-basi.

Beberapa bulan terakhir kemungkinan kiper David de Gea untuk meninggalkan Manchester United semakin sering terdengar setelah durasi kontraknya tidak kunjung diperpanjang. Hal ini disambut pihak Madrid sebagai kesempatan mendapatkan tanda tangan pria Spanyol tersebut.

Pasalnya, Madrid butuh pengganti Iker Casillas yang aksinya tidak lagi segemilang era 2000-an sementara di antara nama-nama tenar kiper asal Spanyol hanya De Gea yang paling mencuat. Lumrah bila Los Merengues niat betul untuk mendapatkan pria 24 tahun itu. 

De Gea memang anak lokal ibukota Spanyol tersebut--meski dari seberang kota yang berbeda. Bila Anda pasang telinga baik-baik, Anda dapat mendengar suara sumbang para suporter Atletico Madrid di tengah negosiasi panas antara Man. United yang rumornya juga menyertakan wakil kapten Sergio Ramos sebagai alat tukar guling.

Walau begitu, Madrid tidak terpengaruh dengan pendapat suporter rival. Juara Liga Champions 10 kali itu ingin mendapatkan De Gea, entah musim ini atau musim berikutnya. Yang jelas tujuan telah ditetapkan.

Bagi Man. United, kepindahan pemain the Red Devils ke Madrid pun bukan hal yang baru. David Beckham, Ruud van Nistelrooy, Gabriel Heinze, dan Cristiano Ronaldo menjadi pemain-pemain yang terdahulu menyeberang menuju ke bagian Eropa yang lebih hangat tersebut.

Akan tetapi, ada beberapa perbedaan kondisi dari sejumlah pemain itu. Beckham dilepas setelah berseteru dengan Sir Alex Ferguson dan tidak ada yang lebih besar darinya di klub. Sedangkan Van Nistelrooy menjelang masa akhir keemasannya di Premier League yang menuntut kebugaran fisik prima untuk terus dapat bersaing pada tingkat tertinggi.

Lalu Heinze, rasanya tidak ada yang kehilangan dengan pria Argentina satu ini mengingat ia sempat menyebut Liverpool sebagai potensi klub tujuan jelang masa akhir pengabdiannya. Sementara Cristiano, ceritanya dapat menjadi peringatan bila Man. United benar melepas De Gea di musim panas ini.

Cristiano menghabiskan enam musim untuk bermain bagi juara Liga Inggris. Selama kurun waktu tersebut ia membantu Man. United jadi juara Premier League, Piala Liga, Piala FA, Liga Champions, Piala Dunia Klub. Dan ratusan gol ia lesakkan ke gawang-gawang lawan. Jasanya dirasa telah cukup sehingga pemain yang identik nomor 7 itu pun dilepas dengan 80 juta Pound--status termahal saat itu.

Ternyata di Madrid Cristiano terus berkembang. Tidak sedikit yang merasa nilai transfer kapten timnas Portugal itu masih terlalu murah bagi Madrid. Maka tidak jarang terdengar chant dari tribun di Old Trafford yang berharap pahlawan mereka dapat kembali ke Greater Manchester.

"Put him on a plane. Bring him back from Spain. Viva Ronaldo!" begitu bunyi sepenggal kalimat dari chant gagal move on itu.

Masih Sayang
Melihat situasinya, pacar dari Edurne Garcia ini tengah dalam performa terbaiknya. Sedikit banyak hubungan De Gea dengan klub lebih menyerupai Cristiano dan Man. United silam; sehangat pasangan di tiga bulan pertama.

Di tengah kondisi lini belakang yang, dalam bahasa sopannya; memprihatinkan, kiper yang pernah mengangkat trofi Piala Eropa U-17 dan U-21 itu tetap sanggup mengamankan gawang dengan gemilang dan menjawab kritik yang pernah kerap ditujukan kepadanya.

Man. United benar-benar rindu akan penampilan apik di area pertahanan dengan hadirnya nama besar seperti Steve Bruce, Jaap Stam, Gary McPallister, hingga Rio Ferdinand dan Nemanja Vidic karena mereka yang sekarang berdiri di depan gawang De Gea punya tingkat penampilan layaknya servis pengiriman paket Lazada.

Karena performa top itulah De Gea sukses terpilih sebagai Sir Matt Busby Player of the Year pada dua tahun berturut-turut di 2014 dan 2015. Pencapaian yang sama berhasil digaet oleh nama-nama berikut: Roy Keane (1999 & 2000), Van Nistelrooy (2002 & 2003) dan Cristiano (2004, 2007 & 2008). Mereka bukan pemain sembarangan. De Gea pun bukan pemain sembarangan.

Kehilangan De Gea jelas akan meninggalkan pekerjaan rumah yang berat bagi Louis van Gaal dan Ed Woodward. Mencari kiper berkualitas bukan tugas yang dapat diselesaikan layaknya membalikkan telapak tangan. Apalagi kiper yang satu ini terpilih ke dalam PFA Team of the Year dan kini mulai menampakkan potensi sebagai sosok pengganti Peter Schmeichel. 

Jika De Gea jadi hengkang maka tekanan akan datang bukan hanya dari dari media tapi juga dari suporter, yang tampak masih sayang dengan sang kiper. Lihat saja kolom mention pada lini masa Twitter pria yang membela timnas Spanyol sejak kelompok usia 15 tahun itu di mana belakangan terus dihujani desakan untuk memperpanjang kontrak. 

Bila begini, rasanya sih bakal ada chant gagal move on jilid dua. Terlebih lagi melihat kiper Man. United yang tersedia, antara: Anders Lindegaard, yang kerap bermain oke tapi tidak lebih, dan Victor Valdes, yang dianggap sudah melewati masa terbaiknya sehingga sempat sulit mencari klub bernaung.

Sunday, 21 June 2015

Siapa Sih: Thomas Tuchel


"Sosok yang dikatakan oleh Jupp Heynckes telah ditakdirkan untuk menangani penguasa Bundesliga, Bayern, suatu hari nanti, tapi apa yang membuatnya begitu diincar?"


Perjalanan bersama antara Borussia Dortmund dan pelatih eksentrik Jurgen Klopp telah mencapai akhir. Dan lembaran baru segera dibuka.

Tidak ada yang menyangka musim 2014/2015 menjadi musim terakhir Klopp di Dortmund. Pasalnya semusim yang lalu semua berjalan baik-baik saja. Memang selalu ada kemungkinan unutk membela klub-klub di Premier League, tapi tidak didahului dengan momen krisis.

Dortmund mengawali musim berstatus sebagai runner-up. Hanya kalah dari Bayern Munich yang menorehkan rekor menjuarai Bundesliga tercepat sepanjang sejarah. Tapi kenyataannya Klopp kehilangan kontrol atas die Borussen. Mats Hummels dan kawan-kawan harus merasakan ketirnya peringkat bontot.

Bagai Lazarus, Dortmund bangkit. Di 2015 mereka memenangkan sembilan dari 17 pertandingan di liga, berbanding dengan hanya empat kali menang dalam paruh pertama. Lebih menakjubkan lagi klub yang identik dengan warna kuning dan hitam ini berhasil melangkah ke Liga Europa sebagai tim peringkat tujuh klasemen.

Akhir musim yang dramatis, meski gagal dipermanis dengan trofi DFB-Pokal sebab kalah dari VfL Wolfsburg: Namun, tulisan ini bukan soal Klopp. 
Kurang lebih sebulan sebelum Bundesliga berakhir, tepatnya pada 19 April, Dortmund telah mengumumkan Thomas Tuchel sebagai suksesor. Mantan pelatih Mainz tersebut ditunjuk menggantikan pendahulunya yang juga pernah melatih klub yang sama.

Tuchel adalah pelatih muda potensial yang membuat banyak klub-klub besar Jerman memasukkan namanya ke dalam wish list. Sosok yang dikatakan oleh Jupp Heynckes telah ditakdirkan untuk menangani penguasa Bundesliga, Bayern, suatu hari nanti, tapi apa yang membuatnya begitu diincar?

Dari Swabia
Karier Tuchel tidaklah mulus. Ia mengenyam pendidikan di akademi FC Augsburg (yang 27 tahun lalu masih berkutat di divisi empat liga Jerman) dan mendapat kesempatan pertama sebagai pesepak bola profesional untuk membela Stuttgarter Kickers (klub divisi dua yang bermarkas di Baden-Württemberg). Ia yang saat itu masih berusia 19 tahun tidak sanggup menembus tim utama dan hanya bertahan selama dua musim sebelum pindah klub.

Kemudian SSV Ulm (klub divisi tiga regional) menjadi tempat baru Tuchel melanjutkan karier. Klub ini menjadi tempat pria kelahiran Swabia tersebut menghabiskan empat musim, hingga kariernya berakhir akibat cedera parah di bagian tulang rawan basal. Akhirnya pada usia 25 tahun ia memutuskan sudah cukup dan tidak ada lagi berlari-lari di tengah lapangan.

Sebagaimana jalannya nasib; ketika satu pintu tertutup maka pintu lain akan terbuka, dan Tuchel memutuskan mengambil langkah untuk terus maju dalam dunia sepak bola. Dalam usia yang masih terhitung muda, bahkan dalam ukuran usia pesepak bola, Ia pun terjun ke dunia kepelatihan. 

Tuchel yang merasa nyaman di Baden-Württemberg melatih klub muda VfB Stuttgart, dan ia bagus dalam melakukan pekerjannya. Ia sukses menjadikan die Schwaben menjuarai Bundesliga U-19 di 2005. Di sinilah ia bertemu dengan bakat-bakat seperti Sami Khedira, Andreas Beck, Adam Szalai dan Sebastian Rudy. 

Kesuksesan di Stuttgart membawa Tuchel pindah ke Augsburg semusim berikutnya. Setelah tiga musim ia memilih meninggalkan Jerman timur menuju barat untuk menangani FsV Mainz U-19. Di tempat baru reputasi pria yang berulang tahun pada 29 Agustus ini sebagai pelatih muda terus meningkat secara perlahan. Tangan dingin mempertemukannya dengan kesuksesan lain saat menjuarai Bundesliga U-19 di 2008.

Potensi tersebut menarik perhatian manajemen Mainz. Akhirnya, hanya setelah 12 bulan bertanggung jawab atas tim muda dan tanpa pengalaman menangani tim senior sama sekali, General Manager Christian Heidel mengambil langkah berani dengan menggeser Jorn Andersen yang sukses mempromosikan Mainz ke Bundesliga dengan pelatih tim muda mereka. Maka pada usia 35 tahun Tuchel resmi menangani tim utama Mainz.

Di Rhineland-Palatinate Tuchel terus mengutamakan para pemain muda. Di sini ia berhasil mengorbitkan Andre Schurrle dan meneruskan kerja samanya dengan Szalai. Ia juga punya pandangan sendiri tentang bagaimana sebuah tim seharusnya bermain (yang akan lebih banyak dibahas nanti).

Tuchel menyelesaikan musim perdana bersama Mainz di peringkat sembilan. Tidaklah buruk untuk pemula. Kemudian pada 2009/2010, musim kedua bersama die Nullfünfer, semua berjalan kian baik ketika ia meneruskannya dengan kesuksesan finis di posisi kelima dan karenanya menggapai tiket Liga Europa. 
Pencapaian tersebut adalah yang terbaik bagi klub yang telah berdiri sejak 1905 itu. Tak heran bila Schalke dan Bayer Leverkusen mulai melirik terhadap kemampuan sang pelatih.

Namun demikian, proyeksi terbang Mainz tidak melulu melawan gravitasi. Berkompetisi di Eropa ternyata menjadi beban yang terlampau berat bagi mereka. Mainz tidak dapat menunjukkan performa sama seperti musim 2010/2011. Selain tersingkir dari Liga Europa oleh tim semenjana Gaz Metan asal Romania, pada 2011/2012 dan 2012/2013 mereka harus puas bertengger di papan tengah klasemen.

Situasi ini menjadi pengalaman bagus bagi Tuchel. Ia merasa harus melakukan pendekatan lain untuk membangkitkan semangat anak asuhnya. Ia mendekatkan diri dengan para pemainnya di meja makan dengan tujuan merekatkan tim. Ia sadar mengenali karakteristik per individu dalam tim menjadi bagian penting dalam dunia manajerial, dan bahwa hasil di atas lapangan bukan melulu soal adu taktik.

Bicara soal taktik, meski usianya saat itu masih muda Tuchel tidak malu-malu bereksperimen baik dalam latihan atau saat bertanding.

Ala Tuchel
Tidak mungkin bagi Tuchel untuk menghindari perbandingan dengan Klopp pada musim pertamanya. Berbeda dengan Klopp yang gemar menginstruksikan strategi counter-pressing maka Tuchel lebih "santai"; ia menyusun taktik agar Mainz meredam serangan sebelum melancarkan pukulan balik dengan cepat.

"Ada gaya [bermain] tertentu yang dikaitkan dengan saya, yang kami peragakan di di Mainz: bermain mengandalkan kecepatan dan dengan tujuan menyerang. Saya menyukai hal-hal tertentu dalam sepak bola, seperti gaya bermain yang aktif, cara bertahan yang lugas dan menyerang dengan cepat," ujar mantan pemain bertahan itu kepada surat kabar die Zeit.

Bagi penggemar Dortmund, setidaknya kalian tidak perlu khawatir berlebihan soal kemungkinan flop dari penerus Klopp. Setidaknya tidak seperti David Moyes yang mengisi kepergian Alex Ferguson dari Manchester United; Tuchel tahu apa yang ia inginkan. Bahkan ia juga punya menu khusus dalam persiapan latihannya.

Tuchel kerap melakukan rhomb-training: istilah yang secara kasar dapat diartikan sebagai "sebuah bentuk", rhombus yaitu "permata", atau rhombi yang maksudnya "bentuk selain persegi". Di mana dimensi lapangan akan dibentuk dalam segi lima (permata) yang membatasi ruang gerak para pemain di kedua sayap sehingga mereka tidak bisa membawa bola sampai garis gawang dan mengarah ke tengah kotak penalti lawan.

Tidak hanya terbatas pada segi lima, bentuk lapangan permainan pun bisa saja menjadi lingkaran, atau dengan luas lapangan yang variatif: lebar 18m dengan panjang 75m atau lebar 70m dengan panjang 30m. Tergantung dengan kondisi yang diinginkan oleh Tuchel untuk mengantisipasi lawan. Latihan seperti ini dipercayai dapat membantu para pemain Mainz membayangkan skenario sesungguhnya ketika bertanding.

Latihan tersebut berhubungan dengan formasi 5-2-2-1 yang diterapkan oleh Tuchel di Mainz dalam keadaan netral; di mana para gelandang dan penyerang berdiri membentuk segi lima. Formasi ini akan berubah menjadi 3-4-2-1 ketika dua gelandang serang saat itu: Eric Maxim Choupo-Moting dan Nicolai Muller, bermain lebih ke depan mendukung Shinji Okazaki sebagai ujung tombak dengan kedua wing back membantu dari flank.

Tidak seperti gegenpressing yang bermain intens hampir selama 90 menit untuk memotong bola di lapangan lawan, Tuchel membuat tim asuhannya lebih fleksibel. Ia berusaha meminimalisir dampak serangan dengan strategi yang membiarkan lawan menguasai bola di lapangan sendiri. Dengan begitu mantan pemain belakang itu memberikan kesempatan bagi pasukannya untuk bernafas dan sebelum menyerang dengan efektif.

Meski demikian, dengan bermain lebih sabar bukan berarti Tuchel kerap bekerja sama dengan pemain berumur yang tidak kuat lari sana sini. Ia tetap mengandalkan pemain muda yang punya tenaga meluap-luap agar serangan dapat dieksekusi dengan cepat. Dan pemain yang lebih hijau seringkali mudah adaptasi dengan taktik baru, demi mengikuti keinginan Tuchel sebagai sosok yang berani bereksperimen.

Bagi Dortmund Tuchel bukan pilihan buruk, ia jelas punya prospek yang cerah. Toh, pada 2013/2014 grafik kemenangan Mainz kembali menanjak dengan hasil akhir menduduki peringkat tujuh klasemen dan sekali lagi lolos untuk berkompetisi di Liga Europa; kemudian sang pelatih hiatus semusim.

Persoalan yang lebih nyata bukanlah kemampuan Tuchel meramu taktik tapi bagaimana caranya mengatasi tekanan dengan memimpin tim yang memiliki reputasi dengan desakan jauh lebih besar dari Mainz untuk sukses; baik di Jerman atau Eropa.

  •  Artikel ini terbit juga di Sportsatu.com - http://www.sportsatu.com/opini/-119.html