Tuesday, 25 March 2014

Man. United dan Harapannya Melawan Bayern

English-German classic encounter, we know who's the winner anyway.
Segera setelah Manchester United dipastikan melaju ke perempat final Liga Champions, hal yang terbayang di kepala saya adalah lawan yang menanti. Dibandingkan dengan tim lain jelas anak asuh David Moyes bukan siapa-siapa.

Marca memang menuliskan perempat final Liga Champions kali ini adalah yang terbaik, memuat semua tim yang tampil bagus di liga masing-masing, PSG, Atletico, Real Madrid, Chelsea, Bayern Munich dan di antara mereka terselip Man. United. Seperti David Nalbandian di antara Roger Federer, Novak Djokovic dan Rafael Nadal, apa yang bisa dia lakukan? Kemungkinan besar hanya melengkapi jumlah pemain.

Lalu beberapa hari kemudian, Jumat, tibalah hari pengundian tim. Kemudian seorang teman, pendukung Arsenal, dengan antusias memberitahu Man. United akan bertemu Bayern. Twitter pun menggila, Setan Merah bertemu Si Merah, tidak ada kesempatan.

Semua yang bisa menggunakan akal sehat tentu sadar akan itu, bila boleh memilih lawan yang saya anggap paling realistis adalah Borussia Dortmund. Belakangan performa mereka sedang jalanan di Tangerang Selatan yang ditinggal walikotanya bolak-balik ke pengadilan, pendeknya, kurang sedap dipandang.

Namun apa mau dikata, lawan sudah ditentukan, Man. United akan melawan Bayern. Sekadar saran, bila ada dari Anda yang masih berharap Moyes bisa mengalahkan Guardiola maka ada baiknya Anda tetap tidur, mimpi Anda mungkin dapat mengabulkannya, mungkin. Dan jangan sekali-kali menyinggung tentang apa yang terjadi di Barcelona pada 1999.

Tapi di antara semua yang akan berjalan buruk bagi Man. United tetap punya hal positif untuk dinanti. Pertama, kebobolan hanya menghentikan menit bermain. Menit pertama, 15, ujung babak pertama, awal babak kedua, cepat atau lambat kita semua tahu Mario Mandzukic akan mencetak gol ke gawang David De Gea, untungnya jika hal itu tidak terjadi tebak siapa yang akan tertawa terbahak-bahak?.

Kedua, Man. United tidak perlu bersusah payah mendominasi permainan. Bahkan Manchester City pun tidak bisa melakukannya, tidak ada yang akan menyalahkan Wayne Rooney Cs. bila penguasaan bola berada di tangan Bayern, Guardiola sangat ahli dalam membuat tim asuhannya melakukan hal tersebut dan mengingat apa yang sudah-sudah melawan Barcelona, Anda bisa membayangkan sendiri, dan jika hal itu tidak terjadi tebak siapa yang akan tertawa terbahak-bahak?

Ketiga, percuma bicara tentang "Never Say Die United". Lupakan ingatan indah Anda tentang Man. United di era Sir Alex Ferguson, Anda kini bersama Moyes. Ditambah dengan laga pertama terjadi di Old Trafford, harapan terulangnya momen melawan Olympiakos sangatlah kecil, mikroskopik.

Yang justru lebih mungkin terjadi, jika entah bagaimana leg pertama memihak pada The Red Devils, Bayern akan membalikkan hasil tersebut di Allianz Arena, dengan penguasaan bola di atas 60%, operan terobos Thiago Alcantara, tembakan jarak jauh Toni Kroos, pemanfaatan ruang dari Thomas Muller, over-lap David Alaba, tapi jika hal itu tidak terjadi tebak siapa yang akan tertawa terbahak-bahak?

Siapa? Bukan pendukung Man. United tentunya, kekalahan ke-10 di Old Trafford dari rival sekota mereka (26/3) membuktikan apa yang ada di atas ini memang skenario yang akan terjadi. Sudah saatnya kalimat pamungkas, "lihat musim depan", diucapkan. Sekarang pun mungkin sudah terlalu terlambat.

Tuesday, 25 February 2014

Kekalahan Man. United Merupakan Jalan Pintas Bagi Moyes

This could happen, even though with lesser team.
Masih teringat bagaimana senangnya para pendukung Manchester United mendapatkan Olympiakos di babak 16 besar. Lawan mudah, begitu yang terpikir dan memang tidak disalahkan, siapa juga yang akan menjagokan tim yang pencapaian terbaiknya di Liga Champions hanyalah perempat final.

Asumsi tersebut ditambah dengan catatan tidak pernah kalah Man. United dari wakil Yunani itu. Optimistis, meyakinkan, mungkin juga meremehkan tapi kebanyakan suporter The Red Devils lupa tentang usaha David Moyes memecahkan rekor yang sebelumnya bahkan tidak terpikirkan di era Sir Alex Ferguson.

Ya, Man. United kembali kalah. Mengejutkan mungkin, tapi sebenarnya jika melihat performa tim terbaik Yunani tersebut maka kemenangan mereka memang kemungkinan yang masuk akal. Bagaimana tidak, di liga domestik Olympiakos adalah raja. Mereka juara liga 40 kali dan musim ini berjalan baik bagi klub berjuluk Thrylos (artinya legenda dan apa pun yang bisa mendapat julukan seperti itu tidak bisa dianggap remeh), menang 24 kali dan seri dua kali. Mau dibandingkan dengan penantangnya dari Inggris? Rasanya kita semua mengerti performa Si Setan itu.

Tapi mari mengenyampingkan hal tersebut, toh Man. United juga rajanya Liga Inggris. Tidak seimbang membandingkan Hercules, Apollo atau Zeus dengan Benedict Cumberbatch dan Tom Hiddleston. Yang terlihat daripada permainan fantastis tuan rumah adalah Moyes gagal menunjukkan permainan standar, atau mereka tidak bermain sama sekali, dari skuat asuhannya. Lesu, tampak bingung, mendung. Bisa jadi juga sudah ada orang di luar sana yang mulai merasakan iritasi kulit karena permainan Man. United sangat terpaku pada umpan sayap.

Terlebih lagi melihat duet Michael Carrick dengan Tom Cleverley. Melihat Carrick-Cleverley bersamaan sejak menit awal seperti membeli tiket ke rumah hantu atau atraksi semacamnya, Anda tahu meski dapat melaluinya tadi selalu ada perasaan was-was. Benar saja, dua gol Olympiakos tercipta dari posisi yang sama, di depan kotak penalti dan tanpa mendapat kesulitan dari dua yang namanya baru disebut. Rasanya buruk, sama buruk ketika melihat muka Anwar Congo. Sepet.

Memang merisaukan dengan adanya kemungkinan terdepak di Liga Champions oleh Olympiakos, mereka sama sekali tidak dianggap sebagai kuda hitam, bahkan mungkin tidak ada yang melihatnya sebagai kuda. Namun jika mindset kita diputar sedikit kekalahan ini hanyalah usaha Moyes menaikkan profil dirinya.

Terakhir kali Man. United mampu membalikkan kekalahan 2-0 di leg pertama dan terus melaju ke ronde selanjutnya di Liga Champions terjadi pada 1984, saat itu bahkan mengalahkan Barcelona (masih diperkuat Diego Maradona). Tentu akan sangat keren bila Moyes bisa mengulang kejadian serupa dan membalikkan keadaan, ejakulasi! Meski lawannya hanya Olympiakos tapi dapat dipastikan menjadi cerita yang menghiasi tajuk utama koran olahraga Inggris di pagi harinya. 

Jika ada teman Anda yang mengatakan, "Lebay nyet, lawannya cuma Olympiakos". Jangan ragu untuk membalasnya dengan cerita hebat tentang siklus dari 30 tahun yang lalu. Karang saja sendiri, semakin banyak bumbu semakin bagus. Siapa yang dapat menyalahkan Anda, suporter Man. United terlalu sering dihadapkan pada kenyataan pahit belakangan ini.

Yang justru menarik kekalahan ini berpotensi menjadi cara curang, atau halusnya jalan pintas, Moyes untuk lepas dari tekanan, untuk mendapatkan pengakuan bahwa timnya memiliki DNA "Never Say Die United" yang sama dengan yang dibangun oleh Ferguson. Lalu bagaimana jika gagal? Ternyata Olympiakos justru mendapatkan kemenangan pertama di Old Trafford. Loh, yang seperti itu bukannya sudah biasa. Lagipula ada kesepakatan bersama bahwa Moyes memang pantas ditahbiskan sebagai "Sang Manajer Pemecah Rekor", seperti yang dikatakan Pangeran Siahaan.

Monday, 10 February 2014

Moyes yang Menyilang dengan Salah

Bukan salah jawab, lebih tepatnya salah baca soal

Manchester United kali ini memang tidak kalah, tapi bukan berarti tidak kalah mengecewakan. Bukan karena permainan negatifnya tapi justru karena ketidakmampuan Manchester Merah beradaptasi dengan jalannya pertandingan. Skor akhir tertulis 2-2, dengan gol Darren Bent menceploskan bola ke gawang tanpa kawalan--David De Gea lagi tiduran (jatuh)--di menit 94. 94 dari 95 men!

Jadi begini, bagi yang kebetulan tidak melihat pertandingan melawan tim asuhan Rene Meulensteen, Man. United sama sekali tidak bermain buruk, kecuali lini belakang yang tidak bisa dihitung karena mereka memang buruk sejak awal musim. Penguasaan bola Setan Merah mencapai 75%, mereka melakukan lebih dari 700 operan berbanding 200-an, diantaranya 82 umpan silang harus diakui semua tampak berjalan mulus tapi, dan ini penting, hanya 18 yang mencapai sasaran. Tanpa satu pun yang berhasil dikonversi menjadi gol.

David Moyes mengingatkan saya dengan anak kuliahan yang belajar kebut semalam sebelum ujian. Entah apa yang dan stafnya persiapkan namun mereka tampak tidak punya rencana cadangan. Mungkin mereka terlalu banyak bermain FIFA dan hanya mempelajari satu bab dari sekian banyak yang ditugaskan oleh dosen, mereka tidak menyiapkan jawaban yang cocok dengan pertanyaan dari Pak Dosen Meulensteen, sehingga apa pun soalnya jawabannya selalu, "serang dari samping" atau agar sedikit variasi "umpan silang", meski keduanya toh sama saja, sama-sama salah.

Memang kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Moyes, suksesor Sir Alex Ferguson ini mungkin terpengaruh karena banyaknya jumlah pemain sayap Man. United yang bisa beroperasi sebagai sayap. Lumrah jika eks gaffer Everton itu mengira bermain dari samping berarti mengandalkan umpang silang. Padahal tidak selalu begitu.

Ferguson pun yang identik dengan permainan sayap konvensional pernah memiliki Cristiano Ronaldo, jelas pemain Portugal itu bukan orang yang paling sering mengirim umpan silang, atau formasi tiga penyerang mengandalkan Ronaldo, Wayne Rooney dan Carlos Tevez. Setelah melewati masa David Beckham baru memasuki era Luis Nani, Ashley Young dan Antonio Valencia kemudian Man. United kembali memperbanyak jumlah operan silang mereka. Bukan berarti Moyes harus terpaku pada hal itu.

Ingat, manajer yang baru ini membeli Juan Mata, yang sebenarnya lebih merupakan pemain nomor 10, begitu pun adanya Shinji Kagawa. Mereka bisa menyalurkan bola dari tengah dengan bola-bola pendek mengingat Paul Scholes tidak ada lagi untuk mengirim bola jauh dari belakang mungkin langkah menaikan titik vokal serangan agak ke depan bisa dicoba sebagai variasi.

Sayangnya Mata punya potensi menjadi Juan Veron kedua, setidaknya jika musim depan tidak ada perubahan berarti dari segi taktik. Saya bisa tebak bila Moyes tinggal di Tangerang Selatan dan harus ke Bandung dia akan bersikeras melewati tol JORR meski harus bermacet-macetan karena perbaikan jalan tol sekitar Pasar Minggu, harus ada yang mengingatkannya bahwa sedikit memutar lewat tol dalam kota tak apa, jauh lebih lancar (bukan di jam pulang-pergi kantor), asal mau coba. 

Pada akhirnya, Moyes menyilang jawaban yang salah, karena menjawab soalnya dengan mengisi bundaran yang tersedia, jangan lupa pensil 2B-nya.

Thursday, 2 January 2014

Musim Man. United Buruk? Yang Benar Saja


"Jadi pindah?" "Bebas, gue ngikut aja"
Manchester United adalah Sir Alex Ferguson, cerita sukses mereka memang bisa dirunut dari masa kepemimpinan Sir Matt Busby tapi Man. United tidak akan menjadi brand mendunia jika bukan karena tangan besi penjelajah Skotlandia tersebut, yang pertama disebut, tentu saja. Era Premier League menjadi penanda masa keemasan bagi Setan Merah dan pendukungnya, setidaknya sampai Fergie memutuskan pensiun.

Berganti masa memang tidak mudah, bagi siapa pun, bagi apa pun, sama halnya untuk Man. United. Mengarsiteki klub tersukses di Inggris ini bukan seperti mengganti baterai habis. Satu orang Skotlandia tidak sama dengan orang Skotlandia lainnya. David Moyes “naik jabatan”. Dari seorang kandidat suksesor menjadi pemangku jabatan baru yang meneruskan kiprah Ferguson, setidaknya begitu rencananya.

Tapi nyatanya tidak semudah itu. Semasa jabatannya di Everton memang beberapa kali Moyes menjadi musuh yang sulit ditaklukkan oleh Man. United di Goodison Park. Hanya saja curriculum vitae sependek itu bisa jadi, belum cukup, hal inilah yang ditakutkan oleh suporter, pendukung, penggemar The Red Devils. Toh Moyes memang belum pernah juara apa pun, beda halnya dengan Ferguson kala menginjakkan kaki di Manchester.

Entah keputusan Ferguson menunjuk Moyes benar atau salah, adalah pertanyaan yang sulit, sukar dijawab, bahkan diterawang oleh Mama Lauren sekali pun. Jika dinilai dari setengah musim pertamanya tentu saja jawabannya mantan pemain Glasgow Celtic itu orang yang salah, Old Trafford yang diagung-agungkan menjadi Teater Mimpi Buruk. Namun, saya bosan bicara tentang itu, apabila Anda mencari jawaban, saya punya untuk sementara ini. Bilang saja, “Sir Alex juga ngga langsung sukses kali!”. Padahal kita tahu kondisi saat itu dan ini jauh berbeda, berdoa saja lawan bicara Anda bukan penggemar sejarah sepak bola.

Ini yang coba saya tulis, saya adalah penggemar Man. United walau harus diakui bukan yang paling fanatik. Bagi saya sepak bola terlalu indah untuk ditujukan pada satu klub saja, apalagi yang berada nun jauh di sana. Bukan berarti saya tidak peduli dengan keterpurukan Manchester Merah itu: terancam tidak bermain di Liga Champions musim depan, pertahanannya yang rapuh, bersaing dengan klub yang biasa berada di papan tengah seperti Newcastle United, Everton, Tottenham Hotspur (dengan Tim Sherwood, yang baru beberapa pertandingan menjadi manajer), dan kalah empat kali di Old Trafford pada setengah musim tidak bisa dibilang pengalaman untuk dikenang. Hanya saja, ada hikmah di balik setiap kejadian. Oke, yang barusan itu klise tapi lihat dari sudut pandang ini.

Anda telah dimanjakan oleh Sir Alex. Tidak pernah keluar dari tiga besar sepanjang perjalanan Premier League, curang menurut teman-teman Anda yang pendukung Liverpool. Boleh dibilang seperti memakai gameshark. Meski ada kalanya di awal musim terombang-ambing tapi dalam hati Anda selalu ada rasa nyaman, dari kepastian bahwa Anda percaya Sir Alex mampu dan tidak akan mengecewakan Anda. Well, tidak ada lagi Sir Alex. Tidak ada lagi jaminan prestasi. Apabila Manchester United adalah Sir Alex, maka yang kita tonton setiap pekan di 2013/2014 ini apa? Ini juga Manchester United, yang lebih asik. Lebih gila. Yang bukan membuat Anda berdecak kagum tapi berteriak kesal. “aduh” “yaelah” “kok gitu dah” “EVRA!”, dan lain-lain. Bila sebelumnya Anda menantikan menit-menit akhir sebagai Fergie Time saya yakin kini Anda menjadi was-was ketika Moyes Time tiba.

Daripada menyesali Anda memilih merah sebagai warna Anda, ada cara lain yang lebih mudah. Jangan dilawan. Enam kemenangan berturut-turut bukanlah apa-apa, dulu, manisnya tiga poin hanya dibicarakan ketika melawan empat-lima tim teratas, dulu, tapi kini berhadapan dengan Hull City sudah bisa membuat Anda olahraga jantung. Anda tidak lagi dihibur secara Hollywood dengan happy ending-nya, selamat datang di festival film indie komunitas film pendek antar mahasiswa, yang di dalamnya ada selipan, “idenya bagus nih tapi …”

Anda dihadapkan pada proses, bukan lagi hasil akhir. Anda belum terlambat, lihat proses Adnan Januzaj sebuah bakat bersinar Eropa yang harus bertranformasi dalam tim terpuruk ini, lihat perjalanan karier Shinji Kagawa yang tampil terbatas di tim terpuruk ini, Wayne Rooney yang berkorban menekan egonya dan lebih banyak bermain jemput bola demi tim terpuruk ini, Robin van Persie yang kini mulai cedera di tim terpuruk ini. Catat semua hal-hal yang tidak buruk itu dan rayakan semua kesuksesan kecilnya, cetak gol melawan Newcastle sama manisnya melawan Liverpool, melewati posisi Spurs sama bagusnya menghadapi Chelsea. Semua yang kecil ini menjadi besar sekarang.

Musim yang mengecewakan? Tidak juga. Setiap pekan menjadi pertandingan besar yang pantas dinantikan. Kesalahan apa lagi yang dibuat Jonny Evans Cs. di belakang, masihkah David Moyes ragu memasangkan Kagawa sebagai playmaker, kapan Wilfried Zaha turun sebagai starter, apa jalan keluar yang bisa membuat semua potensi pemain ini menjadi poin-poin berhadiah tiket Liga Champions, semua lelucon ini begitu buruk hingga akhirnya menjadi lucu, pantas ditertawakan. Musim yang menghadirkan senyum tawa, ya, itu dia.

Thursday, 14 March 2013

De Toekomst, Denyut Jantung Ajax





Lanjutan Liga Champions. Di Nou Camp, Barcelona menang besar 4-0 dari AC Milan. Sementara itu di Schalke, salah satu alumni terbaik Ajax bertualang selangkah lebih baik dari kompatriot PSV-nya. Hari yang baik untuk sepak bola Belanda.

Semua orang sudah tahu bahwa faktor di balik keberhasilan Barcelona menjadi tim sepak bola terbaik dekade ini berkat campur tangan Johan Cruijff yang memberikan sentuhan pada gaya bermain serta pengembangan bakat muda di La Masia.

Bukan sebuah kebetulan final Piala Dunia 2010 mempertemukan Belanda dan Spanyol ada aura total football yang kental di dalamnya (walau akhirnya Bert van Marwijk memainkan sepak bola pragmatis yang membuat Cruijff malu pada tim nasionalnya sendiri), di dalamnya ada tujuh pemain lulusan De Toekomst dan tujuh pemain dari La Masia. Jika karena popularitas Barcelona sendiri begitu melambungkan nama La Masia, bagaimana dengan De Toekomst? Yang dikatakan oleh Frank de Boer sebagai denyut jantung Ajax Amsterdam.

Toekomst yang berarti "masa depan" bisa dibilang bukan taman bermain bagi para bakat terbaik sepak bola Belanda, lebih seperti pabrik; jika kualitas Anda tidak sesuai standar maka ucapkan au revoir. Di Toekomst ada berbagai grup umur, dari 7 sampai 19,  difasilitasi dengan 8 lapangan dimana setiap harinya melibatkan 200 anak akademi Ajax dengan gedung berlantai dua tingkat sebagai tempat fasilitas olahraga, kelas dan ruang staff.

Langkah pertama Anda sebagai pemain akan terus dimonitor dan setiap tahunnya performa Anda akan dievaluasi, tidak setiap orang mendapat kesempatan untuk kembali, mungkin sebagian dari Anda akan mengatakan sistem ini terlalu keras untuk pemain muda tapi memang seperti inilah dunia sepak bola modern.
Urvin Rooi ayah dari Dylan Donaten Nieuwenhuys salah satu didikan Toekomst sejak umur 7 tahun bercerita kepada Michael Sokolove dari New York Times identitas anaknya sebagai bagian dari Ajax terbentuk juga dari gelas minumnya yang berlogo Ajax, begitu juga dengan piyama Ajax yang dikenakan saat tidur, tentu dengan selimut Ajax pula.

Selain itu, identitas mereka juga  dibentuk sejak dini dengan bentangan foto-foto legenda seperti Cruyff, Davids, Van Basten, Kluivert hingga Sneijder menghiasi Toekomst dan dari sinilah gaya permainan mereka yang berpatron pada filosofi total football atau ideologi yang disebut oleh Jon Olde Riekerink, direktur akademi Ajax, kepada Fifa.com dengan T.I.P.S (Technique, Insight, Personality dan Speed). Latihan mereka dilakukan secara berulang-ulang, "Mereka akan dilatih hal yang sama lagi dan lagi dan lagi, lalu beberapa kali lagi," ujar Van Der Wiel mengingat masa-masanya di Toekomst. 

David Endt kepada FFT juga menyuarakan hal senada bahwa latihan yang mereka lakukan bukanlah untuk tim lain, mereka hanya mengembangkan diri untuk Ajax dan total football. Bayangkan, saat Anda dilatih sesuatu yang sama selama belasan tahun pasti akan membuat Anda mahir. Tetapi uniknya, Ajax tidak hanya bicara sepak bola, saat Anda belum menginjak umur 13 tahun 40% dari porsi latihan Anda bukan spesifik mengenai olah bola. Justru judo dan senam, "Untuk melatih kemampuan dasar motorik", jelas Rene Wormhoudt, pelatih fisik dan kebugaran di Toekomst.

Namun, bukan berarti Ajax meraih sukses sendirian. Baik PSV, Feyenoord dan Alkmaar ternyata menginterpretasi metode pengembangan bakat muda Ajax, periode pertengahan 2000-an menjadi masa kelam Ajax yang surut prestasi hingga akhirnya metode pencarian bakat mereka mengalami perubahan.

Sebelumnya, Ajax akan menyebarkan 40 volunteers ke daerah sekitar Amsterdam untuk mencari bakat tetapi Nicolai Boilesen dan Christian Eriksen menjadi bukti anyar sayap mereka telah ekspansi ke negara-negara tetangga untuk mencari bakat. Mengikuti kata Simon Kuper di Soccernomics, jika Anda ingin mencari bakat terbaik maka pool bakat yang paling bagus adalah berasal dari populasi yang besar juga. Dalam kasus Ajax, boleh dibilang dominasi beberapa tahun ini membuahkan hasil.

Satu hal lagi, kita sebagai bangsa Indonesia tentu sudah paham bahwa bakat pemain bola Indonesia tergolong unggulan puluhan tahun silam dan seiring berkembangnya sains dalam olahraga ini, keadaan Indonesia semakin tertinggal hingga hiatus seperti sekarang. Di Milan kita mengenal MilanLab yang menggunakan sains dalam olahraga untuk memperpanjang umur atlit sedangkan Ajax mempunyai miCoach Performance Centre, hasil kerja sama dengan Adidas yang dapat meningkatkan teknik para pemain di Toekomst.

Dengan teknologi state of the art ini, Ajax memiliki "laboratorium" yang bisa merekam teknik tendangan seorang pemain dari sudut 360° lalu ada juga GPS yang memonitor data fisik seperti detak jantung dan jarak yang ditempuh pemain. Seperti, Anda tahu, manufaktur purwarupa Lexus LFA dan teman-temannya. Yang kemudian datanya akan dianalisis oleh dosen dan mahasiswa Universitas Amsterdam. 

Riset semacam ini tentu membutuhkan pengeluaran tetapi dengan pemasukan dari penjualan pemain seperti Wesley Sneijder, menjadi hal yang kecil, lagipula saat Anda menanam bayam Anda sendiri dan menjualnya untuk di ekspor ke negara lain, biaya perawatannya tidak seberapa. Suarez, Van der Wiel, Stekelenburg, Emanuelson, Ibrahimovic, Huntelaar, Van der Vaart, Pienaar, Heitinga, Vermaelen, Vertongen, bayangkan betapa indah kebun bayam Amsterdam ini, ingin mencicipi? Bisa saja, tentu harganya selangit.

De Toekomst memang benar-benar denyut jantung Ajax yang dapat membuat mereka hidup, baik dalam melanjutkan masa depan pemain juga finansial klub, sayang setelah 1995 status juara Eropa kini sulit diraih kembali setelah menjadi feeder club.

*Tulisan ini pertama muncul di Definefootball.com

Friday, 1 March 2013

Keajaiban kota Bern Meredupkan Sepak Bola Hungaria

Trofi Piala Dunia pertama Jerman


Jerman adalah negara sepak bola, itu kita semua juga tahu, namun bagaimana dengan Hungaria? Ada nama pemain terkini yang akrab di telinga kitaNama yang terlintas saat ini di pikiran saya hanya dua, Zoltan Gera dan Balasz Dzsudzsak, tahu nama pemain yang terakhir ini juga karena baca berita Eredivisie dan status saya sebagai pemain aktif Football Manager.

Sepak bola Hungaria adalah benda antik, yang memiliki nilai historis tinggi, artinya jika kita ingin bicarakan sepak bolanya kita harus melihat jauh ke dalam sejarah. Di periode saat sepatu bola masih berlapis seperti kulit badak dan Rusia masih adidaya dengan komunisme mereka, Hungaria termasuk salah satu negara yang permainan sepak bolanya dikagumi.

Cerita ini mengenai bagaimana Jerman pada setengah abad lalu belum memiliki banyak gelar juara seperti sekarang dan Hungaria kala itu bisa dibilang mempunyai reputasi permainan menyerang dengan total football versi mereka sendiri. Sebuah cerita mengenai bagaimana Jerman mensiasati The Mighty Magyars. Untuk anak-anak Jerman, mereka mengenal cerita ini dengan judul ”Das Wunder von Berne”.

Setahun sebelum gelaran Piala Dunia 1954 di Swiss, Inggris mengadakan friendly match dengan Hungaria, sang tamu merupakan peringkat pertama FIFA kala itu dan hampir 4 tahun tidak pernah kalah. Tetapi Inggris pun serupa, Wembley menjadi kandang angker dimana mereka selalu meraih hasil maksimal dengan sistem bermain WM karya Herbert Chapman yang dipuji-puji negara lain. Namun Inggris tidak akan siap dengan apa yang mereka hadapi hari itu, cikal bakal total football dari anak asuh Gusztav Sebes dan mungkin saja timnas terbaik yang tidak pernah mengangkat trofi Jules Rimet.

Sebes, pada 1953 silam memainkan social football menggunakan formasi 3-5-2 dimana Nandor Hidegkuti diplot sebagai deep-playing striker, mirip peran Rooney sekarang, dan hal ini merupakan sesuatu yang revolusioner pada masanya. Legenda sepak bola Inggris, Stanley Matthews, mengambarkan gaya permainan Hungaria waktu itu sebagai gabungan sepak bola Inggris yang banyak melibatkan para pemainnya berlari menusuk ke jantung pertahanan lawan dengan permainan operan pendek ala Amerika Selatan. Setelah hattrick dari Hidegkuti memberikan skor akhir 3-6, enam bulan kemudian Inggris mencoba menantang rasa penasaran mereka dengan berkunjung ke Budapest, hanya untuk menerima kekalahan kembali dengan hasil 7-1.

Di Piala Dunia 1954, pertemuan antara kedua finalis terjadi sejak fase grup. Jerman Barat, yang belum benar-benar pulih dari kondisi pasca perang berhadapan dengan tim terbaik di era tersebut. Tidak dapat dihindarkan, 8 gol pun bersarang di gawang Toni Turek hanya berbalas 3.

Dalam perjalanannya menuju final Puskas dkk berhasil membuat 25 gol dan kebobolan 7 gol diantaranya dari membabat Korea Selatan 9-0 dan mengalahkan Brasil serta Uruguay dengan 4-2. Sekedar perbandingan, Spanyol di 2010 mencetak 8 gol dan kemasukan 2, Italia di 2006 mencetak 12 gol berbanding 2 gol dan Brazil pada Piala Dunia 2002 berhasil memasukkan 18 gol dan kemasukan 4 gol, kalah jauh dengan selisih 18 gol Hungaria hingga semi final 1954, bahkan gelaran Piala Dunia kala itu memilki jumlah pertandingan yang lebih sedikit.

Hungaria dengan lini depan mereka yang diisi oleh Kocsis (11 gol), Hidegkuti (4), Puskas (3), Czibor (2) menapak final dengan jumlah gol per pertandingan paling tinggi disertai juga sebagai tim dengan rataan selisih gol yang tertinggi, praktis diperkirakan hanya mengalami formalitas ketika bertemu Jerman Barat di partai puncak yang berlangsung di kota Bern. Namun justru saat inilah Jerman Barat memiliki solusinya sendiri dan meraih gelar pertama mereka hingga kemudian salah satu timnas sepak bola terbaik di dunia.

Keajaiban pertama yang terjadi di Bern adalah guyuran hujan deras, kondisi lapangan yang tentu belum memiliki standar kualitas seperti zaman modern ini pun tidak ubahnya sawah, persis kondisi lapangan Stadion Benteng Tangerang, dan seperti kata pepatah, selalu ada hikmah dibalik kejadi buruk, disini Jerman Barat harus berterima kasih kepada kelihaian seorang pengrajin sepatu yang akan membuat produknya meledak di pasaran, sambutlah Adolf Dassler.

Setelah berpisah dari Gebruder Dassler Schuhfabrik, Adi Dassler yang berteman dekat dengan Sepp Herberger, pelatih Jerman Barat, memberikan apa yang menjadi andalan tim underdog ini melawan Hungaria yang tidak terkalahkan. Peranan pertama dari teknologi perlengkapan sepakbola, Adi Dassler mempunyai sepatu dengan pul yang bisa diganti dan segera memasang pul sepatu yang lebih panjang pada timnas Jerman Barat yang cocok dengan kondisi lapangan lumpur. Lain halnya dengan Hungaria, mereka tidak memiliki "kemewahan" seperti ini yang membuat akhirnya mereka kewalahan dengan kondisi lapangan.

Tidak hanya hujan dan Adidas, akal cerdik Herberger juga turut berperan. Sadar bahwa Hungaria calon kuat juara, Jerman Barat ternyata menurunkan pemain cadangan pada pertemuan pertama mereka di grup. Bagaimana caranya tidak ketahuan? Gampang, belum ada internet di tahun 1950-an dan seperti momen-momen kebangkitan Manga, Herberger menurunkan kesebelasan terbaik mereka di partai final, sesuatu yang luput dari pengamatan Sebes, ternyata terbukti sebagai strategi jitu. Selain itu kondisi Puskas yang dipaksakan bermain dalam cedera juga menjadi salah satu faktor berpengaruh.

Masih belum merasa aman, seperti yang diberitakan harian Tageszeitung, Erik Eggers dari Universitas Leipzig menuturkan teori bahwa punggawa Der Panzer disuntikan dengan "vitamin C" yang ternyata Pervitin (methamphetamine) yang merupakan stimulan bagi prajurit perang Jerman di Perang Dunia II, salah satunya yang menerima suntikan tersebut adalah penyerang FC Nuremberg, Max Morlock, pencetak gol pertama Jerman Barat dari comeback dramatis melawan Mighty Magyars yang unggul cepat 2-0 hanya dalam 8 menit pertama ternyata harus menerima kenyataan bahwa mimpinya menggapai titel juara dunia pupus berkat gol sang kapten, Der Boss, Helmut Rahn di menit 84.

Andai hari itu ada pawang hujan di Bern, andai Adi Dassler tidak berseteru dengan Rudolf, andai tim medis lupa membawa "vitamin" mereka, andai sang kapten tidak mengalami cedara, mungkin saja generasi emas Hungaria tersebut bisa menjadi juara dan kekal menjadi bagian sejarah sebagai tim nasional terhebat dalam sepak bola yang tertulis dengan tinta emas, sampai detik ini generasi baru Hungaria belum bisa mengulangi catatan gemilang pendahulu mereka.

Thursday, 28 February 2013

Rafa Who?

Pardon, did you say something?
Artikel ini mengenai tanggapan atas komentar Rafael Bernitez terhadap suporter dan manajemen Chelsea. Lengkapnya bisa dilihat di sini.