Showing posts with label Manchester United. Show all posts
Showing posts with label Manchester United. Show all posts

Monday, 3 November 2014

Man. United Punya Satu Tugas dan Mereka Gagal Melakukannya

Dari jauh-jauh hari sebelum derby Manchester, Manchester United sudah tahu tugas utama yang harus mereka lakukan saat bertandang melawan Manchester City, meski begitu tim asuhan Louis van Gaal tetap saja gagal melakukannya.

Oke, mungkin tidak benar-benar satu tugas. Tapi, bila yang satu ini gagal maka yang lain menjadi tidak berarti. Tugas yang dimaksud adalah menjaga pergerakan sumber gol Man. City, Sergio Aguero.

Kompatriot Aguero di Man. United, Marcos Rojo, sadar akan pentingnya hal tersebut. Toh, mantan menantu Diego Maradona itu memang akan selalu disorot. Sebelum derby dilangsungkan, ia telah mencetak 15 gol bagi the Citizens dari 16 pertandingan di seluruh kompetisi.

9 dari 15 gol itu dilesakkan di Premier League, membuat Aguero memiliki rataan 1 gol per laga dan pemain paling penting Man. City, sebab 47% gol yang dicetak legiun Manuel Pellegrini berasal dari pemain timnas Argentina ini.

"Ia sangat bagus dalam bergerak ke dalam posisi-posisi berbahaya. Anda harus sangat fokus dan berkonsentrasi menjaga pergerakannya dan mengetahui di mana ia berada dan kemungkinan celah yang ingin ia tuju. Anda harus melakukannya selama 90 menit," ujar Rojo dikutip dari BBC.

Sayangnya, Rojo tidak tahu ia hanya akan bertahan selama 55 menit, dan semakin tidak membantu ketika Chris Smalling melupakan tugas lainnya.

Dalam konferensi pers terakhir Man. United sebelum derby, Van Gaal sudah mewanti-wanti, "Kami tidak ingin kartu merah karena akan sangat sulit menang 11 vs 10 dan itu menjadi bagian dari persiapan kami."
38 menit pertandingan berjalan Smalling dikeluarkan wasit karena mendapatkan dua kartu kuning. Itu pun dengan dua kali pelanggaran yang membuat kata "bodoh" masih terlalu sopan dalam mendeskripsikannya.

Namun demikian, Rojo tetap menepati omongannya. Ia benar-benar menjaga penyerang Sky Blues itu, mengikuti pergerakannya. Pertahanan tinggi Man. United yang meninggalkan celah di belakang sebenarnya menguntungkan Aguero yang memiliki kecepatan tersebut tapi eks Sporting Lisbon menempelnya seperti pasangan yang baru jadian, tidak bisa lepas.

Hingga mimpi buruk Man. United datang di menit ke-55, Rojo mengalami cedera dislokasi bahu dan Aguero mendapatkan ruang untuk bergerak.

Sebelum Rojo ditandu keluar, Aguero "hanya" melakukan empat take ons dan tiga tembakan, dalam kurun waktu 30 menit kemudian sampai ia digantikan oleh Fernandinho, pesepak bola berusia 26 tahun berhasil hampir menggandakan kedua statistik itu menjadi tujuh take ons dan lima tembakan serta berhasil mencetak satu gol berselang enam menit setelah Rojo cedera.

Paddy McNair yang masuk menggantikan Rojo gagal mengikuti pergerakan Aguero di kotak penalti dan begitu pun Michael Carrick yang menjadi duet dadakannya. Maklum, saat gol terjadi barisan belakang Man. United dihuni satu pemain saya, satu gelandang bertahan dan dua bek berusia 19 tahun.

Diawali umpan terobos tajam dari Yaya Toure ke Gael Clichy, mantan bek Arsenal itu tidak buang waktu dan langsung mengirim umpan mendatar ke tengah yang disambut Aguero dengan sepakan keras. 1-0!

Berkat gol tersebut semakin menjadi-jadilah status Aguero sebagai predator berbahaya di dalam kotak penalti, terbukti dari 10 gol dari 10 laga Premier League ia hanya mencetak satu gol dari luar kotak terlarang.

Di sisa 15 menit terakhir Pellegrini memilih bermain berhati-hati mengingat tiga pertandingan sebelumnya berakhir tidak maksimal dan melindungi keunggulan mereka daripada mencoba menambah gol. Namun, lini depan Man. United pun tidak bisa berbuat banyak dengan penampilan Robin van Persie yang dibawah rata-rata.

Lalu, apakah ada sisi positif dari kegagalan Man. United menjalankan tugasnya? Tentu ada, the Red Devils boleh bergembira hanya kebobolan satu gol.

Tuesday, 28 October 2014

Halloween Biru-Merah di Old Trafford

Dunia merayakan bulan Oktober dengan Halloween. Oke, mungkin bukan hanya Halloween, ada juga Oktoberfest di bulan ini, tapi pesta menegak bir itu kurang cocok untuk apa yang ada di bawah ini. Perayaan Halloween di Old Trafford.

Jika Anda melewatkannya, pada akhir pekan lalu ada keriaan berbau hal-hal seram saat tim tandang terbaik hingga pekan kedelapan Premier League, Chelsea, bertamu ke markas dari Manchester United.

Seperti yang sudah disebutkan, Chelsea adalah tim tandang terbaik. Tamu paling kejam. Dari empat kali berkunjung ke rumah orang, the Blues sukses menggebuk tuan rumah tiga kali. Mereka bahkan hampir mengalahkan juara bertahan di Etihad, bila bukan karena gol penyelamat Frank Lampard di menit-menit akhir. Memang, belakangan Si Biru agak tidak sopan.

Berbanding terbalik, Man. United bukan tim yang unggul dari segi apapun. Bukan tim terbaik saat tampil di kandang, bukan tim paling jarang kebobolan, bukan juga yang paling agresif. Mereka, ya, Man. United, nama besar di Premier League yang tengah mencoba bangkit setelah mimpi buruk musim lalu.

Dan, dimulailah acaranya.

Sejak para tamu-tamu mencoba datang ke Manchester, rombongan dari London, sudah dipersulit. Jadwal kereta kacau balau karena ada perbaikan jalur secara mendadak. Beberapa bahkan gagal melawat ke stadion yang sejak berdiri sudah tua tersebut.

Itu baru awal, jalannya babak pertama membuat Red Army sering-sering baca doa. Saat kesempatan emas, dari Van Persie Si Robin, iya impiannya sejak kecil menjadi sidekick, di menit ke-23 misalnya, dengan aman dihalau Courtois Si Tembok. Padahal saat itu sang penyerang berdiri bebas tanpa penjagaan ketat bek Chelsea.

Lalu, ada pula kecerobohan barisan belakang Man. United yang tingkat santai memainkan operan di daerah pertahanan sendirinya selevel dengan korban-korban film horor yang entah kenapa justru lebih sering berjalan memasuki perangkap dari antagonis, mengundang celaka bagi dirinya sendiri.

Didier Si Muka Seram, yang di pesta kali ini menggunakan topeng mukanya sendiri, dan Eden Si Anak Surga, yang memakai kostum segitiga lengkap dengan tanda seru menandakan bahaya di dalamnya, membuat jantung pendukung the Red Devils olahraga cukup berat di babak pertama.

Baru bisa bernafas lega ketika pertunjukkan memasuki jeda, penonton tuan rumah kembali dibuat berkeringat dingin.

Bagaimana tidak, Didier yang sejak babak pertama menjadi momok akhirnya sukses membuat pendukung Man. United menutupi muka mereka. Buruk, bukan muka penyerang dari Pantai Gading itu, pertahanan sepak pojok yang buruk membuat Chelsea unggul, 1-0.

Tidak berhenti di situ, pertahanan Man. United terus dibombardir. Saat pendukung Setan Merah mulai gigit jari karena serangan pasukan Van Gaal Si Kepala Abnormal bermain setumpul terong belanda. Di sinilah Mourinho Si Spesial, di mana ia dengan cemerlangnya mengenakan nametag bertuliskan martabak, memainkan peranannya.

Diawali pesan tersembunyi dari Mourinho kepada Ivanovic Si Serbia Gila, bek asal...Serbia, itu menggunakan kekuatan pikirannya untuk mendorong Di Maria Si Malaikat, lengkap dengan ornamen sayap kecil di punggungnya, untuk terjatuh.

Tentu, hal tersebut ilegal. Peraturan Premier League jelas tidak membolehkan aksi psikis. Maka, Ivanovic harus keluar dari lapangan lebih dulu dan situasi ini menjadi momen kunci bagi Man. United,

Seperti kita tahu, pelanggaran berakibat sepakan bebas di menit-menit akhir itu berakhir dengan gol penyeimbang. Tepat pada tarikan nafas terakhir Van Persie mencetak gol dengan menghujam bola sekeras-kerasnya. 1-1! Lupa diri pria asal Belanda itu kemudian pamer dada kemana-mana. Langkah yang disebut "bodoh" oleh Van Gaal. Siapa pula yang mau melihat pentilnya ereksi.

Kemudian, saat peluit panjang berbunyi Mourinho mendatangi Van Gaal. "Sukes bos, pada ketipu," bisik pria asal Portugal itu.

It turns out, they tricked us to treat us. Happy Halloween
!

Wednesday, 8 October 2014

De Gea: Dari Krispy Kreme Hingga Petr Cech

Satu, dua, tiga, empat penyelamatan dilakukan David De Gea saat Manchester United menjamu Everton di Old Trafford.

De Gea memang tidak mendapatkan clean sheet, ia juga tidak mendapatkan gelar Man of The Match di matchday Premier League ketujuh. Namun, aksi-aksinya di laga tersebut menyelamatkan tiga poin bagi tim asuhan Louis van Gaal. Kini Man. United menempati peringkat empat besar di klasemen sementara.

Sejak awal laga kemungkinan Man. United untuk tidak kebobolan memang kecil, satu-satunya pertandingan musim ini di mana the Red Devils mendapatkan clean sheet terjadi ketika bertandang ke Burnley. Bisa dibayangkan bila mereka harus menghadapi Everton, yang hingga pekan keenam hanya kalah agresif dari Chelsea (19) dan menghasilkan sama banyak gol dengan Manchester City (12).

Hingga peluit panjang ditiup, Everton melepaskan enam tembakan ke arah gawang. Salah satunya, dan momen terpenting, ketika De Gea sukses menghalau sepakan 12 pas dari Leighton Baines, yang sebelum pertandingan ini sukses mencatatkan 14 gol dari titik putih secara berturut-turut.

Tidak ayal Daily Mail menuliskan, "stellar performance against Everton". Diikuti oleh Daily Mirror yang memasukkan nama De Gea dalam Premier League XI pekan ini. Pujian juga dilontarkan the Guardian, "he is in the finest form of his career." Media-media asal Spanyol juga tidak turut ketinggalan, tengok saja salah satunya saat Marca menampilkan "De Gea's heroics". Semua kompak mengacungkan jempol bagi kiper berusia 23 tahun tersebut.

Padahal tiga musim yang lalu De Gea begitu dibebani dengan tekanan sebagai kiper termahal Premier League dengan 18 juta Pound dan yang terutama menggantikan posisi Edwin van der Sar.

Dalam laga-laga awal performa juara Piala Eropa U-17 dan U-21 itu juga tidak membantu. Ia buruk dalam menentukan timing loncat, bola-bola dari luar kotak penalti Man. United pun masuk dengan mudah. Belum lagi masalah fisiknya. Badannya dianggap terlalu kurus dalam persaingan Premier League yang sangat mengandalkan fisik sehingga membuatnya sering kalah dalam memperebutkan bola di udara.

Kritikan mengalir deras, membuat tekanan yang begitu besar dan niat untuk menyerah sempat terlintas di benak De Gea. "Kadang-kadang" jawabnya tentang apakah ia pernah ingin meninggalkan Man. United. Beruntung ia mengurungkan niat tersebut.

De Donut
Di tengah keraguan apakah De Gea benar-benar bakat yang menjanjikan atau justru menjadi flop ketika datang dari Ateltico Madrid, sang kiper juga punya gaya hidup yang kurang mendukung.

"Ia hanya tidur dua atau tiga jam sehari. Jam makan utamanya pada larut malam," kata mantan pelatih penjaga gawang Man. United, Eric Steele, soal De Gea dalam United We Stand.

De Gea juga sempat tertangkap basah mengutil dari Tesco. Di tengah kritik sebagai kiper baru Man. United, ia bersama dua teman dari Spanyol terlihat di CCTV mengambil donat secara diam-diam dari rak jualan Krispy Kreme dan berusaha pergi tanpa membayar. Sebelum akhirnya diberhentikan oleh pihak keamanan.

Namun nasib baik kemudian datang pada kiper kelahiran Madrid itu. De Gea mulai fokus untuk memperbaiki performanya, terutama aspek fisik. Steele membuatnya berlatih berjam-jam di gim, hal yang tidak disukai si penjaga gawang tapi ia sadar semua bagian dari pekerjaan.

Perlahan tapi pasti De Gea mengukuhkan dirinya sebagai pemain favorit Red Army. Ia menjadi bagian penting dalam trofi Premier League terakhir persembahan Sir Alex Ferguson, sehingga pantas masuk ke Tim Terbaik Premier League 2012/2013. Performanya terus meningkat, terlebih lagi dalam musim lalu.

Di tengah-tengah buruknya performa Wayne Rooney dan kawan-kawan di bawah arahan David Moyes, kiper kedua timnas Spanyol itu dibuat bekerja keras mengamankan gawangnya. Tapi, De Gea berhasil. Setelah melewati musim pertamanya di mana ia mendapat tekanan untuk membuktikan diri, di musim kedua ia sukses menjawab harapan untuk menggantikan van Der Sar, maka di musim ketiga ia sukses merebut hati para pendukung Man. United. Tidak heran ia mendapatkan dua gelar sebagai Pemain Terbaik versi klub, dan versi suporter Man. United di 2013/2014.

Berganti manajer tidak kemudian membuat De Gea mengendurkan fokus. Justru bersama staff pelatih baru di bawah Van Gaal, De Gea terus berkembang. Khususnya pelatih kiper, Frans Hoek. Sosok yang juga menangani Van Der Sar ketika masih bermain untuk Ajax Amsterdam di era 1990-an.

"Salah satu pelatih terbaik yang pernah saya lihat," puji De Gea dalam Daily Mail.

Memang sejauh ini penempatan posisi De Gea terlihat lebih baik. Atau, lebih tepatnya "terlihat mengkhawatirkan" bagi Andres Lindegaard yang tampaknya tidak memiliki kesempatan menggeser kiper utama Man. United. Dan bila Petr Cech turut memberikan komentar positif, agaknya kita juga harus mengangguk pada tweet Mr. Zero yang satu ini.

"Some people will still say that the keepers shouldn't use the opposite hand :-) what about this ..." tulisnya, lengkap dengan emoticon.

Berawal dari keraguan, De Gea sukses membalikkannya menjadi kepercayaan, juga pujian. Setelah membuat jejak di level klub. Tujuan selanjutnya untuk menggeser Iker Casillas di level internasional bukan lagi misi yang mustahil.

Thursday, 10 April 2014

Evra Effect di Allianz Arena yang Menghibur

Saya tidak menyesal saat melewatkan pertandingan Chelsea dan Paris Saint-Germain, meski di dalamnya Anda dapat melihat comeback luar biasa skuat The Blues. Namun, dari jauh-jauh hari saya sudah antisipasi agar tidak kelewatan leg kedua Bayern Muenchen dan Manchester United.

Bukannya saya melihat Man. United punya harapan, saya justru menganggap "kemenangan moral" The Red Devils di Old Trafford dalam leg pertama sudah menjadi usaha maksimal yang bisa didapat David Moyes.

Jangan salah melihat rekor baik Man. United sebagai tim dengan catatan tandang paling bagus di Premier League, perolehan angka mereka tidak mampu berbuat banyak di Allianz Arena. Mudahnya, karena kedua tim berada di level permainan yang berbeda.

Lalu apa yang kita lihat di kandang Bayern? Bukannya Die Roten terlihat kesulitan mengembangkan permainan melawan Man. United? Tidak juga, bila Anda melihat penjabaran lengkap Michael Cox di The Guardian tentang laga itu, justru Pep Guardiola yang kelewat kreatif yang mempersulit diri sendiri saat sebenarnya permainan biasa mereka bisa mengalahkan sang juara bertahan Premier League.

Taktik yang diterapkan oleh Moyes tepat seperti yang diperkirakan Guardiola, "Dengan delapan atau sembilan pemain yang bertahan dengan lini pertahanan yang dalam."

Dengan pemahaman bersama bahwa Guardiola adalah salah satu pelatih sepak bola paling brilian saat ini, mengetahui soal bahkan sebelum tes dimulai rasanya sulit bila kemudian masih berharap Man. United bisa meraih hasil di leg kedua.

Rasanya, lolos ke semifinal seperti berharap pada keajaiban. Anda tidak mengharapkan kejadian Ole Gunnar Solskjaer dan Teddy Sheringham terulang setiap tahun, kan?

Tapi, setelah mengatakan hal tersebut Man. United juga tidak menyerah begitu saja, diawali dengan serangan di sisi kanan yang dikawal oleh Antonio Valencia, Mas Toni melepas umpan yang awalnya tampak tidak jelas juntrungannya, kepada siapa dan saat itu Danny Welbeck juga Wayne Rooney sama bingungnya, harus diapakan bola ini. Hingga Patrice Evra berlari dari belakang, BANG! masuk mulus yang membuat lini massa Twitter bergemuruh!

Ya, ya, gol itu bertahan tidak sampai semenit, 20-30 detik mungkin dan kita tahu setelahnya Bayern tersontak sadar untuk memainkan performa terbaik mereka, yang telah ditunjukkan sepanjang musim di Bundesliga.

Namun dengan gol Evra tersebut, tidak ada caci maki lebih dari yang awaknya diperkirakan, seperti ada perasaan, "ya bolehlah, udah usaha." Mengingat apa yang terjadi pada Man. United sepanjang musim, tersingkir oleh Bayern bisa jadi penghargaan tertinggi di Liga Champions musim ini. Toh, bila pasukan Guardiola menang pada pendukung Setan Merah bisa bilang mereka kalah dari sang juara, tim pertama di era Liga Champions yang sanggup mempertahankan gelarnya di Eropa.

Saat PDI-P melihat pengharapan pada Jokowi Effect mereka tidak seefektif yang awalnya diharapkan, pendukung Man. United sedikit lebih tenang dengan hujatannya kepada Moyes, semua berkat Evra Effect.

A glimpse of seconds when you dare to dream...

Thursday, 3 April 2014

Kemenangan Kecil Moyes

Sebelum leg pertama perempat final Liga Champions di Old Trafford dimainkan saya teringat bagaimana teman-teman saya mengucapkan "bela sungkawa" mereka setelah undian mempertemukan Manchester United dengan Bayern Munich.

Pertemuan dengan Bayern seakan menjadi hukuman mati, setidaknya begitu menurut teman lainnya yang merupakan suporter Arsenal. Dua musim berturut-turut tim kesayangannya tersingkir oleh Die Roten, tentu dia lebih dari paham bagaimana perasaan pendukung Man. United ketika dihadapkan dengan sang juara bertahan.

Belum lagi bila membahas tidak meyakinkannya permainan Man. United musim ini. Dari rekor menghadapi empat tim teratas Premier League, The Red Devils hanya sekali menang, atas Arsenal, bagaimana jadinya melawan Bayern yang musim ini sangat mendominasi Bundesliga? 53 pertandingan tidak terkalahkan berturut-turut, yang benar saja!

Terlepas dari kekhawatiran para pendukung Man. United, Moyes ternyata punya jawabannya sendiri.

Sadar tidak bisa mengungguli Bayern dalam urusan penguasaan bola, Moyes membiarkan bola di kaki pasukan Pep Guardiola dan menumpuk lima pemain di lini tengah dengan Wayne Rooney tampil sebagai ujung tombak serangan balik untuk menghadapi tujuh gelandang yang diturunkan tim lawan.

Moyes membuat permainan yang diterapkan Man. United simpel: tahan serangan Bayern, berikan kepada Rooney dan biarkan Danny Welbeck berlari mengejar bola. Melihat FC Hollywood harus melayangkan delapan tembakan dari luar kotak penalti dan hanya satu dari total 16 percobaan yang bersarang di gawang David De Gea, sah-sah saja menyatakan pertahanan Setan Merah menjalankan tugasnya dengan baik.

Bahkan skema tersebut hampir melambungkan Moyes ke langit ketujuh saat Rooney membuat Welbeck berada dalam kesempatan emas satu lawan satu dengan Manuel Neuer, yang kemudian terbuang percuma karena penyelesaian amatir anak lokal Greater Manchester tersebut.

Man. United yang dianggap sebagai underdog di laga ini tentu mendapatkan kemenangan moral. Hiburan setelah membuktikan diri mereka lebih dari sekadar pelengkap di perempat final, walau pada kondisi sebenarnya Bayern tetap diunggulkan berkat gol tandang mereka.

Selain agregat, hal lain yang membuat saya kian khawatir adalah kemampuan Guardiola membaca situasi dan membuat tim asuhannya beradaptasi untuk meraih kemenangan. Ketika banyak pihak merasa kesuksesannya saat menangani Barcelona diraih berkat bakat luar biasa para pemainnya, Andy West bersikeras pemuka sepak bola aliran La Masia itu dianugerahi bakat observasi luar biasa yang membuatnya unggul dibanding manajer lain.

Sejalan dengan keraguan saya terhadap Moyes dapat memberikan kejutan lain bersama Man. United pada leg kedua, semakin jelas hasil seri ini hanya kemenangan pertempuran kecil dan perang besarnya menanti di Allianz Arena.

Tuesday, 25 March 2014

Man. United dan Harapannya Melawan Bayern

English-German classic encounter, we know who's the winner anyway.
Segera setelah Manchester United dipastikan melaju ke perempat final Liga Champions, hal yang terbayang di kepala saya adalah lawan yang menanti. Dibandingkan dengan tim lain jelas anak asuh David Moyes bukan siapa-siapa.

Marca memang menuliskan perempat final Liga Champions kali ini adalah yang terbaik, memuat semua tim yang tampil bagus di liga masing-masing, PSG, Atletico, Real Madrid, Chelsea, Bayern Munich dan di antara mereka terselip Man. United. Seperti David Nalbandian di antara Roger Federer, Novak Djokovic dan Rafael Nadal, apa yang bisa dia lakukan? Kemungkinan besar hanya melengkapi jumlah pemain.

Lalu beberapa hari kemudian, Jumat, tibalah hari pengundian tim. Kemudian seorang teman, pendukung Arsenal, dengan antusias memberitahu Man. United akan bertemu Bayern. Twitter pun menggila, Setan Merah bertemu Si Merah, tidak ada kesempatan.

Semua yang bisa menggunakan akal sehat tentu sadar akan itu, bila boleh memilih lawan yang saya anggap paling realistis adalah Borussia Dortmund. Belakangan performa mereka sedang jalanan di Tangerang Selatan yang ditinggal walikotanya bolak-balik ke pengadilan, pendeknya, kurang sedap dipandang.

Namun apa mau dikata, lawan sudah ditentukan, Man. United akan melawan Bayern. Sekadar saran, bila ada dari Anda yang masih berharap Moyes bisa mengalahkan Guardiola maka ada baiknya Anda tetap tidur, mimpi Anda mungkin dapat mengabulkannya, mungkin. Dan jangan sekali-kali menyinggung tentang apa yang terjadi di Barcelona pada 1999.

Tapi di antara semua yang akan berjalan buruk bagi Man. United tetap punya hal positif untuk dinanti. Pertama, kebobolan hanya menghentikan menit bermain. Menit pertama, 15, ujung babak pertama, awal babak kedua, cepat atau lambat kita semua tahu Mario Mandzukic akan mencetak gol ke gawang David De Gea, untungnya jika hal itu tidak terjadi tebak siapa yang akan tertawa terbahak-bahak?.

Kedua, Man. United tidak perlu bersusah payah mendominasi permainan. Bahkan Manchester City pun tidak bisa melakukannya, tidak ada yang akan menyalahkan Wayne Rooney Cs. bila penguasaan bola berada di tangan Bayern, Guardiola sangat ahli dalam membuat tim asuhannya melakukan hal tersebut dan mengingat apa yang sudah-sudah melawan Barcelona, Anda bisa membayangkan sendiri, dan jika hal itu tidak terjadi tebak siapa yang akan tertawa terbahak-bahak?

Ketiga, percuma bicara tentang "Never Say Die United". Lupakan ingatan indah Anda tentang Man. United di era Sir Alex Ferguson, Anda kini bersama Moyes. Ditambah dengan laga pertama terjadi di Old Trafford, harapan terulangnya momen melawan Olympiakos sangatlah kecil, mikroskopik.

Yang justru lebih mungkin terjadi, jika entah bagaimana leg pertama memihak pada The Red Devils, Bayern akan membalikkan hasil tersebut di Allianz Arena, dengan penguasaan bola di atas 60%, operan terobos Thiago Alcantara, tembakan jarak jauh Toni Kroos, pemanfaatan ruang dari Thomas Muller, over-lap David Alaba, tapi jika hal itu tidak terjadi tebak siapa yang akan tertawa terbahak-bahak?

Siapa? Bukan pendukung Man. United tentunya, kekalahan ke-10 di Old Trafford dari rival sekota mereka (26/3) membuktikan apa yang ada di atas ini memang skenario yang akan terjadi. Sudah saatnya kalimat pamungkas, "lihat musim depan", diucapkan. Sekarang pun mungkin sudah terlalu terlambat.

Tuesday, 25 February 2014

Kekalahan Man. United Merupakan Jalan Pintas Bagi Moyes

This could happen, even though with lesser team.
Masih teringat bagaimana senangnya para pendukung Manchester United mendapatkan Olympiakos di babak 16 besar. Lawan mudah, begitu yang terpikir dan memang tidak disalahkan, siapa juga yang akan menjagokan tim yang pencapaian terbaiknya di Liga Champions hanyalah perempat final.

Asumsi tersebut ditambah dengan catatan tidak pernah kalah Man. United dari wakil Yunani itu. Optimistis, meyakinkan, mungkin juga meremehkan tapi kebanyakan suporter The Red Devils lupa tentang usaha David Moyes memecahkan rekor yang sebelumnya bahkan tidak terpikirkan di era Sir Alex Ferguson.

Ya, Man. United kembali kalah. Mengejutkan mungkin, tapi sebenarnya jika melihat performa tim terbaik Yunani tersebut maka kemenangan mereka memang kemungkinan yang masuk akal. Bagaimana tidak, di liga domestik Olympiakos adalah raja. Mereka juara liga 40 kali dan musim ini berjalan baik bagi klub berjuluk Thrylos (artinya legenda dan apa pun yang bisa mendapat julukan seperti itu tidak bisa dianggap remeh), menang 24 kali dan seri dua kali. Mau dibandingkan dengan penantangnya dari Inggris? Rasanya kita semua mengerti performa Si Setan itu.

Tapi mari mengenyampingkan hal tersebut, toh Man. United juga rajanya Liga Inggris. Tidak seimbang membandingkan Hercules, Apollo atau Zeus dengan Benedict Cumberbatch dan Tom Hiddleston. Yang terlihat daripada permainan fantastis tuan rumah adalah Moyes gagal menunjukkan permainan standar, atau mereka tidak bermain sama sekali, dari skuat asuhannya. Lesu, tampak bingung, mendung. Bisa jadi juga sudah ada orang di luar sana yang mulai merasakan iritasi kulit karena permainan Man. United sangat terpaku pada umpan sayap.

Terlebih lagi melihat duet Michael Carrick dengan Tom Cleverley. Melihat Carrick-Cleverley bersamaan sejak menit awal seperti membeli tiket ke rumah hantu atau atraksi semacamnya, Anda tahu meski dapat melaluinya tadi selalu ada perasaan was-was. Benar saja, dua gol Olympiakos tercipta dari posisi yang sama, di depan kotak penalti dan tanpa mendapat kesulitan dari dua yang namanya baru disebut. Rasanya buruk, sama buruk ketika melihat muka Anwar Congo. Sepet.

Memang merisaukan dengan adanya kemungkinan terdepak di Liga Champions oleh Olympiakos, mereka sama sekali tidak dianggap sebagai kuda hitam, bahkan mungkin tidak ada yang melihatnya sebagai kuda. Namun jika mindset kita diputar sedikit kekalahan ini hanyalah usaha Moyes menaikkan profil dirinya.

Terakhir kali Man. United mampu membalikkan kekalahan 2-0 di leg pertama dan terus melaju ke ronde selanjutnya di Liga Champions terjadi pada 1984, saat itu bahkan mengalahkan Barcelona (masih diperkuat Diego Maradona). Tentu akan sangat keren bila Moyes bisa mengulang kejadian serupa dan membalikkan keadaan, ejakulasi! Meski lawannya hanya Olympiakos tapi dapat dipastikan menjadi cerita yang menghiasi tajuk utama koran olahraga Inggris di pagi harinya. 

Jika ada teman Anda yang mengatakan, "Lebay nyet, lawannya cuma Olympiakos". Jangan ragu untuk membalasnya dengan cerita hebat tentang siklus dari 30 tahun yang lalu. Karang saja sendiri, semakin banyak bumbu semakin bagus. Siapa yang dapat menyalahkan Anda, suporter Man. United terlalu sering dihadapkan pada kenyataan pahit belakangan ini.

Yang justru menarik kekalahan ini berpotensi menjadi cara curang, atau halusnya jalan pintas, Moyes untuk lepas dari tekanan, untuk mendapatkan pengakuan bahwa timnya memiliki DNA "Never Say Die United" yang sama dengan yang dibangun oleh Ferguson. Lalu bagaimana jika gagal? Ternyata Olympiakos justru mendapatkan kemenangan pertama di Old Trafford. Loh, yang seperti itu bukannya sudah biasa. Lagipula ada kesepakatan bersama bahwa Moyes memang pantas ditahbiskan sebagai "Sang Manajer Pemecah Rekor", seperti yang dikatakan Pangeran Siahaan.

Monday, 10 February 2014

Moyes yang Menyilang dengan Salah

Bukan salah jawab, lebih tepatnya salah baca soal

Manchester United kali ini memang tidak kalah, tapi bukan berarti tidak kalah mengecewakan. Bukan karena permainan negatifnya tapi justru karena ketidakmampuan Manchester Merah beradaptasi dengan jalannya pertandingan. Skor akhir tertulis 2-2, dengan gol Darren Bent menceploskan bola ke gawang tanpa kawalan--David De Gea lagi tiduran (jatuh)--di menit 94. 94 dari 95 men!

Jadi begini, bagi yang kebetulan tidak melihat pertandingan melawan tim asuhan Rene Meulensteen, Man. United sama sekali tidak bermain buruk, kecuali lini belakang yang tidak bisa dihitung karena mereka memang buruk sejak awal musim. Penguasaan bola Setan Merah mencapai 75%, mereka melakukan lebih dari 700 operan berbanding 200-an, diantaranya 82 umpan silang harus diakui semua tampak berjalan mulus tapi, dan ini penting, hanya 18 yang mencapai sasaran. Tanpa satu pun yang berhasil dikonversi menjadi gol.

David Moyes mengingatkan saya dengan anak kuliahan yang belajar kebut semalam sebelum ujian. Entah apa yang dan stafnya persiapkan namun mereka tampak tidak punya rencana cadangan. Mungkin mereka terlalu banyak bermain FIFA dan hanya mempelajari satu bab dari sekian banyak yang ditugaskan oleh dosen, mereka tidak menyiapkan jawaban yang cocok dengan pertanyaan dari Pak Dosen Meulensteen, sehingga apa pun soalnya jawabannya selalu, "serang dari samping" atau agar sedikit variasi "umpan silang", meski keduanya toh sama saja, sama-sama salah.

Memang kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Moyes, suksesor Sir Alex Ferguson ini mungkin terpengaruh karena banyaknya jumlah pemain sayap Man. United yang bisa beroperasi sebagai sayap. Lumrah jika eks gaffer Everton itu mengira bermain dari samping berarti mengandalkan umpang silang. Padahal tidak selalu begitu.

Ferguson pun yang identik dengan permainan sayap konvensional pernah memiliki Cristiano Ronaldo, jelas pemain Portugal itu bukan orang yang paling sering mengirim umpan silang, atau formasi tiga penyerang mengandalkan Ronaldo, Wayne Rooney dan Carlos Tevez. Setelah melewati masa David Beckham baru memasuki era Luis Nani, Ashley Young dan Antonio Valencia kemudian Man. United kembali memperbanyak jumlah operan silang mereka. Bukan berarti Moyes harus terpaku pada hal itu.

Ingat, manajer yang baru ini membeli Juan Mata, yang sebenarnya lebih merupakan pemain nomor 10, begitu pun adanya Shinji Kagawa. Mereka bisa menyalurkan bola dari tengah dengan bola-bola pendek mengingat Paul Scholes tidak ada lagi untuk mengirim bola jauh dari belakang mungkin langkah menaikan titik vokal serangan agak ke depan bisa dicoba sebagai variasi.

Sayangnya Mata punya potensi menjadi Juan Veron kedua, setidaknya jika musim depan tidak ada perubahan berarti dari segi taktik. Saya bisa tebak bila Moyes tinggal di Tangerang Selatan dan harus ke Bandung dia akan bersikeras melewati tol JORR meski harus bermacet-macetan karena perbaikan jalan tol sekitar Pasar Minggu, harus ada yang mengingatkannya bahwa sedikit memutar lewat tol dalam kota tak apa, jauh lebih lancar (bukan di jam pulang-pergi kantor), asal mau coba. 

Pada akhirnya, Moyes menyilang jawaban yang salah, karena menjawab soalnya dengan mengisi bundaran yang tersedia, jangan lupa pensil 2B-nya.

Thursday, 2 January 2014

Musim Man. United Buruk? Yang Benar Saja


"Jadi pindah?" "Bebas, gue ngikut aja"
Manchester United adalah Sir Alex Ferguson, cerita sukses mereka memang bisa dirunut dari masa kepemimpinan Sir Matt Busby tapi Man. United tidak akan menjadi brand mendunia jika bukan karena tangan besi penjelajah Skotlandia tersebut, yang pertama disebut, tentu saja. Era Premier League menjadi penanda masa keemasan bagi Setan Merah dan pendukungnya, setidaknya sampai Fergie memutuskan pensiun.

Berganti masa memang tidak mudah, bagi siapa pun, bagi apa pun, sama halnya untuk Man. United. Mengarsiteki klub tersukses di Inggris ini bukan seperti mengganti baterai habis. Satu orang Skotlandia tidak sama dengan orang Skotlandia lainnya. David Moyes “naik jabatan”. Dari seorang kandidat suksesor menjadi pemangku jabatan baru yang meneruskan kiprah Ferguson, setidaknya begitu rencananya.

Tapi nyatanya tidak semudah itu. Semasa jabatannya di Everton memang beberapa kali Moyes menjadi musuh yang sulit ditaklukkan oleh Man. United di Goodison Park. Hanya saja curriculum vitae sependek itu bisa jadi, belum cukup, hal inilah yang ditakutkan oleh suporter, pendukung, penggemar The Red Devils. Toh Moyes memang belum pernah juara apa pun, beda halnya dengan Ferguson kala menginjakkan kaki di Manchester.

Entah keputusan Ferguson menunjuk Moyes benar atau salah, adalah pertanyaan yang sulit, sukar dijawab, bahkan diterawang oleh Mama Lauren sekali pun. Jika dinilai dari setengah musim pertamanya tentu saja jawabannya mantan pemain Glasgow Celtic itu orang yang salah, Old Trafford yang diagung-agungkan menjadi Teater Mimpi Buruk. Namun, saya bosan bicara tentang itu, apabila Anda mencari jawaban, saya punya untuk sementara ini. Bilang saja, “Sir Alex juga ngga langsung sukses kali!”. Padahal kita tahu kondisi saat itu dan ini jauh berbeda, berdoa saja lawan bicara Anda bukan penggemar sejarah sepak bola.

Ini yang coba saya tulis, saya adalah penggemar Man. United walau harus diakui bukan yang paling fanatik. Bagi saya sepak bola terlalu indah untuk ditujukan pada satu klub saja, apalagi yang berada nun jauh di sana. Bukan berarti saya tidak peduli dengan keterpurukan Manchester Merah itu: terancam tidak bermain di Liga Champions musim depan, pertahanannya yang rapuh, bersaing dengan klub yang biasa berada di papan tengah seperti Newcastle United, Everton, Tottenham Hotspur (dengan Tim Sherwood, yang baru beberapa pertandingan menjadi manajer), dan kalah empat kali di Old Trafford pada setengah musim tidak bisa dibilang pengalaman untuk dikenang. Hanya saja, ada hikmah di balik setiap kejadian. Oke, yang barusan itu klise tapi lihat dari sudut pandang ini.

Anda telah dimanjakan oleh Sir Alex. Tidak pernah keluar dari tiga besar sepanjang perjalanan Premier League, curang menurut teman-teman Anda yang pendukung Liverpool. Boleh dibilang seperti memakai gameshark. Meski ada kalanya di awal musim terombang-ambing tapi dalam hati Anda selalu ada rasa nyaman, dari kepastian bahwa Anda percaya Sir Alex mampu dan tidak akan mengecewakan Anda. Well, tidak ada lagi Sir Alex. Tidak ada lagi jaminan prestasi. Apabila Manchester United adalah Sir Alex, maka yang kita tonton setiap pekan di 2013/2014 ini apa? Ini juga Manchester United, yang lebih asik. Lebih gila. Yang bukan membuat Anda berdecak kagum tapi berteriak kesal. “aduh” “yaelah” “kok gitu dah” “EVRA!”, dan lain-lain. Bila sebelumnya Anda menantikan menit-menit akhir sebagai Fergie Time saya yakin kini Anda menjadi was-was ketika Moyes Time tiba.

Daripada menyesali Anda memilih merah sebagai warna Anda, ada cara lain yang lebih mudah. Jangan dilawan. Enam kemenangan berturut-turut bukanlah apa-apa, dulu, manisnya tiga poin hanya dibicarakan ketika melawan empat-lima tim teratas, dulu, tapi kini berhadapan dengan Hull City sudah bisa membuat Anda olahraga jantung. Anda tidak lagi dihibur secara Hollywood dengan happy ending-nya, selamat datang di festival film indie komunitas film pendek antar mahasiswa, yang di dalamnya ada selipan, “idenya bagus nih tapi …”

Anda dihadapkan pada proses, bukan lagi hasil akhir. Anda belum terlambat, lihat proses Adnan Januzaj sebuah bakat bersinar Eropa yang harus bertranformasi dalam tim terpuruk ini, lihat perjalanan karier Shinji Kagawa yang tampil terbatas di tim terpuruk ini, Wayne Rooney yang berkorban menekan egonya dan lebih banyak bermain jemput bola demi tim terpuruk ini, Robin van Persie yang kini mulai cedera di tim terpuruk ini. Catat semua hal-hal yang tidak buruk itu dan rayakan semua kesuksesan kecilnya, cetak gol melawan Newcastle sama manisnya melawan Liverpool, melewati posisi Spurs sama bagusnya menghadapi Chelsea. Semua yang kecil ini menjadi besar sekarang.

Musim yang mengecewakan? Tidak juga. Setiap pekan menjadi pertandingan besar yang pantas dinantikan. Kesalahan apa lagi yang dibuat Jonny Evans Cs. di belakang, masihkah David Moyes ragu memasangkan Kagawa sebagai playmaker, kapan Wilfried Zaha turun sebagai starter, apa jalan keluar yang bisa membuat semua potensi pemain ini menjadi poin-poin berhadiah tiket Liga Champions, semua lelucon ini begitu buruk hingga akhirnya menjadi lucu, pantas ditertawakan. Musim yang menghadirkan senyum tawa, ya, itu dia.

Wednesday, 26 December 2012

Drama Perayaan Natal Manchester United

Dancing through the night

Berbeda dengan liga besar Eropa lain yang memberikan kesempatan berlibur bagi para pemain dan suporter untuk merayakan Natal di rumah maka warga Inggris dan sepak bolanya lebih memilih boxing day. Ada sembilan pertandingan berlangsung dimana dua di antaranya mempertemukan Manchester dan Tyneside.

Di Old Trafford, Newscastle menatap laga tandang tanpa kehadiran pemain andalan seperti Cabaye, Tiote dan Gutierrez ditambah lawannya berstatus sebagai pemuncak klasemen yang menang 15 dari 18 pertandingan mereka kala boxing day, catatan pertandingan sebelumnya antar kedua tim ini berakhir mutlak 0-3 bagi United di St.James Park, keran gol Papis Cisse yang deras pada setengah musim lalu (13) pun mampet hingga separuh musim ini (2), belum selesai disitu, Magpies sudah 2 dekade tidak mencicipi manisnya tiga poin dari Setan Merah. Suram.

Namun semua bisa terjadi bagi mereka yang percaya akan keajaiban Natal dan di mana lagi tempat yang tepat jika bukan di Teater Mimpi. Para pemain Manchester United yang berkostum merah-putih sama seperti Santa pun kian berbaik hati menjamu tamunya. Bermula dari menit 3 saat Chicharito memberikan off-pass kepada Carrick yang tidak bisa mengontrol bola tersebut dan Cisse senang hati menerimanya untuk memberikan sepakan mengarah ke gawang De Donuts yang kemudian memberikan hadiah pertama bagi Newscastle dengan menepis bola langsung ke arah Pearch, 0-1. Benar-benar sebuah hadiah diberikan untuk Pardew dan timnya yang agaknya lebih berniat menumpuk salju di depan gawang Tim Krul demi menghalau gol Man. United seperti terlihat dari penguasaan bola 60%-40% sampai menit ke 5.

Rotasi pemain berjalan buruk untuk tuan rumah. Sisi kiri dan kanan tidak mampu berbuat banyak berhadapan dengan Simpson dan Santon padahal kita tahu tim Ferguson adalah sayap sentris. Buruk di serangan buruk juga di pertahanan. Evra yang penampilannya kian membaik akhir-akhir ini pantas jika dijadikan kambing hitam setelah gol pertama datang dari area pertahanannya justru tidak berada dalam posisi ketika proses gol kedua terjadi. Ketika nasib tampak berpihak kepada United, Evans mencetak gol keduanya dan Mike Dean turut berkontribusi kepada hadiah kedua Newcastle malam ini setelah sebelumnya hakim garis menganulir gol Evans karena Cisse yang berdiri di posisi off-side.

Menjadi perdebatan apakah gol bunuh diri Evans seharusnya dianulir karena kehadiran Cisse yang dianggap “mengganggu” atau tidak ada urusan ketika pemain bunuh diri maka siapa pun yang berada di belakangnya tidak turut dihitung berperan serta. Saya lebih setuju dengan Paul Masefield yang mengatakan “That’s a disgrace decision”. Terima tidak terima pertandingan akan terus berjalan dan dua kado natal Newscastle di tanah Manchester mungkin saja hari ini Alan Pardew tidak pulang dengan tangan hampa.

Tapi, bung, itu babak pertama.

Paruh kedua laga di OT semua berada pada tempatnya bagi Fergie. Percaya atau tidak, ditandai dengan berhentinya hujan. Sempat mengejar 2-2 dari tendangan akurat kapten United namun lini belakang kembali terbuai sehingga memberikan 1 gol lagi bagi Newscastle ketika Cisse berlari bebas tanpa pengawalan Evra, Scholes maupun Evans menjadi kado Natal terakhir yang mereka bawa pulang dari Manchester. Bangku cadangan cepat merespon saat Cleverley yang permainannya lebih dinamis masuk menggantikan Scholes dan Valencia semakin cepat mengalirkan bola ke depan membuat serangan United lebih tajam suplai bola ke Robin van Persie dan Chicharito juga kian melimpah.

Efeknya terasa ketika pergerakan United lancar seperti piston mobil yang baru ganti oli. Tidak perlu menunggu lama bagi United saat tembakan keras RvP menjadi skor ketiga mereka dan gol Chicharito entah sengaja disimpan untuk saat-saat terakhir atau memang sial, kesempatan demi kesempatan belum berhasil di konversi si kacang polong menjadi gol. 4 tembakan dihasilkan penyerang Meksiko ini dan 2 diantaranya mengarah ke gawang Newcastle hanya untuk ditangkap atau terhalang pemain bertahan Newcastle.

Memasuki Fergie’s Time Javier Hernandez mendapat tembakan kelima dan menghabiskan setengah dari seluruh kuota tembakan mengarah ke gawang United saat striker oportunis ini memasukan bola yang mendekatkan Ferguson’s hatchling ke gelar 20 mereka sebagai juara Inggris!

Punchline dari Santa Klaus: Sunderland 1-0 City, gol dari Adam Johnson. Selamat Natal semua!

Sunday, 23 September 2012

Menanti Pengganti Sang Jendral United

There's only one Keano

Pahlawan seringkali diingat untuk jasa-jasanya. Pahlawan sering dirindukan disaat susah oleh mereka yang membutuhkan. Agaknya pahlawan yang satu ini pun menjadi sosok yang sedang dicari-cari oleh Sir Alex untuk melengkapi potongan yang hilang dalam puzzle komposisi pemain Manchester United.

Sang mantan petinju amatir yang telah menekuni olahraga adu pukul sejak umur 9 tahun ini berasal dari keluarga kelas pekerja di Mayfield daerah suburb Cork, Irlandia. Tidak heran latar belakangnya tersebut membentuk kepribadiannya yang terkenal emosional.

Beranjak dewasa, Roy Maurice Keane, ternyata lebih menunjukkan bakat di sepakbola. Kapten Manchester United sepeninggal Eric Cantona memang identik dengan klub merah Manchester walau dia sebenarnya mengawali karir sepakbola profesional EPL dari Nottingham Forest dan menyelesaikannya di klub yang dia idolai sejak kecil, Glasgow Celtic.

Mengumumkan pensiun dari sepakbola saat bermain di klub ibukota Irlandia tersebut sejak 2006 Roy Keane telah beberapa kali mencoba peruntungan untuk menjadi manajer di Liga Inggris, sayangnya belum ada yang dapat dikatakan sukses. Walau begitu karirnya sebagai kapten Setan Merah tidak berbanding lurus dengan karir manajerialnya. Keane dapat digolongkan sebagai pemain sukses, pemain yang sulit dilupakan, uniknya bukan karena kemampuan mengolah bola yang dia miliki tetapi karena karakteristiknya yang begitu menonjol sebagai jendral lapangan tengah United.

Apa yang kita ingat dari pemain bernomor punggung 16? Dia merupakan orang yang temperamen, bila kita bertanya kepada Alfie Haaland mungkin dia akan mengatakan Keane sebagai pendendam terburuk yang pernah dia temui,  dia jelas tidak sungkan untuk mengkritik rekan setim, si kapten juga terkenal untuk gol inspiratif pada laga tandang di Turin saat Treble 1998/1999 silam, sedikit yang kita ketahui dia juga ternyata penyayang binatang—silahkan googling tentang Triggs. Pernah suatu saat Stephen Hawking terlihat berlari layaknya orang sehat dan tidak menggunakan “kursi santai”nya lalu seseorang bertanya bagaimana hal itu bisa terjadi? Dia baru saja bertemu Roy Keane, dia tidak suka dengan suaranya dan dengan satu gebrakan meja saya melihat apa yang anda lihat.

Singkatnya Roy Keane adalah pria yang tidak bisa diam, tidak bisa jauh dari berita, baik atau (seringkali) buruk. Walau begitu  Manchester United lebih membutuhkan sosoknya lebih dari apapun saat ini, anak asuh Sir Alex butuh pemain yang sanggup mengatakan, “Woy jing! Main lu jelek!” untuk menyadarkan bahwa mereka sejatinya adalah juara dan selalu dituntut untuk bermain layaknya juara dan juara tidak membiarkan permainannya didominasi seperti yang dilakukan oleh Gerrard, Allen dan Shelvey. Yang pertama disebut baru saja mengalami malam yang emosional dengan memperingati Hillsborough karena sepupunya menjadi korban kala itu, pada pertandingan ini dia pun mencetak gol pertama pemberi harapan namun sayang semua usaha kapten Liverpool itu digagalkan oleh Mark Halsey.

Peluit akhir pertandingan menyatakan tim tamu meraup tiga poin di Anfield dengan catatan permainan mereka sungguh tidak memuaskan, nyatanya Liverpool lebih menguasai pertandingan walau harus bermain dengan sepuluh orang sejak Foster Adams mentekel dua kaki Evans saat berebut bola 50-50 di akhir babak pertama. Statistik Whoscored.com menyatakan Si Bangau unggul dalam penguasaan bola sebesar 52% dengan 14 tembakan 6 diantaranya mengarah ke gawang Lindegaard. Di sisi lawan MU hanya berhasil melakukan 3 tembakan ke gawang, setengah dari yang tuan rumah lakukan.

Bukan hal yang baru bahwa Manchester United memiliki kelemahan sepeninggal Roy Keane untuk sektor perebutan bola di tengh lapangan. Masuknya Hargreaves pada tahun 2007 sempat memberi angin segar untuk Rooney cs namun sayang dia memiliki kaki kaca. Harapan kemudian berlanjut dengan performa Darren Fletcher tetapi belakangan pria Skotlandia harus beristirahat satu musim penuh dan belum ada kepastian apakah dia akan kembali mencapai puncak permainannya kembali. Carrick yang diproyeksikan di posisi Keane tampak tidak bisa berperan seperti pendahulunya tersebut, pemberian nomor punggung 16 pun tidak banyak membantu juga memungkiri keadaan bahwa yang menjadi faktor pembeda Keane bukanlah kemampuan bermain bolanya tetapi jiwa kepemimpinan yang dimilikinya. Fakta di lapangan membuktikan Keane sering membuat onar tetapi terkadang aura intimidatif tersebut mampu menjadi nilai positif tergantung darimana anda melihatnya.

Musim baru berlanjut, puluhan juta poundsterling telah digelontorkan runner up EPL musim lalu. Kagawa, Buttner dan Van Persie membuktikan mereka sanggup memberi kontribusi. Bukan berarti masalah lama Man.United akan terselesaikan dengan hal ini, kebutuhan United akan ball winner akan tetap mengganggu mereka.

Sampai sekarang kehadiran Robin Van Persie masih membawa keberuntungan untuk Red Devils tetapi di saat bersamaan “keberuntungan” belum bertemu dengan musuh bebuyutannya, Yaya Toure.

Wednesday, 22 August 2012

Gingham: Beli atau Tidak

From the mills of Manchester

Musim baru, Liga Inggris 2012/2013.

Tradisi membeli baju baru saat lebaran itu hal biasa. Kini ada tradisi lain, membeli jersey di musim baru justru lebih penting. Namun terkadang ada saat dimana momen seperti ini muncul, “Serius nih desain musim ini kayak begini? Beli ngga ya?”

Jersey baru MU dengan motif kotak-kotak mengundang arus deras kritik dari berbagai arah setara arus mudik kemarin. Kritik tersebut ternyata tidak berhenti disitu. Sudah terjatuh tertimpa tangga pula, seperti belum cukup Manchester United justru menambahnya dengan penampilan buruk mereka di Goodisan Park.

Menghadirkan motif kotak-kotak membuat banyak orang mengira pembuatannya diinpirasi oleh kilt asal Skotlandia untuk menghormati 25 tahun pengabdian Sir Alex Ferguson terhadap Manchester United. Untungnya bukan.

Bahkan pamor jersey Home MU musim ini mampu mengalihkan perhatian para penggila bola dari jersey Away FC Barcelona yang membuat saya membayangkan fruit punch perpaduan lemon dan jeruk ala resor liburan pulau tropis. Tinggal tambahkan kepala Messi diatasnya, lengkap.

Biasanya disebut Gingham. Dari namanya sangat british kan? Tapi asalnya lebih dekat dari yang kita kira. Gingham ini berasal dari bahasa Melayu, genggang, garis-garis membentuk motif taplak meja pada tim yang kini juga menjadikan George Soros sebagai investor tersebut. Dibawa oleh para orang Belanda dari Asia Tenggara ke Eropa, Inggris tepatnya, dan semenjak pertengahan abad ke 18 diproduksi di kota Manchester.

Kembali ke pertanyaan awal, “Beli ngga ya?” Lalu dengan cepat akan ada saja jawaban seperti “Belilah! yang penting kan klubnya!”. Tunggu dulu. Cara berpikir seperti itu juga salah. Jangankan mengurangi beban hutang Glazer di MU, duit tersebut paling jauh berputar di agan penyebar BM kan? Lagipula kita ini bagian dari ekosistem kapitalis brand olahraga terbesar yang sanggup mencopot “football club” dari lambangnya. Kita bukan warga asli Manchester, kita angka statistik penjualan mereka. Bukan saja MU tapi semua klub sepakbola negara dunia pertama.

Kalau begitu, tidak ada gunanya mendukung klub Eropa tersebut bila kita hanya angka statistik? Itu tergantung, boleh ya boleh tidak. Bagi saya beruntung ada yang namanya perspektif. Dari sudut pandang saya, Manchester United adalah klub yang saya idolakan. Titik.

Jadi, beli Gingham warna merah? Err....mungkin lebih baik saya ambil jersey Away. Versi Thailand.

Thursday, 16 August 2012

Bla..bla..bla..Van Persie..

Sooner or later, its his time to leave

JEGER!! Van Persie ke MU. Sebegitu mengagetkankah?

Adisi baru Manchester United ini bukan benar-benar hal yang mengejutkan mengingat SAF telah menunjukkan niat pembeliannya beberapa waktu lalu. Lagipula Wenger sendiri yang telah memberikan ban kapten kepada Van Persie. Dalam bahasa Arsenal, itu merupakan kode sebagai available players untuk musim selanjutnya.

Van Persie, top-skorer EPL musim lalu dengan torehan 30 gol di Arsenal kini mengikuti langkah Nasri dkk dan semakin mengukuhkan status Arsenal sebagai sekolah sepakbola Liga Inggris terbaik. Kini, rivalnya atau dulunya rival, Manchester United, bila nantinya berhasil mendapat tanda tangan RvP akan mengumpulkan pemain-pemain yang mengisi lini depan dengan striking force yang tidak dapat diremehkan. Tapi apa MU benar-benar membutuhkan Robin Van Persie?

Musim lalu menjadi kekalahan SAF yang mungkin paling menyakitkan selama karir manajerialnya. Kalah dengan cara paling menyakitkan yang dapat anda bayangkan dan dalam urusan mencetak gol. Seberapa sering anda mendengar hal tersebut? United pada musim lalu memang agak hambar dengan kesempatan yang mereka buat tetapi tidak mampu menuntaskan pekerjaan mereka, mungkin itu yang menjadi dasar pembelian RvP.

Well, diatas kertas Rooney hanya tertinggal 3 gol dibelakang striker anyar MU ini dengan matematika dasar setidaknya mereka berdua mampu memberikan jaminan 50 gol ditambah lini kedua seperti Kagawa, Nani, Young, Valencia, Cleverley dan lainnya. Langkah yang logis tetapi rasanya tidak seperti Manchester United.

Sekarang pertanyaannya apa yang terkenal dari Manchester United? Selain malam di Barcelona tahun 1999 kita juga akrab dengan youth player policy MU. Pembelian Da Silva, Phil Jones, Smalling, Hernandez,Powell hingga keberadaan Welbeck dan Cleverley cukup menjadi bukti. Lalu dengan kehadiran Van Persie fans MU sah-sah saja mempertanyakan kesempatan bermain bagi Hernandez dan Welbeck.

Dengan menghitung striker terbaik mereka ada empat nama yang akan bersaing. Rooney, Welbeck, Hernandez dan Van Persie tetapi Rooney seperti yang kita tahu menjadi pemain yang tidak mungkin diganti dan Van Persie, sulit, dia juga pembelian instan artinya bila menit bermain lebih banyak diberikan untuk dia menyisakan Welbeck lebih banyak bermain di sayap seperti yang beberapa kali sudah kita lihat dan Hernandez, jujur saja dia mungkin akan diturunkan sebagai opsi c, “super sub”. Kedatangan pemain yang gagal total di Euro 2012 ini pastinya akan sangat memotong menit bermain kedua pemain muda tersebut.

Menurut saya (mungkin juga banyak orang), sektor tengah United bisa mendapat lebih banyak perhatian, Luka Modric misalnya? Toh harganya tidak jauh berbeda karena dibandingkan dengan bangku cadangan Real Madrid, MU jelas lebih membutuhkan jasanya. Dan jangan sebut-sebut sektor bek kiri.

Setelah mencoba melihat dari berbagai sisi tentang kedatangan Van Persie, yang biayanya dapat dipergunakan untuk hal lain, saya tidak menemukan hal lain kecuali bahwa ini adalah jawaban dari ancaman kekuatan Manchester City.

Di Inggris bakat muda tidaklah menjanjikan. Anda dapat membaca kolom dari Andy Cole di FFT Indonesia bulan Agustus yang mengatakan Inggris sudah ketinggalan jaman. Sebagai perbandingan Spanyol memiliki jumlah pelatih pemain muda 10 kali lebih banyak dibanding Inggris. Menurutnya, Inggris merupakan negara yang kaku mengenai ini (pembinaan bakat) menyebabkan pemain muda menjadi barang langka (juga mahal) dan saat komoditas langka ini muncul kita tahu Arsenal selalu bergerak lebih cepat dari MU.

Tidak heran bila akhirnya United mengeyampingkan prinsip mereka untuk sesaat. Kalah sekali dari tetangga biru muda sudah menyakitkan apalagi bila mereka harus berada dalam masa kejayaan Manchester City dan harus puas kembali sebagai nomor dua.

United memerlukan jasa Robin Van Persie, United perlu striker matang yang berada dalam saat-saat puncaknya dan seiring sinar Van  Persie meredup akan tibalah giliran DW9.